Iran Peringati Satu Tahun Terbunuhnya Qassem Soleimani

Teheran, MINA – Peringatan satu tahun terbunuhnya Komandan Tinggi Militer Iran Qassem Soleimani dimulai dengan pertemuan besar-besaran di Teheran pada hari Jumat (1/1).

Acara yang digelar di di Universitas Teheran yang menandai peringatan kematian Soleimani menurut kalender Iran dihadiri oleh para pejabat politik dan militer, serta perwakilan dari banyak negara di wilayah tersebut, Anadolu Agency melaporkan.

Kepala kehakiman Iran dan mantan calon presiden Ebrahim Raeesi menegaskan kembali seruan untuk membalas kematian mantan kepala Pasukan Quds yang tewas dalam serangan pesawat tak berawak AS di Baghdad pada 3 Januari 2020 itu.

“Balas dendam berat sedang menunggu para pelaku kejahatan,” ujar Raeesi, yang menurutnya akan ditentukan oleh pasukan perlawanan, mengacu pada Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran dan kelompok-kelompok yang didukung Iran di wilayah tersebut.

Dia mengatakan Presiden AS Donald Trump seharusnya tidak menganggap dirinya kebal terhadap hukuman, dengan menegaskan bahwa “pelaku kejahatan tidak akan aman di mana pun di dunia.”

Pengganti Soleimani dan kepala Pasukan Quds saat ini, Esmaeil Qaani, juga berpidato dalam pertemuan itu, dengan mengatakan komandan IRGC yang terbunuh dapat dibalas oleh “orang-orang di dalam AS.”

Sementara itu, kepala IRGC Hossein Salami mengatakan negaranya siap untuk segala kemungkinan, mengacu pada peningkatan ketegangan baru-baru ini dengan AS di kawasan Teluk.

AS menerbangkan dua pembom strategis di atas Teluk Persia pada Rabu (30/12) untuk kedua kalinya bulan ini dalam sebuah langkah yang menurut para ahli dimaksudkan untuk mencegah Iran menyerang pasukannya di wilayah tersebut.

Di tengah kekhawatiran bahwa Iran atau sekutunya merencanakan serangan terhadap instalasi AS di Irak menjelang peringatan kematian pertama Soleimani, Presiden Trump mengatakan pada Rabu bahwa ada “obrolan” tentang lebih banyak serangan terhadap orang Amerika di Irak, memperingatkan bahwa Iran akan bertanggung jawab.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif pada hari Kamis (31/12) mengatakan laporan intelijen dari Irak menunjukkan sebuah plot untuk mengarang dalih perang.

Setelah pembunuhan Soleimani tahun lalu, kedua negara sempat berada di ambang konfrontasi militer langsung, meskipun hal ini akhirnya dapat dihindari.

Pada hari Kamis (31/12), Presiden Iran Hassan Rouhani menyebut pembunuhan komandan IRGC sebagai kejahatan yang tidak bisa dimaafkan dan mengatakan balas dendam akan diputuskan pada waktu yang tepat.

Peringatan pada hari Jumat itu juga disampaikan oleh perwakilan sekutu-sekutu Iran di kawasan itu, Hizbullah dari Lebanon, Hashd Al-Shaabi dari Irak dan Suriah.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat, AS telah melanggar hukum internasional dan piagam PBB yang jelas-jelas melanggar kedaulatan Irak dengan membunuh Soleimani.

“Iran tidak akan menyerah sampai pihak berwenang membawa tindakan ini ke pengadilan,” kata pernyataan itu. (T/R7/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)