Institut Strategis AS: ISIS Bisa Bangkit Kembali di Libya

Vennsylvania, MINA – Kelompok bersenjata Islamic State (ISIS) tetap menjadi “ancaman terus-menerus” di Libya dan dapat bangkit kembali jika konflik yang telah berlangsung lama di negara itu tidak diakhiri, menurut sebuah penelitian baru.

Penelitian yang dilakukan oleh Institut Studi Strategis di United States Army War College mengatakan, ISIS sedang “menyusun kembali, secara diam-diam memperluas kapasitas … sampai mungkin sekali lagi cukup kuat untuk menjadi penantang di Libya.”

Dikatakan, kelompok bersenjata itu mempertahankan kapasitasnya untuk melancarkan serangan “skala kecil” di Libya.

“Mereka terlibat dalam serangan skala kecil dan pertempuran kecil yang diperlukan untuk membangun diri mereka sendiri dalam jaringan penyelundupan kriminal yang menghubungkan sub-Sahara Afrika ke pantai Libya di utara,” menurut penelitian yang dilakukan oleh Azeem Ibrahim, demikian dikutip dari Al Jazeera .

Libya yang kaya minyak jatuh ke dalam kekacauan ketika pemberontakan yang didukung NATO pada tahun 2011 menggulingkan penguasa lama Muammar Gaddafi, yang kemudian terbunuh.

Sejak itu, negara itu terpecah antara Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui secara internasional di barat dan komandan militer pemberontak Khalifa Haftar yang menyebut dirinya Tentara Nasional Libya (LNA) di timur.

Setiap faksi didukung oleh milisi dan pemerintah asing. Sementara GNA didukung oleh Turki, LNA didukung oleh Mesir, Uni Emirat Arab dan Rusia.

Menurut penelitian tersebut, setelah ISIS dikeluarkan dari Sirte, sebagian besar aktivitasnya dipindahkan ke Fezzan di gurun selatan Libya, “tempat kelompok tersebut semakin menyatu dalam perdagangan manusia dan barang ilegal setempat, terutama di sepanjang rute migrasi pengungsi melalui Libya.”

Namun, Ibrahim memperingatkan, situasi bisa berubah jika perang saudara Libya berkepanjangan. Ia meminta masyarakat internasional untuk memastikan stabilitas di negara tersebut. (T/RI-1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)