Impian Pemuda Gaza Hancur di Ambang Pernikahan

Walid Al Shawi duduk meratapi kehancuran apartemennya yang dibom pesawat Israel, 25 Maret 2019. (Foto: Mohammed Al-Hajjar)

Walid Al-Shawa memimpikan masa depan yang cerah ketika dia masih muda. Namun, kehidupan orang dewasa telah berubah menjadi kejam meskipun bertahun-tahun dibuat perencanaan.

Sejak kecil, Walid menghabiskan 10 tahun untuk berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Pekerjaan permanen berada di luar jangkauan komunitas Gaza yang diblokade, yang menderita penutupan lembaga industri dan komersial.

Masa depannya menjadi lebih suram ketika pasukan Israel menghancurkan rumahnya pada bulan Maret lalu, hanya tiga pekan sebelum dia akan menikah.

Pada 25 Maret 2019, ia menghabiskan malam yang menyenangkan bersama tunangannya, Naela Al-Jalis, di rumahnya di lingkungan Al-Shujaiyeh di Gaza City.

Ketika calon pengantin itu duduk bersiap untuk makan malam, ibu Walid memanggil, merusak momen bahagia itu.

Sang Ibu meminta Walid untuk pulang ke lingkungan di Al-Rimal di kota karena seluruh lingkungan sedang dievakuasi. Ada ancaman Israel akan menembaki sebuah bangunan terdekat yang digunakan oleh otoritas Gaza.

Walid dengan cepat pulang, sampai ke lingkungan dalam empat menit. Dia memandangi apartemen kecilnya yang telah dia bagi dengan saudara perempuannya, Hiba dan keempat anaknya. Ia merasa bingung, dia membayangkan bagaimana itu bisa dihancurkan di depan matanya dan bagaimana dia dan Naela tidak akan bisa pindah setelah pernikahan mereka.

Pada saat itu, dia merasakan prospek hidupnya dalam kekacauan.

Sepuluh menit setelah kedatangannya, rudal “peringatan” mulai berjatuhan. Daerah sekitarnya berulang kali dibombardir. Bangunan apartemen itu dihantam oleh delapan rudal.

Akhirnya, bangunan empat lantai dan delapan unit apartemen tempat dia tinggal runtuh.

“Saya merasa kehilangan moral. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya kehilangan masa depan saya. Ketika saya melihat rumah saya yang hancur, rasanya seperti ditusuk dalam hati,” kata Walid.

Yatim pada usia 12

Walid yang kini berusia 26 tahun, kehilangan ayahnya saat berusia 12 tahun. Ayahnya lama dalam kesehatan yang buruk, tetapi selamat dari serangan jantung hanya setahun setelah kelahiran Walid.

Dihadapkan dengan kehilangan yang sangat besar pada usia dini, Walid bekerja keras sebagai remaja untuk memberi makan keluarganya. Dia menyelesaikan tahun pertama sekolah menengahnya dan kemudian mulai bekerja untuk membantu keluarganya secara finansial.

“Saya bekerja di pekerjaan yang berbeda: pekerja di restoran, sebagai penjual sayuran, di toko pakaian dan di bisnis pemolesan furnitur. Sekarang saya bekerja sebagai supir taksi. Sejak saya berusia 22 tahun, saya mengatur hidup dan perencanaan untuk menikah, stabilitas dan membangun keluarga untuk mengatasi menjadi yatim selama masa kecil saya,” ujarnya.

Namun, rencananya terlempar keluar jalur oleh pasukan Israel di luar kendalinya.

“Pesawat pendudukan tidak peduli apakah saya ingin menikah atau tidak. Kejahatan saya adalah tinggal di Gaza. Ke mana pun saya pergi, saya menjadi sasaran bahaya,” katanya.

Warisan satu-satunya

Barang paling penting yang diwarisi Walid dari ayahnya adalah apartemen. Selama enam bulan, ia melengkapinya untuk persiapan pernikahannya.

