Imad Gugur Memenuhi Keinginannya Menjadi Syahid

Nablus, MINA – Sebuah peristiwa yang mengharukan, pemuda Palestina Imad Khaled Hashash (17 tahun) yang tinggal kamp pengungsi Balata, timur Nablus, di Tepi Barat gugur oleh peluru penembak jitu tentara Israel, Selasa (24/8).

Pagi itu Saleh sang adik, memeluk tubuh kakaknya, Imad yang terbaring di ranjang rumah sakit dalam kondisi tak bernyawa. Saleh bergumam dengan suara terbata-terbata yang tak jelas didengar oleh orang-orang di sekitarnya.

Imad, yang ibunya telah meninggal ketika dirinya masih berusia dua tahun ini, menjadi martir oleh peluru pendudukan Israel di usianya yang masih muda.

Imad gugur saat waktu fajar pada Selasa kemarin, oleh penembak jitu Israel, dalam bentrokan bersenjata antara pejuang perlawanan dan pasukan pendudukan, yang menyerbu kamp pengungsi Balata, timur Nablus, di Tepi Barat yang diduduki utara, untuk menangkap seorang pemuda.

Pagi itu saat adzan subuh berkumandang, sebuah peluru mengenai wajah Imad dan meledakkan otaknya, sehingga ia tewas, berlumuran darah di atap rumahnya.

Sebelum upacara pemakaman dilakukan, puluhan pemuda dan anak laki-laki berkumpul di sekitar genangan darah di pintu masuk ke rumah keluarga korban di lingkungan Al-Hashashin di kamp, ​​​​masing-masing menceritakan yang dialaminya saat-waktu fajar kemarin itu.

Saudaranya Omar mengatakan, bahwa pagi itu Imad naik ke atap rumah mereka untuk melihat apa yang terjadi selama tentara pendudukan Israel menyerbu kamp.

“Saya mengikuti Imad ke atap dan mengingatkan untuk turun karena takut terjadi apa-apa padanya, dan dia mengikuti permintaan saya, tetapi dia kembali ke atap ketika suasana sudah dan dia berpikir bahwa tentara pendudukan telah mundur,” katanya.

Saudara lainnya, Saleh mengatakan, saat itu Imad sedang berdiri di antara tangki air di atap rumahnya dan tiba-tiba terdengar suara tembakan. Dia mengangkat kepalanya untuk melihat, tapi kemudian peluru penembak jitu mengenai kepalanya dari bagian hidung dan tembus keluar kebelakang.

Saudara-saudara lainnya naik ke atap dan dan mendapati Imad tergeletak, dan mereka mencoba mengangkatnya, sampai bagian otaknya jatuh berceceran ke tanah.

Pada saat pelepasan jenazah Imad, air mata mengalir dari semua yang hadir, termasuk enam saudara laki-laki dan empat saudara perempuannya.

Tanda-tanda kesedihan sngat nampak terlihat di wajah sangat ayah, saat dia berbicara tentang saat-saat terakhir kehidupan putranya.

“Imad selalu menginginkan kesyahidan, dan dia selalu mengatakan kepada saya bahwa saya ingin menjadi syahid,” ungkapnya.

Menurut sang ayah, setengah jam sebelum kematiannya, sempat berbicara dengannya, dan dia berkata, saya ingin menikahi Yaba, tunangannya. Lalu dia naik ke atap dan menjadi martir.

Setelah kematiannya, kerumunan warga berkeliaran di jalan-jalan dan gang-gang kamp, ​​meneriakkan slogan-slogan kemarahan, menuntut tanggapan atas kejahatan pendudukan.

Adapun saudara-saudara Imad, mereka membagikan permen segera setelah kematiannya diumumkan.

“Ini merupakan kebanggaan bagi keluarganya, kampnya, dan rakyatnya,” kata Shaker Hashash, seorang anggota keluarga.

“Kami tidak berduka atas kematiannya, kami membagikan permen sebagai ekspresi kebanggaan dan kebanggaan, dan penegasan bahwa rakyat kami memiliki kemampuan untuk melanjutkan perjuangan sampai kemenangan dan pembebasan,” katanya seperti dikutip Safa.

“Kematian ini mengembalikan martabat dan harga dirinya ke kamp Balata, dan dia menjadi kebanggaan penghuni kamp, ​​karena dia adalah sebuah episode dalam rangkaian pengorbanan untuk kamp ini,” tambahnya.

Hashash menolak tuduhan pendudukan, yang mengklaim bahwa tentaranya menembak Imad ketika dia mencoba melemparkan batu besar ke arah mereka.

“Pendudukan ini mengambil kesenangan dalam membunuh putra-putra kami, dan itu harus dikekang dan diakhiri,” kata Hashash. (T/B04/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)