Indonesia Miliki Peluang Kembangkan Perekonomian Syariah

Jakarta, MINA – Indonesia memiliki peluang yang sangat besar dalam mengembangkan perekonomian syariah. Saat ini Indonesia termasuk salah satu negara yang mempunyai lembaga keuangan syariah terbanyak di dunia.

Hal tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), Erwin Noekman saat menjadi pembicara webinar bertajuk Perkembangan Asuransi Umum Indonesia yang digelar Asuransi Jasindo Syariah, Kamis (25/2).

Ditambah lagi dengan populasi penduduknya yang mayoritas bergama Islam. Begitu juga dengan adanya regulasi yang mengatur terkait keuangan syariah mulai dari POJK, hingga Fatwa-fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). 

“Terkait kinerja asuransi umum di Indonesia untuk tahun 2020, Erwin mejelaskan, ada sejenis anomali yang terjadi, yang mana sekalipun pendapatan industri asuransi umum syariah tercatat mengalami penurunan, akan tetapi ada peningkatan pada jumlah aset. 

Kontribusi asuransi umum syariah secara kuartalan, ungkap Erwin, mulai dari Desember 2019 hingga Maret 2020 terjadi penurunan. Kemudian saat pandemi covid-19 mulai masuk ke Indonesia kinerja industri kembali turun hingga Bulan Juni 2020. Dan pada September 2020 menunjukkan pertumbuhan.

Peningkatan juga terjadi saat menutup tahun 2020. Dari segi aset, industri asuransi umum syariah mencatatkan pertumbuhan yang cukup baik, sekalipun saat masa pandemi Covid-19.

”Secara YOY, kontribusi bruto asuransi umum mengalami penurunan di tahun 2020, yaitu tercatat sebesar Rp1,82 triliun di tahun 2019, dan menutup tahun 2020 menjadi Rp1,61 triliun.

“Penurunan kontribusi bukan saja terjadi di Indonesia, tapi juga bagi rekan-rekan kita yang di luar negeri. Akan tetapi dari segi aset, industri asuransi umum Indonesia mengalami peningkatan, yaitu Rp5,90 triliun di tahun 2019 dan menutup tahun 2020 tercatat menjadi Rp6,01 triliun. Jadi ada kenaikan sekitar Rp100 miliar,” ungkap Erwin.

Kinerja lainnya menurut dia, terlihat dari klaim asuransi umum syariah yang mengalami penurunan. Dimana pada 2019, klaim bruto asuransi umum syariah tercatat sebesar Rp726 miliar, dan menutup tahun 2020 tercatat menjadi Rp641 miliar.

Untuk investasi, kinerja industri asuransi umum syariah juga mengalami kinerja yang baik, dimana pada  2019 tercatat sebesar Rp4,03 triliun dan  tahun 2020 naik sekalipun tipis menjadi Rp4,10 triliun. Peningkatan investasi ini diikuti oleh pertumbuhan hasil investasi, yang pada 2019 tercatat sebesar Rp243 miliar dan tahun 2020 menjadi Rp259 miliar.

”Yang menarik dari kinerja asuransi umum adalah segi laba. Secara umum negara mengalami resesi, justru di industri asuransi umum syariah malah labanya meningkat,” jelasnya.

Pada 2019 tercatat sebesar Rp514 miliar, dan tahun 2020 meningkat menjadi Rp532 miliar. Ini seperti yang terjadi pada 1998, dimana di saat industri lainnya krisis, malah sebagian perusahaan asuransi saat itu meningkat dari segi laba.

Tidak kalah penting lanjut Erwin, tingkat solvabilitas industri asuransi umum syariah juga boleh dikatakan sangat sehat dengan solvabilitas dana tabarru lebih dari 423 persen. Artinya, melebihi dari ketentuan yang diatur OJK. 

Dari segi lini bisnis, saat ini industri asuransi umum syariah masih didominasi dari sektor asuransi kendaraan bermotor yang memiliki porsi sebesar 36,46 persen dan diikuti oleh bisnis asuransi kecelakaan diri dengan porsi sebesar 31,11 persen kemudian dari sektor asuransi harta benda yaitu sebesar 15,60 persen.

Erwin menambahkan, untuk ke depan potensi industri asuransi umum akan terus berkembang. Disamping dengan mergernya tiga bank syariah yang cukup memberikan pengaruh terhadap perekonomian syariah nasional, faktor lainnya adalah seiring dengan adanya pembangunan kawasan industri halal  yang tentunya akan melibatkan banyak pihak dan menjadi prospek industri perasuransian syariah. (R/R4/RS1)

Mi’raj News Agency (MINA)