Irena Handono: Valentine’s Day Bukan dari Islam

Irena Handono sedang wawancarai oleh wartawan MINA (Foto : Aqmar/MINA)
Irena Handono sedang wawancarai oleh wartawan MINA (Foto : Aqmar/MINA)

Valentine adalah budaya remaja modern yang tidak Islami bersumber dari kaum Nasrani. Valentine yang selalu diperingati setiap tanggal 14 Februari itu merupakan salah satu jebakan dari musuh-musuh Islam untuk menghancurkan generasi muda Islam.

Anehnya, yang sibuk mempersiapkan acara berlabel menghalalkan zina itu justeru mayoritas diikuti oleh remaja ber-KTP Islam. Mereka tidak sadar, nilai-nilai yang terkandung dalam valentine day sebenarnya ‘akidah’ Kristen. Bahkan ketika dinasehati, para remaja itu berkata, “Aku ngerayain Valentine kan buat fun-fun aja….”

Untuk mengungkap lebih jauh tentang hari valentine, berikut wawancara wartawan Mi’raj Islamic News Agency (MINA) dengan seorang mantan biarawati yang kini aktif menjadi pendakwah; Hj. Irena Handono atau biasa disapa Ummi.

MINA : Bagaimana awal mula valentine’s day, sedangkan perayaan tersebut tidak ada dalam agama Kristen?

Ummi : Valentine’s day itu adalah sinkritisme hasil perpaduan antara budaya dan agama pagan dengan agama Katholik, yang dilakukan oleh Paus Gelasius pada tahun 498 M. Jadi, valentine day bukan hal yang baru.

Semua berawal ketika seorang Gelasius khawatir melihat pengunjung gereja hanyalah kakek nenek. Sehingga Gelasius menyadari dan cemas akan masa depan gereja, maka ia membawa budaya yang sedang populer di kalangan Kristen itu masuk ke gereja untuk perubahan.

Jika di lihat dari negara asalnya, valentine day itu berasal dari Athena. Di Athena, valentine day adalah peringatan pernikahan Zeus dan Hera. Peringatan pernikahannnya di sebut Gamelion yang diminati oleh muda-mudi, tapi ada fakta lain yang tak banyak diketahui orang, bahkan orang Kristen sendiri, yaitu Zeus dan Hera adalah kakak beradik.

Galesius mengadopsi budaya tersebut masuk ke dalam agama Kristen, tapi diganti tokohnya dengan seorang pastur bernama Valentino yang dikabarkan di bunuh oleh penguasa saat itu karena membela atau menyebarkan kasih sayang.

MINA : Apakah ada gereja yang tidak mendukung perayaan tersebut?

Ummi : Baru-baru ini peringatan tersebut dilarang oleh beberapa gereja besar, salah satunya Gereja Ortodoks Timur antara lain Rusia, yang tidak tunduk pada Vatikan. Bahkan gereja tidak memperbolehkan perayaan tersebut dirayakan oleh pelajar, pegawai negeri dan pegawai negara.

Menurut penelitian Gereja Ortodoks ‘Sean’ (orang suci) bernama Valentino itu tidak ada. Dengan kata lain, Valentino itu hanya tokoh fiktif. Sehingga semua kegiatan tentang valentine dilarang karena hanya berisi perbuatan maksiat.

MINA : Apakah valentine day termasuk dalam salah satu hari besar, seperti Natal?

Ummi : Banyak yang salah mengartikan tentang valentine day tersebut, karena faktanya valentine day sendiri bukanlah termasuk hari besar. Valentine day adalah sebuah hasil dari budaya yang disalahartikan.

Natal sendiri itu bukan seperti hari besar, karena di negara-negara lain yang mayoritas beragama Kristen, perayaan natal hanya dianggap sebagai hari libur biasa dan hanya di Indonesia perayaan natal diadakan dengan sangat meriah dan berlebihan seperti halnya valentine day.

MINA : Bagaimana menanggapi fenomena valentine day yang marak terjadi di kalangan muda Indonesia?

Ummi : Menanggapi fenomena tersebut, semua kembali pada orang tuanya. Saat ini banyak orang yang berhenti belajar ketika sudah menikah. Akibatnya, banyak orang tua yang tertinggal karena perkembangan teknologi.

Banyak anak yang merasa lebih pintar dari orang tua, sehingga mereka merasa paling tahu dan tidak peduli jika orang tua mereka melarang mereka akan suatu hal. Sehingga banyak anak mengalami krisis kepercayaan pada orang tuanya sendiri.

Saya juga merasa miris ketika mengetahui bahwa perayaan tersebut dilakukan oleh kaum muda Muslim. Pemuda dan pemudi Muslim yang sedang dalam fase pertumbuhan, tapi ikut merayakannya tanpa mengetahui sejarah apapun mengenai perayaan tersebut.

MINA : Valentin day sama seperti virus mematikan, bagaimana mengantisipasi agar tidak terus menular di kalangan pemuda Muslim?

Ummi : Iman itu kadang naik, kadang turun. Ketika iman sedang naik, orang bisa dicegah tanpa diberitahu, tapi jika iman sedang goyah terutama dalam fase pencarian jati diri, mereka lebih ingin mencari tahu banyak hal tanpa peduli tentang iman.

Dalam situasi seperti itu, peran orang tua sangat penting untuk terus mengawasi anak mereka. Tidak peduli mereka sudah kuliah, atau dewasa, tentu mereka tetap butuh pengawasan dalam mengambil tindakan dan keputusan yang akan mereka perbuat.

MINA : Apa pesan yang ingin Ummi sampaikan kepada generasi muda Muslim sekarang?

Ummi : Pesan yang utama adalah jangan hanya berpegang pada “tidak tahu”, karena awal kehancuran dari ketidaktahuan. Hendaklah kita kembali pada agama Islam untuk mengetahui banyak hal yang Haq (benar). Jangan malas untuk mengetahui banyak hal, terutama kalangan pemuda yang bisa kita lihat sekarang sudah sangat ahli berselancar di dunia maya.

Manfaatkanlah keahlian berselancar tersebut untuk hal-hal yang bermanfaat dan berguna bagi dirinya untuk menghindari dari kehancuran pribadi di masa yang akan datang. (L/mar/een/R02)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)