INSPIRASI BISNIS “CANTIR” DARI LIMBAH SINGKONG

Muslimah (depan) sedang melatih ibu-ibu berbisnis Cantir (Foto : dok Posyantek Jagakarsa)
Muslimah (depan) sedang melatih ibu-ibu berbisnis Cantir (Foto : dok Posyantek Jagakarsa)

Jakarta, 25 Dzulqa’dah 1435/20 September 2014 (MINA) –Siapa sangka, kegagalannya berusaha di negeri jiran Malaysia  sebagai TKW,  malah menjadi berkah. Bahkan kesuksesan wanita ini juga berawal dari limbah singkong, barang yang tak banyak dilirik orang.

Di tangannya yang terampil, sisa potongan singkong tak bernilai diolah menjadi camilan nikmat. Wanita berkerudung ini mampu merubah jajanan bernuansa ‘kampung’ menjadi makanan trendi di Jakarta.

“Saya beri nama Cantir untuk melestarikan budaya aslinya, juga agar nama yang tadinya kampungan makin terkenal,” ujar Muslimah (47). Perempuan paruh baya ini menuturkan, ia memulai usaha ini hanya bermodalkan Rp50 ribu. Inspirasinya datang lantaran ia merasa orang kampung, yang juga terbiasa dengan cita rasa jajanan kampung berupa olahan singkong.

Dengan dana tak seberapa itu, dibelinya singkong sisa olahan dari penjual gorengan. “Mereka itu kan cuma pakai bagian tengah yang besar, sedang yang ujungnya kecil-kecil jadi limbah, itu yang saya beli secara borongan,” ujar Muslimah yang dengan bekal keahlian
mengolah makanan serta keuletan berusaha, dalam kurun waktu 3 bulan mampu melancarkan usahanya.

“Untuk mengembangkan usaha, akhirnya saya beranikan meminjam modal dari KUR, waktu itu dapat Rp5 juta,” katanya sambil menambahkan, selain keripik Cantir, wanita ini  juga membuat jenis jajanan lainnya seperti manisan dan makanan lainnya.

“Tapi kecenderungan saya adalah membesarkan Cantir, maka itu cita rasanya saya buat bermacam-macam,” ujar Muslimah yang kini memiliki 15 karyawan yang membantunya memajukan usahanya. Dia mengaku awalnya  memasarkan Cantir dengan menitipkannya di pedagang-pedagang stasiun Kereta Api (KA) dari Bogor hingga Tebet.

“Dulu itu masih boleh jualan di stasiun KA, sekarang kan sudah dilarang,” kenang Muslimah.

Meski lumayan lancar, usahanya bukan tanpa kendala. Justru pasokan bahan baku  sulit didapat,  sebab limbah singkong dari pedagang gorengan tak seberapa banyak. Hal ini membuatnya kerepotan melayani pesanan yang semakin meningkat. “Kalau sudah begni, modal harus tambah untuk beli singkong dari pedagang atau petaninya,” ungkapnya.

Kendala keterbatasan modal yang dialaminya rupanya terendus oleh sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta Selatan, Universitas Gunadarma, yang melaksanakan program pengembangan UKM.  “Saat pihak Gunadarma bertanya apa kendalanya, saya spontan menjawab kekurangan modal,” kata Muslimah dengan tersenyum.

Gayung bersambut, usaha yang semula terancam tersendat kembali berpendar. Pihak Universitas Gunadarma mencairkan bantuan modal, dengan perjanjian bagi hasil yang juga meringankan Muslimah. “Bahkan mereka juga memberikan bantuan manajerial dengan menugaskan seorang sarjana akuntansi membantu manajemen keuangan saya.”

Tak sampai disana, bantuan yang digulirkan juga mencakup pengurusan hak paten keripik Cantir ke BPPOM dan sertifikasi halal MUI. “Saya merasa sangat terbantu, entah apa jadinya usaha saya tanpa bantuan mereka,” kata Muslimah. “Saya  sangat berterima kasih
dan merasa berhutang budi kepada pihak Universitas Gunadarma.”

Membagikan keterampilan

Meski sukses dalam bisnis jajanan ini, ternyata Muslimah tak pelit berbagi ilmunya. “Terus terang saya merasa sangat senang, jika ada orang yang mendapatkan pekerjaan dengan inspirasi dan ilmu saya,” ungkap wanita yang juga aktif di lembaga binaan pemerintah ini.

“Ketika bertemu dengan bapak Mutawakil, Ketua Pos Pelayanan Teknologi (Posyantek) Jagakarsa saya diajak mengembangkan usaha dan ilmu saya ini,” katanya.

Pengembangan usaha dimaksud adalah penggunaan alat-alat sesuai tujuan usahanya, seperti pisau khusus untuk mengiris singkong, alat parut singkong dan alat penhemasan. “Sementara untuk pengembangan ilmu, saya sering diajak melatih ibu-ibu di lingkungan  membuat keripik Cantir dan jajanan lainnya,” ujar Muslimah.

Wanita ini mengaku tak takut mendapat saingan dengan menyebarkan ilmunya, sebab ia yakin rejeki tidak salah sasaran. “Saya bahkan sangat bangga, jika ada yang bisa maju usahanya karena terinspirasi oleh  saya,” katanya.”Untuk jadi pengusaha tidak perlu berpikir terlampau rumit.  Jika ada  ide jalankan saja, saya juga cuma dengan modal kecil saja, yang penting ada kemauan dan kesungguhan usaha.”

Kini, Muslimah bukan sekedar pengusaha keripik Cantir. Ia kerap dipanggil ke beberapa propinsi dan kabupaten guna memberikan pelatihan kepada mereka yang memintanya. Ia juga menjadi motivator bisnis bagi para wanita.

“Alhamdulillah, saya bisa menikmati perjalanan keliling Indonesia bahkan juga ke luar
negeri,” katanya. “Honornya, bukan main-main. Mulai ratusan ribu, hingga pernah mendapatkan samapai Rp 11 juta untuk satu kali bicara,” katanya. (L/R12/R01)

 

Mi’raj Islamic NewsAgency (MINA)

Comments: 0