Indonesia Pimpin DK PBB, Bahas Perlindungan Obyek Vital dari Serangan Siber

​New York, MINA – Di bawah Presidensi Indonesia, pertemuan Dewan Keamanan PBB pada Rabu (26/7) membahas mengenai perlindungan obyek vital dari serangan siber.

Pertemuan bertajuk “Cyber Attacks Against Critical Infrastructure” tersebut menyoroti maraknya serangan siber terhadap obyek vital dan pentingnya upaya perlindungan bagi berbagai fasilitas dimaksud.

“Meningkatnya ketergantungan negara dan organisasi internasional terhadap Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam menyelenggarakan layanan publik, menuntut perlindungan yang lebih bagi obyek vital (critical infrastructure) khususnya dari serangan siber,” kata Wakil Tetap RI untuk PBB di New York, Dian Triansyah Djani saat memimpin pertemuan yang digelar melalui fasilitas video-teleconferencing itu.

Dalam pertemuan itu, Indonesia mengangkat sejumlah dampak luas dari serangan siber terhadap obyek vital, termasuk bagi kemanusiaan, serta penguatan legislasi nasional dan norma internasional dalam upaya perlindungan terhadap infrastruktur kritis.

Tidak hanya itu, Indonesia juga menekankan pentingnya upaya bilateral, regional dan global dalam memajukan penguatan kapasitas dan pemahaman bersama dan menghadapi tantangan keamanan siber.

“Diharapkan pertemuan ini dapat menjadi salah satu wujud kontribusi nyata Indonesia dalam memajukan upaya global untuk mempromosikan lingkungan TIK yang terbuka, aman, stabil, dan damai,” tutup oleh Dubes Djani

Pertemuan diikuti oleh seluruh negara anggota DK PBB, serta penyampaian intervensi dari 23 negara anggota PBB lainnya. Sejumlah negara mitra yakni Belgia, Estonia, dan Vietnam, serta Palang Merah Internasional (ICRC) turut mensponsori pertemuan tersebut.

Turut berpartisipasi sebagai pembicara antara lain Presiden ICRC, Peter Maurer, Acting Asisten Sekjen PBB untuk urusan Kemanusiaan (UNOCHA), Ramesh Rajasingham, serta Direktur Institut PBB untuk Urusan Perlucutan Senjata (UNIDIR), Renata Dwan. (R/RE1/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)