Indahnya Mencintai Nabi Muhammad

Oleh: Zaenal Muttaqin, wartawan MINA

“Ya Rasulullah, sungguh engkau lebih kucintai daripada diriku dan anakku,“ kata seorang sahabat suatu hari kepada Nabi Rasulullah Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam. “Apabila aku berada di rumah, lalu kemudian teringat kepadamu, maka aku tak akan tahan meredam rasa rinduku sampai aku datang dan memandang wajahmu”.

“Tapi apabila aku teringat pada mati, aku merasa sangat sedih, karena aku tahu bahwa engkau pasti akan masuk ke dalam surga dan berkumpul bersama nabi-nabi yang lain. Sementara aku apabila ditakdirkan masuk ke dalam surga, aku khawatir tak akan bisa lagi melihat wajahmu, karena derajatku jauh lebih rendah dari derajatmu,” kata sahabat itu lagi.

Mendengar kata-kata sahabat yang demikian mengharukan hati itu, Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam tidak langsung menjawab, sampai malaikat Jibril turun dan membawa firman Allah berikut:

وَمَنۡ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓٮِٕكَ مَعَ الَّذِيۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰهُ عَلَيۡهِمۡ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيۡقِيۡنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصّٰلِحِيۡنَ‌ ۚ وَحَسُنَ اُولٰٓٮِٕكَ رَفِيۡقًا ؕ‏

Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah; yaitu nabi-nabi, para shiddiqin, syuhada dan orang-orang yang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya (QS. 4:69)

Riwayat tersebut menunjukkan batapa cintanya sahabat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam. Mencintai Rasulullah menjadi sebuah keharusan dalam iman. Ia menjadi prinsip, bukan opsi atau pilihan yang notabenenya adalah mau atau tidak.

Sesorang Muslim harus menyimpan rasa cinta kepada Nabinya, seberapapun kecilnya. Idealnya ia mencintainya lebih dari segala sesuatu yang ia miliki, bahkan dirinya dan itulah pada hakikatnya iman yang paling sempurna.

Alasan Mencintai Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam

Mencintai sesuatu tentu ada alasannnya, termasuk mencintai Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasalam. Alasan itu biasanya berkaitan dengan sosok yang dicintainya. Sebab, makin sempurna orang yang dicintai, maka di situlah tempat tumbuhnya kecintaan.

Sedangkan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam adalah manusia yang paling luar biasa dan sempurna dalam akhlaq, kepribadian, sifat dan dzatnya.

Di antara sifat beliau adalah begitu perhatian pada umatnya, begitu lembut dan kasih sayang pada mereka. Sebagaimana Allah mensifati beliau dalam firman-Nya,

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

”Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At Taubah: 128)

Kemudian cinta kepada Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam akan memberikan faedah atau adanya mafaat yang akan diperolehnya. Yakni, bahwa buah dari Mencintai Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam.

Barang siapa yang mengikuti beliau Shallallahu ’alaihi wa sallam (ittiba’), maka Allah akan mencintai dan mengampuni dosa-dosanya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

”Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)

Tidak bisa diambil manfaat dari kecintaan Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam kecuali bagi siapa yang mencintai beliau. Orang yang demikianlah yang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Keuntungan Mancintai Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam

Ada banyak keuntungan atau manfaat bagi orang yang mencintai Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wa sallam, yakni diantaranya:

Mencintai Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam merupakan sebab mendapatkan manisnya iman. Allah menjadikan sebab-sebab untuk mendapatkan manisnya iman. Di antara sebab tersebut adalah mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melebihi seluruh makhluk.

Telah diriwayatkan dari Imam Bukhari dan Muslim dari Anas –radhiyallahu ’anhu- , Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Tiga perkara yang membuat seseorang akan mendapatkan manisnya iman yaitu : Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya, dia mencintai saudaranya, tidaklah dia mencintainya kecuali karena Allah, dan dia benci kembali pada kekufuran sebagaimana dia benci dilemparkan dalam api.”

Dan yang dimaksudkan dengan (حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ) – sebagaimana disebutkan para ulama rahimahumullah – adalah merasakan kelezatan melakukan ketaatan, bersabar dan merasa nikmat dalam beragama, dan yang demikian juga berpengaruh pada perihal keduniaan.

Mencintai Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam akan menjadikan seseorang bersama beliau di akhirat. Diriwayatkan dari Imam Muslim, Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu– berkata: “Datang seorang laki-laki pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya: “Kapan hari kiamat datang?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: ”Apa yang engkau persiapkan untuk hari kiamat?” Dia menjawab,” Cinta Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,” Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.”

Anas –radhiyallahu ‘anhu– berkata: Tidaklah kami sangat bergembira setelah nikmat Islam kecuali setelah mendengar sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.”

Anas –radhiyallahu ‘anhu– berkata: ”Maka sungguh aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar, dan Umar –radhiyallahu ‘anhuma-. Dan saya berharap bisa bersama mereka, walaupun amalanku tidaklah seperti mereka.”

Mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam akan memperoleh kesempurnaan iman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Seseorang tidaklah beriman hingga aku lebih dicintainya dari anak dan orang tuanya serta manusia seluruhnya.” ( HR Muslim).

Kesempurnaan iman ini hanya akan diperoleh dengan mentaati dan tunduk patuh, tanpa ada keraguan sedikitpun.

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa’: 65)

Mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam merupakan bagian dari dzikrullah yang akan membuahkan hilangnya kesedihan, perbaikan keadaan, dan ampunan dosa. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَآَمَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ

“Dan orang-orang mukmin dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.” (Muhammad: 2)

Dengan alasan itu yang berkaitan dengan sifat dan manfaat dari mencintai beliau yang disebutkan di atas tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tidak mencintai beliau Shallallahu ’alaihi wa sallam.

Cara Mencintai Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam

Tidak sulit untuk dapat mencintai Rosulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam. Secara singkat dapat dilakukan dengan beberapa hal ini. yakni:

Mencintai Rasulullah dengan cara mengagungkan, memuliakan, dan meneladaninya. Kemudian dengan mentaati perintah Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam. Allah memerintahkan setiap Muslim dan Muslimah untuk taat kepada Rasulullah.

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَطِيۡـعُوا اللّٰهَ وَاَطِيۡـعُوا الرَّسُوۡلَ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul…” (QS. An-Nisa’ : 59)

Selanjutnya selalu membenarkan ucapan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam. Sebab Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam tidak berkata menurut hawa nafsu, melainkan atas dasar hukum syara.

Beribadah sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam juga termasuk cara mencaintainya. Rasulullah diutus oleh Allah sebagai suri tauladan yang paling baik, baik mengenai akhlaknya, ibadahnya atau pun amalan lainnya. Karena itu umat islam wajib taat kepada Rasulullah supaya dapat meraih cintanya. Wallohu a’lam. (A/B05/P2)

(Dari berbagai sumber)

Mi’raj News Agency (MINA)