Indonesia Diprediksi Butuhkan 113 Juta Pekerja Terampil di Tahun 2030

Malang, MINA – Direktur Pembelajaran pada Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Reset,Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti), Paristiyanti Nurwardani mengatakan, Indonesia diprediksi akan membutuhkan sedikitnya 113 juta pekerja terampil pada tahun 2030.

“Indonesia diprediksi akan membutuhkan sedikitnya 113 juta pekerja terampil pada tahun 2030 dari yang saat ini yang tersedia sebanyak 55 juta orang agar mampu mencapai target pertumbuhan ekonomi di sejumlah sektor prioritas,” katanya dalam kegiatan Polytexpo 2018 – International Polytechnic Conference and Exhibition yang berlangsung di Politeknik Negeri Malang pada Senin-Selasa, 3-4 Desember 2018.

Menurutnya, Kemenristekdikti melalui Polytechnic Education Development Project (PEDP), yang didukung Asian Development Bank dan Pemerintah Canada, selama lima tahun terakhir ini fokus pada peningkatan kualitas keluaran pendidikan politeknik dan relevansinya dengan kebutuhan pasar kerja. Terutama untuk memenuhi tuntutan industri 4.0 yang berbasis teknologi digital dan khususnya yang terkait dengan ekonomi kreatif.

“PEDP dibentuk untuk memperkuat kualitas institusi politeknik dan lulusannya khususnya dalam mendorong sektor manufaktur, infrastruktur, pertanian, energi dan pariwisata,” ujarnya.

Ia melanjutkan, demi mencapai tujuan tersebut, PEDP melakukan upaya penyempurnaan kurikulum yang mengacu pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia. Prosesnya dimulai dari studi pelacakan (tracer study), penentuan profil lulusan, penetapan bahan kajian, penyusunan distribusi matakuliah dan penyusunan perangkat pembelajaran serta instrumen evaluasi, untuk dapat menentukan hasil pembelajaran seperti yang diharapkan oleh pengguna jasa.

Proyek ini diimplementasikan melalui 2 mekanisme hibah, yaitu; hibah penugasan kepada 13 politeknik negeri melalui beberapa kriteria yang ditetapkan, dan hibah kompetisi kepada 27 politeknik negeri dan swasta (di antaranya terpilih 6 politeknik swasta).

“Hasil akhir yang dituju dari strategi PEDP adalah meningkatnya mutu dan relevansi sistem pendidikan politeknik, meningkatnya akses dan kesetaraan kesempatan untuk masuk ke dalam pendidikan politeknik, meningkatnya keterlibatan sektor swasta dalam memperbaiki daya saing lulusan, dan terwujudnya perbaikan tata kelola pendidikan politeknik,” tambahnya.

Lebih lanjut ia memaparkan, beberapa capaian PEDP antara lain meningkatnya kemampuan dan keterampilan staf pengajar dan teknisi, bertambah lengkapnya peralatan laboratorium dengan teknologi terkini, juga kurikulum serta materi ajar yang telah disempurnakan dan lebih sesuai dengan tuntutan industri saat ini.

Selain itu, di hampir semua politeknik penerima bantuan PEDP kini telah didirikan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dan Tempat Uji Kompetensi (TUK) untuk membekali lulusannya dengan sertifikasi keahlian yang diperlukan.

Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) juga disiapkan untuk memberikan pengakuan terhadap capaian pembelajaran seseorang baik itu melalui pendidikan formal, non-formal maupun informal, sehingga ia dapat melanjutkan pendidikan atau menerima sertifikasi di jenjang yang setara dengan pengalamannya.

Tidak hanya itu, setiap politeknik didorong agar mempunyai keunggulan yang spesifik sesuai dengan kondisi setempat dan kapasitas sumberdaya-nya melalui apa yang disebut sebagai Pusat Unggulan Teknologi (PUT). PUT ini dapat berupa pusat kegiatan penelitian terapan, pusat pelatihan, teaching factory, atau dalam bentuk lain dimana proses pembelajaran mahasiswa terintegrasi di dalamnya, sehingga diharapkan bisa menumbuhkan semangat kewirausahaan dalam institusi. (R/R10/R01)

Mi’raj News Agency (MINA)