Iran Larang Impor Vaksin COVID-19 dari Inggris dan AS

Teheran, MINA – Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei telah melarang impor vaksin COVID-19 dari Amerika Serikat dan Inggris.

Dalam pidatonya pada hari Jumat (8/1), ia menyatakan tidak percaya pada vaksin yang keluar dari dua kekuatan Barat itu karena mereka sendiri memiliki tingkat kematian tertinggi di dunia, AlJazeera melaporkannya.

“Jika Amerika berhasil membuat vaksin, kegagalan akibat virus corona ini tidak akan terjadi di negara mereka sendiri,” katanya, seraya menambahkan bahwa AS sekarang mencatatkan jumlah kematian harian 4.000 orang.

“Jika mereka bisa membuat vaksin, jika pabrik Pfizer mereka bisa membuat vaksin, lalu mengapa mereka mau memberikannya kepada kami? Mereka harus mengkonsumsinya sendiri sehingga mereka tidak akan mengalami begitu banyak kematian,” tambahnya

Khamenei mengatakan hal yang sama berlaku untuk Inggris, dan bahwa dia tidak mempercayai AS dan Inggris karena mereka mungkin ingin menguji vaksin mereka di negara lain.

Pemimpin tertinggi itu juga mengatakan dia memiliki “keraguan” tentang Prancis karena skandal darah yang terinfeksi yang dimulai pada awal 1990-an.

Saat itu, Iran termasuk salah satu penerima suplai darah dari Prancis yang kemudian ternyata tertular HIV. Ratusan penderita hemofilia Iran terinfeksi oleh darah yang tercemar dan Iran mengatakan tidak pernah menerima kompensasi.

Perintah pemimpin tertinggi itu menyebabkan terhentinya rencana Organisasi Bulan Sabit Merah Iran untuk mengimpor 150.000 dosis vaksin Pfizer-BioNTech yang telah diamankan dengan bantuan para donasi, kata juru bicara organisasi itu tak lama setelah pidato tersebut.

“Bulan Sabit Merah akan bertindak berdasarkan pernyataan pemimpin tertinggi karena mereka membedakan yang benar dan yang salah terkait semua masalah termasuk impor vaksin corona,” kata Mohammad Hassan Ghosian kepada situs berita Tasnim.

Bulan Sabit Merah sebelumnya telah mengumumkan rencana tambahan untuk membeli satu juta dosis vaksin dari China.

Iran meluncurkan uji coba pada manusia untuk kandidat vaksin pertamanya, COVIran Barekat, pada 29 Desember.

Dalam upaya untuk meningkatkan kepercayaan pada vaksin, putri kepala Setad, sebuah organisasi kuat yang beroperasi di bawah pemimpin tertinggi, menjadi orang pertama yang menerima suntikan. (T/R7/R1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)