Iran: Sanksi AS Akibatkan Biaya Penanggulangan COVID-19 Semakin Tinggi

Jakarta, MINA – Iran menjadi negara Timur Tengah paling parah terkena virus corona (COVID-19), dengan sekitar 1.685 orang meninggal dunia, 21.638 orang yang terinfeksi dan satu orang meninggal akibat virus setiap 10 menit, namun sanksi ekonomi AS terhadap Iran menjadikan negara itu sulit menerima bantuan internasional dalam menghadapi wabah COVID-19.

“Sanksi dan tekanan maksimal AS kepada Iran telah membuat pendapatan kami dari sektor industri minyak yang diembargo oleh AS menurun dan menyebabkan biaya penanggulangan COVID-19 makin tinggi. Faktor lain yang menyulitkan Iran adalah langkah AS yang menakut-nakuti beragam negara dan perusahaan di dunia untuk tidak menjual obat-obatan dan fasilitas medis kepada kami,” kata Kedutaan Besar Iran di Jakarta dalam pernyataan yang diterima MINA pada Senin (23/3).

Sebelumnya, Presiden Iran Hassan Rouhani dalam sebuah pesan yang disampaikan kepada rakyat AS mengingatkan, setiap kebijakan sempit dan konfrontatif yang akan merusak sistem medis dan membatasi sumber daya keuangan dalam manajemen krisis Iran, berdampak langsung terhadap proses memerangi epidemi global COVID-19.

“Sanksi pemerintah AS terhadap Tehran telah menyebabkan banyak rakyat Iran kehilangan kesehatan, pekerjaan dan penghasilan mereka. Meski demikian, bangsa Iran tetap tegar menghadapi virus corona, serta sanksi dan kebijakan tekanan maksimum pemerintah AS,” ujar Rouhani.

Ia menambahkan, mengelola krisis COVID-19 tidak mudah dilakukan oleh negara manapun secara sendiri. “Mematuhi sanksi tak berdasar AS terhadap Iran bukan saja ilegal dan bertentangan dengan resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 2231, tetapi juga tidak etis dan tidak manusiawi,” katanya.

Sementara Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif dalam suratnya kepada Sekretaris Jenderal PBB pada Kamis (12/3) menekankan tentang perlunya mencabut sanksi sepihak AS terhadap Iran.

“Dikarenakan meskipun Iran memiliki kemampuan ilmiah untuk memerangi COVID-19, tapi sanksi dan prasyarat AS untuk mencegah penjualan obat-obatan dan peralatan medis menyebabkan upaya memerangi virus Corona di Iran menghadapi kendala yang sangat serius,” kata Zarif.

Menurutnya, penajaman sanksi ekonomi AS dan terorisme ekonomi terhadap Iran sangat berdampak pada kematian warga negara Iran dari COVID-19.

“Dalam situasi seperti ini, berdiam diri dan membiarkan AS melanjutkan terorisme ekonomi dan terorisme kesehatannya kepada Iran adalah hal yang melawan rasa dan nilai-nilai kemanusiaan dan ini tidak akan pernah membuat siapa pun terlindungi dari amarah mereka (AS) di masa depan,” ujarnya.

Diketahui bahwa Amerika Serikat (AS) sejak 8 Mei 2018 selain keluar dari kesepakatan nuklir (JCPOA) dengan Iran, juga menjatuhkan sanksi sepihak terhadap ekonomi, investasi, industri minyak, petrokimia, perusahaan asuransi, dan berbagai individu dan perusahaan yang berhubungan dengan Iran.

Republik Islam Iran berharap dunia internasional tidak berdiam diri dan  membiarkan AS melanjutkan sanksi ekonomi yang dianggap mereka sebagai tindakan terorisme.

“Republik Islam Iran percaya bahwa mengalahkan COVID-19 adalah tugas internasional. Kini telah tiba bagi komunitas internasional untuk menghadapi sikap arogansi anti-hukum dan anti-kemanusiaan AS dan tidak akan membiarkan sanksi AS yang kejam terhadap Iran dapat mempengaruhi upaya menghadapi virus mematikan ini,” katanya.

Dikatakan selanjutya, Iran juga berterima kasih kepada negara pengirim paket bantuan kepada Iran untuk melawan wabah COVID-19. Pemerintah dan rakyat Iran tidak akan pernah melupakan sahabat pada kondisi sulit seperti ini.  (T/R6/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)