Islam di Akhir Zaman Bagai Memegang Bara Api‎ (Oleh: Syaikh Samih bin Jamal Hadramaut)

Oleh: Syaikh Samih bin Jamal bin Jamal Shaleh Ali Al-Kuhali; Ulama dari Kota Aden, Hadramaut, Yaman

Islam adalah agama akhir zaman, yaitu agama yang sempurna untuk menyempurnakan ajaran agama sebelumnya, agama bagi seluruh umat manusia yang membawa kedamaian, rasional, yang sesuai fitrah manusia untuk keselamatan hingga hari akhirat kelak.

Namun demikian, mengamalkan ajaran Islam sesuai yang diperintahkan Allah SWT dan Rasul-Nya di akhir zaman, tidaklah mudah, harus melewati banyak cobaan, penderitaan, kesengsaraan hidup dalam menghadapi fitnah akhir zaman sehingga kunci utama untuk melewatinya adalah kesabaran terhadap berbagai ujian Allah agar tetap istiqamah dengan ajaran agama meskipun berat.

Bahkan, saking beratnya memegang syariat agama Islam ini di akhir zaman terasa bagaikan memegang bara api, karena pada saat itu Islam dan umatnya yang istiqamah dianggap asing, dikucilkan dan orang-orang sudah semakin malas-malasan melakukan syariat Islam, sampai pada kondisi benci berbicara dan menjalankan Islam.

Inilah fenomena dan fitnah akhir zaman yang harus dihadapi dan dilewati umat Islam saat ini. Orang yang memegang teguh agama Islam bagai memegang bara api, ‎panas dan menyakitkan. Tapi beruntunglah orang-orang yang memegang bara api yang dijanjikan kemenangan oleh Allah.

Salah satu yang beruntung tersebut adalah Aceh dan umat Islam di daerah ini yang tengah menerapkan ajaran dan hukum syariat Islam, yang sama seperti memegang bara api. Menerapkan syariat Islam ini bagai memegang bara api karena akibatnya Aceh akan dikucilkan, dilecehkan, dicap radikal, intoleran, melanggar HAM dan dituding diskriminatif oleh pihak luar dan dunia internasional yang tidak senang syariat Islam diberlakukan.

Selama ini, Aceh sudah menerima banyak stigma negatif, dan penilaian buruk dari pihak-pihak luar karena menerapkan syariat Islam, ini tentunya sama seperti menggenggam bara api, yang yang apabila tidak kuat dan tidak sabar maka akan melepaskannya dan meninggalkan syariat Islam.

Alhamdulillah, umat Islam dan pemerintah di Aceh masih kuat memegang bara api ini, dan tidak pernah mundur sampai saat ini untuk menerapkan syariat Islam meski berbagai serangan dan tuduhan negatif. Tapi ini, belum seberapa, ke depan akan lebih berat lagi cobaan dan ujian ketika kita berupaya menegakkan syariat.

Aceh terus bersabar dan istiqamah untuk membela dan menegakkan syariat berdiri tegak di Aceh, apapun resikonya, karena tantangan ke depan dari kalangan musuh-musuh Islam yang tidak senang dengan syariat ini akan semakin berat.

Insya Allah, dengan dukungan semua pihak, termasuk dari kalangan pemerintah, ulama, wartawan dan lainnya, syariat Islam bisa terus tegak di Aceh.

Meskipun di sana-sini masih ada kekurangan, teruslah berupaya untuk memperbaiki menuju ‎kesempurnaan. Meski belum berhasil, teruslah berusaha, karena Allah hanya akan melihat usaha kita lakukan masing-masing sesuai profesi untuk berjuang demi tegaknya syariat ini, bukan hasilnya yang Allah lihat. ‎

Kebaikan akan sempurna jika digabung dengan kebaikan yang lain. Kebaikan dari segala profesi ‎untuk Islam.

Kami berharap agar penjaga dan penegak ajaran Islam di Aceh seperti ulama, punya kedudukan tinggi di hati kaum muslimin, bukan malah orang yang merusak agama Islam punya kedudukan tinggi dan khusus.‎

Agama Islam itu sangat ditakuti oleh orang kafir, meskipun mereka tahu kebanyakan pengikut Islam itu adalah orang-orang lemah dari segi kekayaan dan kekuasaan,‎ dan tak mungkin orang Islam memerangi kafir.

Mereka tahu tak mungkin umat Islam kerjakan yang mereka takuti selama ini, bahkan dengan usaha mereka perangi dan musuhi Islam, maka Islam akan berkembang, bahkan jika terus diperangi dengan berbagai cara, maka 60 persen penduduk Eropa suatu saat akan beragama Islam.

Islam agama yang paling pesat berkembang di muka bumi, bahkan tak sampai 25 tahun lagi Perancis akan jadi negeri kaum muslimin. Usaha orang kafir hanya ingin membuyarkan perkembangan Islam dan kaum muslimin, dirusak dari berbagai sisi itu, tapi meski demikian tetap saja Islam berkembang. (AK/R01/P1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)

*Tausyiah ini disampaikan Syaikh Samih bin Jamal bin Jamal Shaleh Ali Al-Kuhali yang juga pengajar di Rubath Al-Idrus di Aden Hadramaut, Yaman, saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak Jeulingke, Rabu (6/2/2018) malam.

Dalam tausyiahnya, Syaikh Samih yang juga penceramah resmi Kementerian Wakaf Yaman ini didampingi penerjemah, Habib Alwi bin Shahab dari Tangerang dan Tgk H Muhammad Hatta Lc M.Ed (Pimpinan LPI Dayah Madani Al-Aziziyah Lampeuneureut Ujong Blang, Darul Imarah, Aceh Besar).