INTIFADHAH BARU MENUJU KEMERDEKAAN

Muslim Imran.(Foto: PIC)
Muslim Imran.(Foto: PIC)

Oleh Muslim Imran, Direktur Organisasi Kebudayaan Palestina Malaysia (Palestinian Cultural Organization Malaysia/PCOM)

Beberapa pekan terakhir, gelombang intifadhah (kebangkitan) Rakyat Palestina terlihat semakin memuncak setelah sekian lama terjadinya Intifadhah Kedua pada 2005.

Bahkan hingga hari ini, mereka tetap terus menerus memperjuangkan hak mereka hingga meletusnya intifadhah kali ini yang juga disebut “Intifadhah Al-Quds”. Memanjangkan lagi catatan revolusi kebangkitan rakyat Palestina dalam sejarah modern di bumi Palestina.

Mungkin ada sebagian yang mengikuti rentetan sejarah tersebut akan tertanya-tanya, mengapaPalestina masih belum memperoleh kemerdekaan meskipun begitu besarnya pengorbanan telah dilakukan rakyat Palestina sepanjang hampir satu abad?

Mengapa negara-negara lain dapat mencapai kemerdekaan sedangkan rakyat Palestina masih terjajah? Biar pun persoalan ini penting untuk diutarakan, hakikatnya api kebangkitan intifadhah di Al-Quds dan Tepi Barat terus terjadi dengan begitu pantas, mendorong kita melihat sebuah usaha merealisasikan cita-cita rakyat Palestina, sekaligus menguatkan jati diri sebuah negara meski begitu besarnya pengorbanan telah dilakukan.

Hakikatnya, salah satu perkara penting berkaitan perjuangan rakyat Palestina adalah mulai dari pembagian kuasa internasional kepadanegara ini pada pertengahan kurun yang lalu.

Memperlihatkan bagaimana usaha rakyat Palestina dan negara-negara Arab bertempur selama hampir tujuh dekade untuk mengembalikan kembali hak-hak rakyat.

Namun hingga hari ini, pendudukan atau kolonisasi Zionis Israel terhadap tanah mereka dilihat masih tak dapat menemukan jalan penyelesaian. Ini bukan hanya karena dasar penjajahan atau imperialisme yang diberlakukan terhadap Palestina. Bahkan ia berkaitan secara tidak langsung dengan kuasa besar masyarakat dunia kini.

Justeru, kunci untuk mengubah perkara ini adalah terjadinya perubahan pada kuasa-kuasa besar yang ada walau ia sesuatu yang di luar jangkauan berdasarkan realita semata.

Dalam hal ini, antara strategi yang dilaksanakan saat ini adalah usaha terus menerus rakyat Palestina dalam memperjuangkan hak-hak mereka. Selain usaha yang dilakukan pada tingkat internasional baik individu maupun institusi yang mendukung hak dan perjuangan rakyat Palestina.

Sebagai contoh, lahirnya pergerakan atau usaha memboikot, menghentikan saham dan memberikan sanksi ekonomi Zionis Israel yang disebut dengan Boycott, Divestment, and Sanctions (BDS) secara besar-besaran memberi dampak buruk bagi mereka. Sebagaimana suatu waktu dulu pernah digunakan untuk menghapuskan dasar apartheid di Afrika Selatan pada tingkat internasional.

Selain itu, perubahan iklim negara tetangganya juga memberi dampak kepada keadaan Palestina hari ini. Walau konflik dan pergolakan ada kalanya mengundang keprihatinan dan kebimbangan negara Arab lain. Namun, tetap isu ini tidak menjadi prioritas bagi mereka.

Lalu yang diperlukan Palestina dalam masa kritis ini adalah dukungan moral dan pengaruh bersama dalam memperjuangkan hak-hak mereka. Sebagaimana terjadinya intifadhah pertama dan kedua serta perang terhadap Gaza (ketiga) memperlihatkan kebangkitan Hamas dan warga Arab umumnya. Secara tidak langsung memperlihatkan bagaimana revolusi Arab telah memberi kesan positif pada hak-hak Rakyat Palestina, terutama golongan pemuda yang mendukung pergerakan yang membawa kepada terjadinya intifadhah.

Intifadhah Dinanti!

Intifadhah yang terjadi saat ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan karena ia hasil dari dampakpada apa yang terjadi pada rakyat Palestina. Antara puncaknya, termasuk kegagalan usaha politik Presiden Palestina Mahmoud Abbas, kemerosotan ekonomi secara mendadak. Ditambah pula tekanan psikologi yang dihadapi rakyat Palestina yang hidup mereka teraniaya di bawah pemerintahan bersifat perkauman.

Tanah yang sewenang-wenangnya dirampas oleh pihak penjajah benar-benar menguji kesabaran rakyat Palestina seumpama bom yang dapat meledak seketika waktu. Dan inilah sebenarnya yang terjadi!

Meletusnya intifadhah yang akibatnya masih tidak diketahui ini menuntut pakar-pakar politik Palestina yang terdiri dari berbagai ideologi dan kumpulan duduk semeja untuk membicarakan secara kritis tuntutan dan impian rakyat Palestina ke arah memperoleh kebebasan dan kemerdekaan.

Usaha untuk merealisasikan cita-cita tersebut perlulah melalui pengalaman perjuangan bangsa-bangsa lain, yang mampu memberi pengajaran dan inspirasi pada sejarah perjuangan panjang rakyat Palestina itu sendiri.

