Imam dan Qori Muda Ditikam Hingga Meninggal di London Timur

(Foto: mylondon.news)

London, MINA –  Mohammed Aqil Mehdi (22), seorang Imam dan Qori muda,  ditikam sampai meninggal pada Sabtu (6/11) dini hari di  Navigation Road, Tower Hamlets, London Timur.

“Inna lillahi wa Inna ilaihi raaji’un. Dengan sangat berat hati saya mengumumkan meninggalnya murid tersayang saya, Hafidh Mohammed Aqil Mehdi. Baru berusia 22 tahun, dia ditikam sampai meninggal pada Sabtu dini hari di London Timur,” kata Guru Quran Muhammad, Ishaaq Abu Rahmiyyah Jasat di laman Facebook-nya, sebagaimana dikutip dari 5Pillarsuk, Senin (8/11).

Layanan Ambulans London juga telah dipanggil, namun petugas yang datang dengan paramedis tetap tidak dapat menyelamatkannya.

Investigasi pembunuhan telah diluncurkan setelah penusukan fatal itu.

Keluarga terdekat Mohammed telah diberitahu dan didukung oleh petugas spesialis. Pemeriksaan post-mortem akan diatur pada waktunya.

Penyelidikan dipimpin oleh detektif pembunuhan dari Specialist Crime, meskipun belum ada penangkapan pada tahap ini.

Guru Quran Muhammad, Ishaaq Abu Rahmiyyah Jasat melalui laman Facebook nya menceritakan sosok Mohammed Aqil Mehdi (22), dia merupakan murid yang sangat istimewa.

“Hafidh Aqil adalah murid saya yang sangat istimewa yang saya telah mendapatkan kesempatan untuk mengajar dan membimbingnya selama 10 tahun terakhir. Kata-kata tidak bisa menggambarkan betapa berartinya dia bagi saya. Dia selalu berusaha dan unggul dalam perjalanan Al-Qur’an, belajar dan tinggal dengan berbagai guru di Mesir juga,” ujar Ishaaq.

Ishaaq mengatakan, ibunya adalah seorang guru mengajar Al-Quran yang berpengalaman dan selalu berusaha keras di belakang putranya. Setiap tahun selama sepuluh tahun terakhir, ibunya menghubungi Ishaaq dan memintanya untuk membantu mengamankan penempatan Hafidh Aqil saat Tarawih.

“Alhamdulillah, dia telah memimpin shalat Tarawih bersama pada beberapa kesempatan. Dia selalu membacakan dengan nada yang begitu indah, merdu dan menenangkan. Saya tidak akan pernah bosan mendengarkan Al-Qur’annya. Alhamdulillah, saya berkesempatan untuk memimpin sholat Tarawih bersama Hafidh Aqil untuk terakhir kalinya di tahun ini di bulan Ramadhan,” katanya.

Seperti kebanyakan pemuda saat ini, kata Ishaaq, Hafidh Aqil juga menghadapi banyak perjuangan di akhir masa remajanya. Tapi dia sangat mencintai Al-Qur’an. Dia tidak pernah takut untuk mengembangkan dirinya sebagai seorang qori dan secara teratur akan meminta nasihat kepadanya.

“Faktanya, dia telah menghubungi saya melalui WhatsApp beberapa pekan yang lalu menanyakan kabar saya. Dia akan selalu mengirimi saya pesan atau pesan suara yang menanyakan kabar saya dan meminta untuk berdoa untuknya. Terlepas dari kesulitannya, dia selalu memiliki hati yang baik dan sangat peduli pada orang lain,” ujar Ishaaq.

“Semoga Yang Mahakuasa memberinya status Jannah tertinggi dan menerima usahanya untuk Al-Qur’an. Tolong jaga Hafidh Aqil dan keluarganya dalam doa-doa Anda,” imbuhnya.

Sementara aktivis Muslim Taji Mustafa, yang merupakan teman keluarga Muhammad, mengatakan, Aqil muda adalah salah satu tim imam yang berdedikasi yang memimpin salat di bulan Ramadhan tahun ini di Masjid lokal saya.

“Semoga Allah merahmatinya, memaafkannya, melindunginya dari semua hukuman dan memberinya Jannah firdaus. Semoga Allah memberikan kesabaran dan kenyamanan kepada ibu dan saudara-saudaranya tersayang,” kata Taji. (T/R6/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)