Teheran, MINA – Pemerintah Iran pada Rabu (26/2) mengecam sanksi baru AS dan menyebut itu “tanda permusuhan yang jelas,” setelah Washington memasukkan lebih dari 30 orang Iran dan kapal yang terkait dengan perdagangan minyaknya ke dalam daftar hitam.
Dilansir dari Arab News, Washington mengumumkan tindakan tersebut pada hari Senin (24/2), yang menargetkan kepala perusahaan minyak nasional Iran dan orang lain yang dituduh menjadi perantara penjualan minyak.
Itu adalah gelombang sanksi kedua dalam waktu kurang dari sebulan sejak Presiden AS Donald Trump memberlakukan kembali kebijakan “tekanan maksimum”-nya terhadap Teheran.
Sanksi tersebut merupakan “tanda permusuhan yang jelas dari para pembuat kebijakan Amerika terhadap kesejahteraan, pembangunan, dan kebahagiaan rakyat Iran yang hebat,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baqaei.
Baca Juga: 19 Orang Tewas dalam Kecelakaan Bus di Thailand Tengah
Dalam sebuah pernyataan, ia menyebut tindakan tersebut sebagai “tindakan yang salah, tidak dapat dibenarkan, tidak sah yang melanggar hak asasi manusia rakyat Iran,” dan meminta pertanggungjawaban Washington.
Sejak kembali menjabat di Gedung Putih pada bulan Januari, Trump telah menyerukan dialog dengan Iran, dengan mengatakan bahwa ia ingin Iran menjadi “negara yang hebat dan sukses.”
Namun, pada Senin lalu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menepis kemungkinan negosiasi langsung dengan Washington mengenai program nuklir negaranya di bawah “tekanan, ancaman, atau sanksi.” []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Ratusan Ribu Warga Kanada Tandatangi Petisi Cabut Kewarganegaraan Elon Musk