Dalam hal ini, situasi Palestina cukup berbeda dengan apa yang dilalui bangsa-bangsa lain memandangkan sebagian besar yang dijajah itu memperoleh kemerdekaan meneruskan perjuangan rakyat, bukannya kekerasan seperti negara India, Malaysia, Sudan dan lain-lain.

Penjajahan Yahudi ke atas tanah Palestina, ditambah lagi penjajahan yang bersifat kolonisasi dan eksistensial (keberadaan), membawa kepada keganasan dan kekerasan.

Intifadhah Pertama meletussaat Perjanjian Oslo menemui jalan buntu, yang kemudian berdiriPemerintahan Palestina (PA). Dampak dari Intifadhah Kedua jugaterjadinya rejim Zionis mundur dari Gaza. Usaha ini memberi tumpuan untuk menghentikan pendudukan di Tepi Barat dan membuka blokade terhadap Gaza sebagai salah satu strategi yang dituntut bagi usaha optimum atas situasi saat ini.

Untuk memastikan strategi ini berhasil, pentingnya mendapatkan pengakuan dan dukungan internasional untuk mendirikan negara Palestina. Secara kolektif perkara ini lebih kepada mempengaruhi individu atau kumpulan yang boleh memberi dampak dalam perubahan keputusan Zionis serta pandangan umum yang mengarahkannya. Agar mereka mundur dari Tepi Barat dan mengosongkan pendudukan mereka di sana.

Bawa Kebaikan

Dalam konteks ini, adalah sangat penting untuk kita mengkaji kemungkinan tercapainya tujuan intifadhah. Ini karena, banyaknya usaha-usaha telah terjalinbaik melalui individu atau kelompok dan puncaknya adalah pada kebangkitan rakyat seluruhnya dalam menyerang keamanan Zionis. Apakah Intifadhah dapat memberi dampak pada Zionis, secara tidak langsung membawa keuntungan kepada rakyat Palestina?

Jika dilihat, kebanyakan definisi keamanan adalah menjaga kemaslahatan dan nilai-nilai, dari berbagai ancaman. Maka, baik kita melihat konsep keamanan dari sudut pandang pribadi, masyarakat, atau negara, sesungguhnya intifadhah yang terjadi saat ini telah berhasil dalam menggugat keamanan Zionis dalam bentuk tertentu.

Pada hari ini kita dapat melihat ratusan aksi-aksi penikaman, tembakan bersenjata, aksi lempar batu dan bom molotov untuk mengancam kepentingan masyarakat Zionis. Inilah perkara yang mungkin dapat disampaikan untuk menekan dan mempengaruhi para pembuat keputusan dari pihak Zionis agar mereka menghentikan penjajahan dan kekerasan sekiranya mereka ingin mendapatkan kembali keamanan.

Di samping itu, penting di sini menyebutkan bentuk kepentingan-kepentingan dan nilai-nilai Zionis itu sendiri. Zionis yang didirikan dari kisah tanah, daging dan madu yang dijanjikan bagi bangsa Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang terpilih. Demi mewujudkan mimpi itu, generasi-generasi awal Zionis telah mengorbankan banyak hal pada tingkat pribadi maupun kelompok tertentu.

Saat itu, nilai pengorbanan untuk mewujudkan proyek Zionis tersebut adalah bersifat pribadi dan kelompok yang penting bagi kelompok pendiri. Akan tetapi seiring waktu dan munculnya generasi-generasi Zionis yang baru, tidak ada lagi peranan terhadap rancangan Zionis tersebut selain banyaknya harta dan hidup dengan aman, yang turut berperan dalam apa yang didasarkan di dalam Perjanjian Oslo.

Hal ini dimaksudkan dengan golongan Zionis sendiri telah berubah dan nilai-nilai yang mereka yakini juga telah berubah, sehingga mereka hari ini tidak lagi berperang sebagaimana yang dilakukan kakekdan nenek moyang mereka dahulu.

Ringkasnya, generasi Zionis sekarang ini adalah generasi penakut yang bimbang akan harta benda mereka terancam. Mereka sedia berkorban tetapi perlulah dengan jaminan harta benda, misalnya dengan ketenangan dan kesejahteraan ekonomi.

Melalui laporan Surat Kabar Ma’arif baru-baru ini menyatakan, sebanyak 66 persen dari total masyarakat Yahudi Israel setuju untuk menarik diri dari permukiman-permukiman Arab di Al-Quds. Hal ini menjadi tolak ukur yang jelas bahwa tekanan dan ancaman dapat membawa pada perundingan untuk mengakhiri penjajahan.

Ini dapat dilihat ketika baru-baru ini sebagian besar orang-orang Israel menyatakan Al-Quds adalah ibu kota abadi untuk Zionis. Namun menyatakan yang sebaliknya kurang dari sebulan saatmeletusnya intifadhah Al-Quds.

Adapun bagi bangsa Palestina sendiri, mereka tidak mempunyai banyak permasalahan jika terjadi penentangan. Hak-hak, kepentingan dan nilai-nilai bangsa Palestina pada dasarnya dibolehkan dan intifadhah tidak memberikan ancaman apa pun terhadap mereka.

Kesimpulannya, yang dituntut sekarang adalah intifadhah ini akan terus menerus menjaga, meningkatkan serta membangun cita-cita dan impian rakyat Palestina.(T/R05/R02)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0