Beberapa hari sebelum hancurnya apartemennya, tunangannya membawa harta miliknya, termasuk pakaian dan perhiasan, untuk memulai kehidupan pernikahannya yang sudah dinanti-nantikan. Walid menghabiskan 2.800 dolar untuk biaya pernikahan.

“Semua ini dihancurkan dan sekarang berada di bawah puing-puing. Saya tidak menemukan apa pun,” katanya sedih.

Kemunduran bukan hal baru bagi Walid. Ayahnya yang menderita penyakit jantung selama 13 tahun, bekerja sebagai pegawai Otoritas Palestina. Ketika dia meninggal, istrinya Hanan, sekarang berusia 55 tahun, dibayar 150 dolar setiap bulan dari gaji suaminya yang sudah meninggal. Namun, uang itu tidak mencukupi.

Hanan mengatakan kepada The Electronic Intifada bahwa keluarga itu adalah keluarga yang rendah hati dan tidak banyak kenalan atau jaringan.

“Ketika Walid bertunangan, dia tidak memberi tahu keluarga besar kami,” katanya. “Tapi tak lama sebelum tanggal (pernikahan), dia memberi tahu kerabat dan kenalan kami untuk mempersiapkan diri untuk pernikahan. Mereka hampir tidak bisa mempercayainya. Namun sekarang, mimpinya hancur. Itu kejam baginya.”

Tanggal pernikahan 17 April yang direncanakan Walid telah datang dan pergi.

Hanan tidak tahu apakah Walid dan Naela akan menikah setelah syok akan kehancuran itu.

Sementara itu, Walid berusaha untuk tetap tabah, berharap mengatur kembali tanggal pernikahannya.

Namun, keraguan merasuki Walid. Dia bertanya-tanya apakah mimpinya masih dapat terwujud setelah begitu banyak kerja keras, pengorbanan dan kemunduran karena kehilangan rumah akibat serangan itu. Sementara saudara perempuannya yang ketakutan menyelamatkan diri di malam itu bersama anak-anaknya ke tempat yang relatif aman, di rumah sakit Al-Shifa.

Mereka semua – Walid, Hiba dan keempat anaknya – sekarang bersama di apartemen sewaan sementara.

Tidak sendirian

Adiknya Hiba mencoba menghibur Walid. Anak-anaknya juga menderita setelah kehancuran apartemen.

“Saya melihat keempat anak saya menangisi mainannya yang hilang,” kata Hiba. “Saya tidak tahu bagaimana pendapat tentara Israel. Saat pasukan mereka menargetkan kami, mereka menembaki impian kami. Seolah-olah mereka tidak ingin kita bernafas.”

Walid dan keluarganya tidak sendirian. Lembaga pemantau Al Mezan telah mencatat bahwa 41 orang dari sembilan keluarga mengungsi dalam serangan terhadap bangunan tempat tinggal itu, termasuk 25 anak-anak.

Pasukan pendudukan Israel melancarkan lebih dari 23 serangan udara selama pengeboman pada 25 Maret dan awal hari berikutnya. Sekitar 72 rudal ditembakkan ke wilayah padat penduduk.

Kehilangan terakhir membawa kembali kenangan bagi Walid dan keluarganya tentang kehancuran yang lebih luas di Gaza pada 2014, ketika agresi Israel menyebabkan kehancuran yang luas.

Pada puncak pertempuran pada tahun 2014, hampir 485.000 orang di Gaza, 28 persen dari populasi, mengungsi dari rumah mereka. Lebih dari 19.000 rumah hancur atau tidak layak untuk ditinggali dan sekitar 100.000 orang kehilangan tempat tinggal selama setidaknya 12 bulan.

Kerugian tahun ini berada pada skala yang jauh lebih kecil. Tetapi bagi Walid dan keluarganya, secara pribadi menimbulkan kemunduran yang sangat besar dan menimbulkan pertanyaan mendalam tentang masa depan mereka. (AT/RI-1/P2)

 

Sumber: tulisan jurnalis Gaza Amjad Ayman Yaghi di The Electronic Intifada

 

Mi’raj News Agency (MINA)