INDONESIA PUNYA PELUANG BESAR JADI PUSAT KEUANGAN ISLAM DUNIA

syariahJakarta, 29 Dzulqa’dah 1435/24 September 2014 (MINA) – Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Ekonomi Indonesia (IAEI),  Munifah Syanwani mengatakan, Indonesia mempunyai peluang yang besar untuk menjadi pusat keuangan Islam dunia.

Hal itu diperkuat dengan penjelasan dari Sukro Pratmono, Direktur Pengawasan Departemen Perbankan Syariah OJK, bahwa Industri keuangan Syariah akan terus maju dan berkembang seiring dengan perkembangan Ekonomi Indonesia dan Asset industri keuangan syariah terus tumbuh, salah satunya adalah perbankan syariah.

“Saat ini asset perbankan syariah telah mencapai Rp 256 Trilyun” kata Sukro, seperti dilaporkan si laman IAEI yang dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA).

Agustianto, Ketua I IAEI, menjelaskan bahwa Mc Kinsey memproyeksi Indonesia akan menjadi Negara maju dan merupakan Negara dengan kekuatan tujuh besar dunia melalui pertumbuhan ekonomi tinggi yang inklusif dan berkelanjutan di tahun 2030.

“Di Indonesia jumlah Bank Umum Syariah berjumlah 12, Unit Usaha Syariah berjumlah 23 dan 165 BPRS terbanyak di dunia, 48 Asuransi Syariah, 48 multifinance syariah, 5200 BMT, Pegadaian syariah , pasar modal syariah, ventura capital dan dana pension” paparnya.

Agustianto menambahkan peluang Indonesia yaitu sebagai negara yang memiliki populasi muslim terbesar di dunia dan kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan juga memiliki potensi pasar yang besar bagi industri keuangan syariah.

Kementerian Pariwisata dan Kreatif telah mengeluarkan tiga peraturan menteri diantaranya, Pariwisata Syariah, Hotel Syariah, Restoran syariah dan Spa Syariah. Selain itu ada juga industri syariah lainnya, makanan halal, industri fashion, busana muslimah, karaoke syariah dan lainnya.

“Sedangkan tantangannya adalah saat ini Industri Keuangan Syariah mempunyai kuantitas yang sangat besar namun market share masih relative kecil,” ujarnya.

Yocie Gusman, Direktur BJB Syariah, menjelaskan Bank BJB syariah saat ini fokus terhadap bisnis regional Jawa Barat dan Banten dengan potensi pasar yang besar dan merupakan brand image perusahaan induk.

“Adapun tantangan yang dihadapi oleh Bank BJBS adalah mengembangkan jaringan kantor, SDI dan IT untuk menunjang pertumbuhan bisnis, memperkuatan permodalan, dan sebagai bank regional pertama yang melakukan spin off sehingga menjadi abrometer untuk BPD lainnya” katanya.

Yuslam Fauzi, Wakil Ketua Umum IAEI menjelaskan, saat ini SDM dalam bidang perbankan syariah masih sangat kurang. Perbankan Syariah membutuhkan dukungan yang lebih besar dari kalangan akademisi karena perbankan syariah membutuhkan langkah yang strategis untuk terus tumbuh.

Selain itu, banyak masyarakat yang belum tahu mengenai keunggulan perbankan syariah. Solusinya adalah dibutuhkan kontribusi Perguruan TInggi untuk mensosialisasikan kepada publik mengenai perbankan syariah, salah satunya adalah seminar.

“Dengan adanya komunikasi maka penyusunan kurikulum, sistem pembelajaran yang lebih dekat dengan kepentingan pasar akan mudah terjadi. Dari praktisipun harus siap dalam memberikan pemikiran bahkan ikut untuk mengajar. Praktisi dan perguruan tinggi harus ada kombinasi yang harmonis “ tambahnya. (T/P005/R11)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0