Teheran, MINA – Iran meningkatkan kewaspadaan menghadapi kemungkinan serangan militer baru Amerika Serikat (AS) dan Israel. Penasihat Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa tanda-tanda konfrontasi militer makin intensif, sebagaimana dilaporkan Gulf News.
Ghalibaf bertemu Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Hosseini Khamenei untuk meninjau perkembangan konflik dengan AS dan Israel.
Berdasarkan transkrip pembicaraan, keduanya membahas apa yang disebut pejabat Iran sebagai perang militer, ekonomi, dan kognitif, serta menekankan penguatan unsur kekuasaan negara, kohesi sosial, persatuan nasional, dan mobilisasi publik untuk mendukung pemerintahan.
Kewaspadaan Teheran muncul seiring sinyal dari Washington. Presiden AS Donald Trump pada Kamis (22/10) menyatakan mungkin ada serangan lebih lanjut, dan sehari kemudian menyebut kemungkinan operasi mirip Epic Fury dalam skala lebih kecil, atau Iran akan menyetujui tuntutan AS.
Baca Juga: Raja Yordania: Ambisi Ekspansionis Israel Ancaman Terbesar Masa Depan Kawasan
The Wall Street Journal melaporkan pelaut AS memuat amunisi dan menyiapkan pesawat di kapal perang, termasuk kelompok serang kapal induk USS George Washington, sementara NBC News melaporkan para komandan militer menyodorkan opsi serangan baru, termasuk ke fasilitas nuklir bawah tanah dan Pulau Kharg.
Di tengah eskalasi ini, jalur diplomasi masih terbuka. Perang AS dan Israel melawan Iran pecah sejak 28 Februari 2026, disusul gencatan senjata April dan nota kesepahaman Juni, sedangkan Arab Saudi, Turkiye, dan Pakistan bertemu pejabat Iran di Teheran pada Senin (26/10) untuk mencegah eskalasi.
Rusia juga menyatakan siap menjadi mediator, dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dijadwalkan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow pekan ini. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Knesset Baru Israel akan Gelar Sidang Perdana 10 November
















Mina Indonesia
Mina Arabic