INDONESIA HARUS DIPIMPIN MUSLIM YANG BERTAQWA

Muslim Unity

 

Muslim Unity*oleh: Widi Kusnadi

Janji Allah dalam Surat Al-A’raf ayat 96, bahwa Allah akan membukakan keberkahan dari langit dan bumi kepada suatu negeri yang beriman dan bertaqwa, dan untuk menjadikan masyarakat negeri itu beriman dan bertaqwa, dibutuhkan seorang pemimpin yang bersifat siddiq, amanah, tablig dan fatohah.

Presiden Indonesia pada era 21 Mei 1998 -20 Oktober 1999, Prof. Dr. B.J. Habibie  dalam sebuah pernyataannya di televisi nasional menyatakan bahwa Indonesia harus dipimpin oleh seorang muslim yang visioner, memiliki integritas tinggi dan mampu mensikapi problematika bangsa secara cepat, tepat, dan bijak.

Pertemuan 56 organisasi masyarakat (ormas) yang digelar di kantor MUI pusat merekomendasikan agar partai-partai Islam bersatu membentuk koalisi untuk memenangkan pemilihan presiden (pilpres) 9 Juli 2014 mendatang.

Sementara itu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof. Dr. Din Syamsuddin menegaskan, umat Islam Indonesia harus menjadi pemimpin di negerinya sendiri, bukan menjadi pelengkap yang mengikuti kemauan pihak lain.

“Kami dorong partai-partai Islam dan berbasis massa Islam tidak mengabaikan dukungan, kepercayaan, dan harapan pemilih muslim. Mereka mendambakan penjelmaan nilai-nilai Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” terang Din Syamsuddin, Senin (21/4) saat berlangsungnya acara Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI), di Jakarta.

Ada sebagian masyarakat kita beranggapan, partai Islam dan koalisi partai-partai Islam sudah tidak realistis. Alasannya, rakyat Indonesia sudah tidak dipercaya mereka lagi karena “barang dagangan” berupa ideologi agama mereka tidak diminati masyarakat.

Namun, apakah benar hal itu? Benarkah masyarakat Indonesia tidak suka dengan prinsip-prinsip idealisme Islam? Atau justru “para pedagangnya” (para politikus partai) yang tidak kompeten dalam menjual dagangannya?

Mari kita tengok di negara-negara Eropa yang mendeklarasikan diri sebagai kampiun demokrasi:

Partai Agama di Eropa

Partai agama (yang mungkin) dianggap haram oleh sebagian orang, ternyata di negara-negara maju di Eropa sana, walau mereka mengaku sekuler, keberadaan partai agama cukup diperhitungkan. Malahan, sebagian besar tampil sebagai penguasa seperti kanselir Jerman Angela Merkel yang berasal dari Partai Kristen Demokrat. 

Sebagai pembanding, berikut sebagian partai agama yang eksis di Eropa yang menyumbangkan pemimpin-pemimpin bagi rakyatnya:

  1. Partai Kristen Demokrat/CDU dan Uni Sosial Kristen/CSU (Jerman)
  2. Christian Union dan partai Kristen ortodok/SGP (Belanda)
  3. Partai Demokrat Kristen (Belgia)
  4. Partai Kristen Demokrat (Swiss)
  5. Partai Kristen Demokratik (Albania)

Partai-partai berbasis agama tadi adalah contoh bagaimana demokrasi sejati tak menolak eksistensi mereka. Mereka tumbuh dan layu dengan sendirinya, termasuk seperti di Indonesia. Bahkan, di Amerika Serikat (AS) sendiri, Barrack Obama bisa mendapatkan “restu” menjadi presiden karena dia seorang Kristen Protestan. Kita bisa lihat sejarah, sejak dahulu, presiden Amerika selalu dipimpin oleh seorang Kristen Protestan. Hal ini menunjukkan, di negara-negara besar pencetus demokrasi, pengaruh sentimen agama masih sangat kuat di mata rakyat Amerika.

Lantas, bagaimana di Indonesia? Masihkah umat Islam sebagai penduduk mayoritas terbujuk propaganda kalau presidennya tidak harus orang Islam?

Persatuan yang Hakiki

Sebenarnya, umat Islam Indonesia menginginkan umat Islam ini bersatu dalam sebuah wadah kepemimpinan menurut Al-Qur’an dan Sunnah nabi Muhammad, mereka sudah jenuh dengan tontonan dari para politikus yang bermanuver menurut kepentingan diri dan kelompoknya masing-masing.

Ironis memang, sebuah partai/organisasi berasaskan Islam, tetapi malah ribut dan saling memakzulkan teman se-partainya (lihat kisruh partai PPP). Padahal genderang perjuangan  baru saja ditabuh. Rakyat yang baru saja memilih menantikan kiprah mereka di kancah legislatif.

Dalam konsep Islam, sebenarnya sudah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW sistem kepemimpinan ideal. Hal itu sudah terbukti, generasi Islam terdahulu mampu merubah peradaban dan membuat rakyat adil makmur aman dan sejahtera.

Dengan sistem Khilafah ala Minhajin Nubuwah, Muslimin dimanapun mereka berada, bersatu mengangkat seorang pemimpin (khalifah), dan Sang Khalifah-lah yang akan mengatur semua urusan, termasuk mengamanahkan kepada siapa kursi kepemimpinan suatu negeri itu layak diberikan. (P04/P01).

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

*penulis adalah redaktur kantor berita Islam MINA

data diambil dari berbagai sumber

Comments: 0