Interaksi Cinta dengan Allah pada Bulan Ramadhan

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior MINA, Pengasuh Ma’had Tahfidz Nurut Jannah Pandeglang (Manjada) Banten

Demi cinta-Nya pada manusia, Allah membuka banyak jalan bagi keselamatan hamba-hamba-Nya, salah satunya lewat kehadiran bulan suci Ramadhan.

Inilah bulan saat Allah membuka selebar-lebarnya pintu cinta-Nya pada manusia, yakni berupa surga-Nya. Inilah bulan saat Allah menutup serapat-rapatnya pintu neraka. Inilah bulan saat Allah membelanggu para syaitan penggoda manusia.

Inilah bulan saat Allah melipatgandakan segala amal kebajikan. Bahkan inilah bulan saat Allah memberikan satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, yakni Lailatul Qadar.

Inilah bulan saat Allah mengampuni dosa-dosa hamba-Nya yang bertaubat, bulan saat Allah mengabulkan segala permintaan hamba-hamba-Nya.

Seperti disebutkan dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

ثَلَاثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالاِْمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ الْغَمَامِ وَيَفْتَحُ لَهَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ

Artinya : “Ada tiga macam orang yang doanya tidak ditolak, dan orang yang berpuasa hingga berbuka, imaam yang adil ,dan orang yang didzalimi ,diangkat oleh Allah sampai di bawah awan di hari kiamat nanti, dan dibukakan baginya semua pintu langit,lalu Allah berfirman : demi Kemuliaan-Ku, Aku benar-benar akan menolongmu, sekalipun sesudahnya.” (HR At-Tirmidzi dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

Pada hadits lain disebutkan:

اِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ دَعْوَةً مَا تُرَدُّ

Artinya :”Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa pada saat berbukanya terdapat doa yang tidak tertolak”. (HR Ibnu Majah dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘Anhu).

Begitulah Allah adalah dzat pemilik cinta tak bersyarat, Dia mencintai semua hamba-Nya tanpa mengharap balasan apapun. Allah selalu mencintai hamba-Nya walaupun hamba itu berbuat dzalim dan terus membangkang perintah-Nya. Sebaliknya cinta manusia adalah cinta “karena” sesuatu. Manusia mencintai sesuatu karena sesuati itu ada manfaat bagi dirinya. Manusia beramal karena ingin mendapat balasan dan kebaikan.

Terlebih berpuasa Ramadhan adalah ibadah spesial yang Allah sendiri yang langsung memberikan ganjaran-Nya. Seperti disebutkan di dalam hadits:

عن أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : قَالَ اللَّهُ : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ’Alai Wasallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Berkaitan dengan hadits ini, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan alasan dari perkataan para ulama yang menjelasakan makna hadits dan sebab pengkhususan puasa dengan keutamaan ini. Alasan yang paling kuat adalah bahwa puasa tidak terkena riya sebagaimana amalan lainnya terkena riya. Ini karena tidak ada yang dapat mengetahui amalan tersebut kecuali Allah.

Imam Al-Qurtuby menambahkan, bahwa amalan-amalan telah terlihat kadar pahalanya untuk manusia. Ada yang dilipatgandakan dari sepuluh sampai tujuh ratus kali sampai sekehendak Allah, kecuali puasa. Allah sendiri yang akan memberi pahala tanpa batasan.

Ibnu Abdul Bar menjelaskan, cukuplah ungkapan ‘Puasa untuk-Ku’ menunjukkan keutamaan ibadah puasa Ramadhan dibandingkan ibadah-ibadah lainnya.

Maka, demi cinta-Nya, Allah membuka jalan bagi keselamatan dan kebahagiaan hamba-hamba-Nya. Maka, sebaliknya, kitapun sudah seharusnya membalas cinta Allah tersebut dengan segala amalan kebaikan, juga dengan penuh cinta.

Karena cinta itulah maka kita melaksanakan puasa Ramadhan dengan lapang. Dengan cinta itu pula kita pun rela berlama-lama bertadarus Al-Quran. Serta dengan cinta kepada Allah pula kita ridha bersedekah untuk sesama.

Marilah mumpung belum terlalu jauh melangkah pada hari-hari Ramadhan, kita perkuat interaksi cinta kita dengan Allah. Sehingga Allah berkenan menerima cinta dan ibadah kita dalam ridha-Nya. Aamiin. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)