Imaamul Muslimin: Tindakan Bom di Kawasan Masjid Nabawi Biadab

Jakarta, 30 Ramadhan 1437/5 Juli 2016 (MINA) –  Imaamul Muslimin Yakhsyallah Mansur menyatakan, tindakan bom bunuh diri yang mengguncang kawasan Masjid Nabawi di Kota Madinah, Senin (4/7/2016) malam, adalah tindakan biadab.

“Apapun alasannya tindakan itu sungguh biadab, dan tidak sesuai dengan Islam,” ujar Imaam Yakhsyallah kepada Mi’raj Islamic News Agency, Selasa (5/7/2016) dini hari.

Menurutnya, ini merupakan betapa fitnah terhadap umat Islam sudah begitu dahsyatnya, sampai-sampai terjadi bom pada bulan suci Ramadhan, di tanah suci Madinah dan tentu akan menimpa orang-orang yang sedang beribadah di tempat suci.

“Namun kita umat Islam juga jangan sampai terprovokasi dan jangan cepat menuduh dari kelompok mana pelakunya,” ujarnya.

Imaam Yakhsyallah menambahkan, agar umat Islam justru semakin konsisten melaksanakan pertintah Allah dan Rasul-Nya, kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah serta semakin menjalin persatuan umat Islam.

“Tetaplah bersabar, menguatkan kesabaran dan tetap bersiap siaga dan bertakwa”, ujar Imaam Yakhsyallah, membacakan Surat Ali Imran 200.

Ia juga mengingatkan, agar orang-orang beriman tidak menjadikan teman kepercayaan itu dari luar kalangan orang beriman. Sebab di luar orang beriman itu hanya akan tidak henti-hentinya menimbulkan kemudharatan bagi Mukminin, paparnya, menyampaikan makna surat Ali Imran ayat 118.

“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu.,” surat Ali Imran ayat 120 menyebutkan, seperti dikutipnya.

Menurutnya, yang lebih penting adalah justru mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut. Bahwa sebenarnya itu dapat menjadi pertanda bangkitnya umat Islam. Sebab, agama-agama di luar Islam memang ternyata tidak bisa memberikan solusi terbaik problematikan umat manusia.

“Selalu berpikir posiif, bahwa semakin banyak cobaan hakikatnya adalah semakin dekatnya pertolongan Allah,” imbuhnya.

Ia menggambarkan seperti saat kaum Muslimin menghadapi musuh-musuh Islam yang bersekutu dalam Perang Ahzab. “Justru di situlah datang petolongan Allah,” tegasnya.

Seperti ketika ibu hami hendak melahirkan. Ia merasakan sakit yang begitu memuncak, dan itu tanda lahir segera tiba. Begitu kondisi umat Islam saat ini, pungkasnya. (L/P4/P2)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)