IPHI: POTENSI ZAKAT DKI JAKARTA SANGAT BESAR

Wakil Ketua Umum Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Drs. Basri Barmanda (kedua dari kiri) saat membuka seminar Zakat di Gedung Persaudaraan Haji Indonesia (Foto: Rendy/MINA)
Wakil Ketua Umum Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia () Drs. (kedua dari kiri) saat membuka seminar Zakat di Gedung Persaudaraan Haji Indonesia (Foto: Rendy/MINA)

Jakarta, 4 Shaffar 1436/27 November 2014 (MINA) – Wakil Ketua Umum Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Drs. Basri Barmanda mengatakan, potensi zakat untuk wilayah Jakarta sangat besar jika dikelola dengan baik dan benar.

“Potensi Zakat untuk daerah Jakarta saja mencapai sekitar Rp19 triliun dalam setahun, tapi  yang masuk ke BAZIS DKI Jakarta hanya Rp 2 triliun,” katanya pada Seminar Zakat yang diadakan IPHI bekerjasama dengan BAZIS DKI Jakarta.

Seminar itu bertema “Menghadang Peningkatan Peroleh Zakat Untuk Maslahat Ummat” yang diadakan di Gedung Persaudaraan Haji Indonesia, di Jakarta, Kamis (27/11) pagi .

Dalam sambutannya, mantan Ketua Pengawas Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah (LAZIS) itu juga menyinggung jumlah kuota jamaah haji dan umrah untuk wilayah Jakarta yang sangat besar. Jumlah yang besar itu akan berkontribusi memberi pemasukan dana zakat yang besar pula.

“Jamaah haji sudah wajib zakat, karena tentu harta mereka telah mencapai nishab bahkan haul. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa dana yang dikumpulkan amil zakat tidak mencapai jumlah seperti yang diharapkan,” katanya.

Sementara itu, lembaga-lembaga non pemerintah seperti Harian Republika dan Masjid Agung Al-Azhar mampu mengumpulkan dana zakat jauh lebih besar dari apa yang telah dikumpulkan IPHI.

Basri menegaskan, masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim sangat mungkin untuk menjadikan negara ini sebagai negara dengan anggaran dana zakat terbesar di dunia.

Program yang jelas

Direktur Utama Dompet Dhuafa, menyatakan, tercapainya suatu target kerja ditentukan oleh program kerja yang jelas dan teratur yang akan menjadi penentu berhasilnya suatu usaha.

“Bisa kita saksikan, pengemis saja di Jakarta setiap bulan bisa meraup Rp20 juta. Tentu ini bukan jumlah yang sedikit. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena bisa dikatakan mereka mempunyai program yang jelas dan nyata, dan juga programnya teratur,” kata pimpinan Dompet Dhuafa yang berada di dalam kelompok Harian Republika itu.

Dia menyatakan, hal ini juga pernah disampaikan oleh Ketua Umum BAZNAS, Didin Hafidhuddin.

Ghofur kemudian mengungkapkan beberapa program yang dilakukan Dompet Dhuafa yang dipimpinnya salah satunya adalah memungut ZIS dari para pegawai negeri di Jakarta.

“Ada sekitar 56 ribu pegawai yang bersedia membayar dana ZIS-nya. Dari jumlah itu, bisa terkumpul dana tidak kurang dari Rp5 miliar setiap bulan. Yang kedua untuk sukses, pengelola ZIS harus memiliki program yang jelas,” kata Abdul Ghofur.

Dia menyatakan, Dompet Dhuafa bisa menghimpun ZIS mencapai Rp250 miliar dalam setahun. (L/P011/P2)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)