Irak Peringatkan Timur Tengah Berada Di Ambang Jurang Setelah Serangan AS Terhadap Sasaran-sasaran yang Didukung Iran

Upacara pemakaman milisi Pasukan Mobilisasi Populer (PMF, Hashd al-Shaabi) yang tewas dalam serangan udara AS di distrik Al-Qaim di provinsi Al-Anbar, diadakan pada tanggal 04 Februari 2024 di Bagdad, Irak. (Photo: Murtadha Al-Sudani - Anadolu Agency)

Baghdad, MINA – Irak telah memperingatkan bahwa Timur Tengah berada di “ambang jurang kematian”, menyusul serangan udara yang dilakukan Amerika Serikat terhadap sasaran-sasaran yang diduga proxi di negara tersebut pada Jum’at.

Dikutip dari Memo, Senin, (5/2), menurut pernyataan dari kantor Perdana Menteri Irak, Mohammed Shia al-Sudani, serangan Amerika adalah “agresi baru terhadap kedaulatan Irak”, dan pernyataan bahwa serangan tersebut telah dikoordinasikan dengan pemerintah Irak sebelumnya adalah “kebohongan”.

Sebagai respons nyata terhadap pembunuhan tiga tentara AS oleh milisi dukungan Iran melalui serangan di sebuah pangkalan di Yordania awal bulan ini, militer AS melancarkan serangan semalaman terhadap 85 sasaran di Irak dan Suriah pada Jum’at, menewaskan 16 orang, yang menurut laporan adalah warga sipil mereka dan melukai 25 orang.

Pernyataa Irak tersebut menyatakan bahwa kehadiran koalisi militer pimpinan AS di wilayah tersebut telah menjadi alasan untuk mengancam keamanan dan stabilitas di Irak dan menjadi pembenaran untuk melibatkan Irak dalam konflik regional dan internasional, yang mencerminkan meningkatnya rasa frustrasi banyak orang di Baghdad terhadap kehadiran militer Amerika yang sedang berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan dengan milisi yang didukung Iran di negara tersebut.

Seorang pejabat Irak yang tidak disebutkan namanya dikutip oleh media Inggris memperingatkan bahwa “Serangan agresif ini akan menempatkan keamanan di Irak dan wilayah tersebut di ambang jurang kehancuran, dan juga bertentangan dengan upaya untuk membangun stabilitas yang diperlukan.”

Pejabat tersebut menekankan bahwa “Irak menegaskan kembali penolakannya untuk membiarkan tanahnya menjadi arena penyelesaian masalah, dan semua pihak harus menyadari hal ini”, dan menambahkan bahwa tanah dan kedaulatan negara kami bukanlah tempat yang tepat untuk mengirim pesan dan menunjukkan kekuatan di antara lawan. (T/B03/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)