Introspeksi Setelah Ramadhan

Oleh: Mahful Afan, Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Shuffah Al-Qur’an Abdullah bin Mas’ud (STISA-ABM)

Sudah sepekan lebih kita baru saja melaksanakan amalan-amalan di bulan Ramadhan. Sudah sepekan pula kita berpisah dari bulan Ramadhan.

Kita pun berharap bahwasanya perpisahan ini bukanlah perpisahan yang terakhir, karena setiap orang yang beriman selalu mengharapkan agar senantiasa diperjumpakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan bulan Ramadhan yang akan datang.  Pada bulan Ramadhan itulah kita diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk berpuasa.

Sebagaimana Allah printahkan di dalam Quran surah Al-Baqarah ayat 183 :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat di atas secara tegas memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk melaksanakan ibadah puasa. Ibadah puasa ini juga pernah Allah wajibkan terhadap umat-umat yang terdahulu, contohnya seperti Allah memerintahkan kepada Maryam untuk berpuasa ketika dirinya dihina dan dicemooh. Lainnya ialah puasa Nabi Daud yang berpuasa satu hari dan berbuka satu hari.

Baca Juga:  Bahaya Hedonisme dan Solusinya Menurut Islam

Berpuasa sebagai contoh bahwa puasa ini pernah Allah wajibkan terhadap umat yang terdahulu dan bukanlah puasa perintah baru yang diperintahkan kepada umat Nabi Muhammad saja. Namun puasa adalah kemuliaan yang Allah anugrahkan kepada setiap umat

Setelah kita tuntas melaksanakan ibadah puasa selama 1 bulan penuh, apakah  lalu esensi dan tujuan dari puasa tersebut kita dapatkan yaitu dapat menjadikan seseorang menjadi orang yang bertakwa. Atau apakah puasa yang kita laksanakan hanyalah  sekedar menggugurkan kewajiban saja?

Imam Ahmad pernah mengatakan, “Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang hanya mengenal Allah di bulan Ramadan saja”.

Hal ini nampak pada dari perilaku tidak baik menjadi baik seperti, dari tidak berjilbab kemudian berhijab, dari yang tidak shalat kemudian rajin shalat, baik yang wajib maupun sunnah.

Namun, jika selesai Ramadhan manusia itu kembali berbuat maksiat kepada Allah, melepas hijab dan tidak lagi ke masjid, bahkan meninggalkan shalat. Na’udzubillah.

Karena itu, teruslah berusaha untuk tetap istiqomah  dan meningkatkan diri dalam beramal dan berbuat kebaikan. Sehingga dapat dilihat bahwa Ramadhan yang kita jalani benar benar menjadikan diri kita  kita sebagai orang yang bertakwa yang sebenar-benarnya takwa

Sebagaimana yang telah Allah jelaskan dalam surah Ali Imran 102 :

Baca Juga:  Bahaya Hedonisme dan Solusinya Menurut Islam

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”

Suksesnya orang berpuasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan, ketika seseorang bisa membawa amalan-amalan baik yang dilakukan pada bulan Ramadhan ke bulan selanjutnya, sebagai salah satu bukti ketakwaan yang ia peroleh pada bulan Ramadhan 

Selain menjaga ibadah selama bulan Ramadhan, seorang Muslim harus mampu mempertahankan iman dan amalan tersebut di bulan-bulan berikutnya. Hal tersebut mencerminkan bahwa kualitas diri semakin meningkat.dan termasuk orang yang berhasil dalam menjalankan ibadah Ramadhan. Wallahu a’lam. (A/R8/RS2)

Baca Juga:  Bahaya Hedonisme dan Solusinya Menurut Islam

Mi’raj News Agency (MINA)