India Bantah akan Sediakan Rumah Untuk Pengungsi Rohingya di New Delhi

New Delhi, MINA – Beberapa jam setelah seorang Menteri India mengatakan bahwa Rohingya akan diberikan apartemen di ibu kota New Delhi, Kementerian Dalam Negeri India segera membantah memberikan instruksi tersebut.

Sebaliknya, pemerintah India mengatakan, para pengungsi akan ditahan di pusat penahanan dan akhirnya akan dideportasi, Al Jazeera melaporkan, Rabu (17/8).

Sebelumnya pada Rabu pagi, Hardeep Singh Puri, Menteri Perumahan dan Urusan Perkotaan India melalui akun Twitternya mengatakan, pengungsi Rohingya di New Deli akan diberikan apartemen dan diberikan perlindungan polisi.

“India selalu menyambut mereka yang mencari perlindungan. India menghormati dan mengikuti Konvensi Pengungsi PBB 1951, memberikan perlindungan kepada semua orang, terlepas dari ras, agama, atau kepercayaan mereka,” tulis Puri di akun Twitternya.

Puri menambahkan, semua pengungsi Rohingya akan dipindahkan ke flat EWS di area Bakkarwala di Delhi. Mereka akan diberikan fasilitas dasar, ID UNHCR & perlindungan @DelhiPolice 24 jam.

Namun, tak lama setelah tweet Puri, kementerian dalam negeri federal, yang dipimpin oleh Amit Shah, ajudan terdekat Perdana Menteri Narendra Modi, membantah laporan media tersebut.

“Terkait pemberitaan di beberapa media tentang pengungsi Rohingya, dijelaskan bahwa Kementerian Dalam Negeri belum memberikan arahan untuk menyediakan flat EWS (bagian ekonomi lemah) kepada migran ilegal Rohingya di Bakkarwala di New Delhi,” kata Kementerian Dalam Negeri India dalam sebuah pernyataan.

Kementerian itu mengatakan, “orang asing ilegal” (pengungsi) akan ditahan di pusat penahanan sampai mereka dideportasi ke Myanmar.

“Pemerintah (negara bagian) Delhi belum menyatakan lokasi saat ini sebagai pusat penahanan. Mereka telah diarahkan untuk melakukan hal yang sama segera,” katanya.

Perdana Menteri Narendra Modi telah mencoba mengirim kembali minoritas Muslim (Rohingya) ke Myanmar yang mayoritas beragama Buddha, di mana ratusan ribu di antaranya telah melarikan diri dari penganiayaan, dan gelombang kekerasan di tanah air mereka selama bertahun-tahun. (T/R6/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)