Islam di Antara Trump dan Clinton

Oleh: Illa Kartila – Redaktur Senior Miraj Islamic News Agency/MINA

Donald Trump, kandidat Presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik diprediksi akan bertarung dengan lawan kuatnya, Hillary Clinton dari Partai Demokrat, dalam pemilihan presiden yang bakal digelar November 2016.

Trump, ditengarai sebagai tokoh rasis dan tidak berpihak pada Islam. Dia bahkan mengusulkan larangan terhadap kaum Muslim memasuki AS, terutama  setelah serangan di Paris yang menewaskan 130 orang, tahun 2015. “AS akan menolak datangnya Muslim dari seluruh dunia, hingga ada regulasi yang lebih jelas,” katanya.

Larangan yang dicetuskan Trump tentu saja menuai banyak kritik, baik di Amerika Serikat maupun luar negeri. Namun Trump tetap teguh dengan usulannya. Alasan Trump, aturan tersebut diperlukan guna memastikan keamanan di negara itu.

Terkait larangan tersebut, Sadiq Khan, seorang Muslim yang baru terpilih sebagai Walikota London sebelumnya mengatakan, jika Trump menjadi Presiden AS dan menerapkan kebijakan itu, maka dia sebagai orang Islam tak akan bisa datang ke Amerika.

“Saya ingin pergi ke AS untuk bertemu dan bertukar pikiran dengan wali kota-wali kota Amerika,” kata Khan kepada majalah Time. “Namun, jika Donald Trump menjadi presiden, maka saya tidak akan pergi ke sana karena agama saya.”

Menanggapi pernyataan Walikota London Sadiq Khan, dalam percakapan dengan Fox News Radio, Trump mengatakan bahwa larangan itu ‘sekadar saran.’ Dia juga sempat mengatakan akan memberikan ‘pengecualian’ bagi Khan.

Namun Khan menolak tawaran Trump dan mengatakan pandangan pengusaha New York itu ‘ngawur’ dan akan membuat Inggris dan AS ‘lebih tidak aman.’

Pada Konvensi Partai Republik di Cleveland, Ohio pertengahan Juli ini, Trump secara resmi menerima nominasi sebagai calon Presiden AS dari partai tersebut. Dalam pidatonya dia menekankan, jika terpilih menjadi Presiden AS maka akan mengedepankan urusan dalam negeri dibanding kepentingan di luar negeri.

“Selama kita dipimpin oleh para politikus yang tidak mengedepankan AS, maka saya bisa pastikan negara lain tidak akan memperlakukan AS dengan hormat. Semua akan berubah ketika saya mengemban jabatan (sebagai Presiden AS),” ujar Trump seperti dikutip dari NPR.

“Pesan saya adalah keadaan harus berubah. Setiap hari saya bangun (pagi untuk) bertekad memberikan kehidupan yang lebih baik bagi para rakyat di negeri ini yang telah diabaikan dan ditinggalkan (oleh pemerintah saat ini),” katanya.

Trump juga menyebut dirinya sebagai seorang juara dari para pekerja “berkerah biru” dan warga dari kelas menengah. Ia juga mengatakan, jika Hillary Clinton juga terpilih menjadi capres dari Partai Demokrat maka kesenjangan ekonomi di AS akan terus berkembang.

Merespon ancaman kelompok militan Islamic State di kancah global, Trump pernah berjanji akan “membombardir habis-habisan” ISIS di Irak — terutama terhadap beberapa sumur minyak — untuk memangkas sumber dananya.

Untuk di Suriah, Trump mengaku akan menyerahkan tugas memerangi ISIS kepada pemerintah lokal. Trump adalah satu-satunya tokoh di AS yang menyambut baik keterlibatan Rusia dalam konflik di Suriah.

Tentang masalah konflik Suriah, Trump menyarankan dibuatnya semacam zona aman di negara tersebut, yang pendanaannya akan dibantu Washington. Ia juga meminta negara lain turut berkontribusi dan melindungi zona tersebut.

Sementara terkait Israel, Trump telah berjanji tetap “netral” dalam mendamaikan Israel dan Palestina. Dia juga berjanji mendukung penuh Israel.

Muslim dukung Hillary

Hillary Clinton, dinilai sebagai kandidat yang baik dan memahami kebutuhan umat Islam di negeri Paman Sam tersebut serta memahami kalau AS bangsa yang multikultur. Dia malah menolak untuk menggunakan kata “Islam radikal” kepada pelaku aksi teror di Barat. Karena penolakannya ini, dia dikecam berbagai pihak.

Dalam acara “This Week” di stasiun televisi ABC yang dikutip CNN beberapa waktu lalu, Clinton mengaku tidak akan menggunakan kata tersebut karena “terdengar seperti sedang berperang melawan sebuah agama.”

“Ini tidak adil bagi sebagian besar Muslim di negara kita dan seluruh dunia yang cinta damai,” ujarnya sambil menambahkan bahwa kata tersebut hanya akan memicu perpecahan yang justru menjadi bahan bakar bagi kelompok radikal seperti ISIS.

“Kedua kata itu membantu menciptakan bentrokan peradaban yang menjadi alat rekrutmen bagi ISIS dan kelompok jihadis radikal lainnya yang mengatakan: ‘Kami berperang melawan Barat — kalian harus bergabung’,” kata Clinton.

Sikapnya yang lebih baik terhadap Islam, membuat kaum Muslim banyak mendukung Hillary untuk menjadi Presiden AS menggantikan Obama. “Saya sangat berharap Ibu Hillary Clinton memenangkan pemilihan presiden yang akan datang, harapan Muslim ada padanya,” kata Shakat, seorang Muslim  warga AS.

Pengemudi taksi ini mengatakan, Muslim tidak mendukung Donald Trump. “Saya yakin Trump tak bisa mengatasi masalah yang dihadapi warga Amerika, apalagi dia tak memiliki sikap empati kepada warga Muslim. Semua Muslim Amerika berdoa supaya Donald Trump tak menjadi Presiden AS. Semoga Ibu Clinton yang menang.”

Seorang warga AS lainnya, Hasheem mengatakan, Donal Trump membuat warga Amerika Serikat terlihat jahat dan buruk. Padahal, orang-orang Amerika itu sebenarnya baik. “Saya tak mau  Trump menjadi presiden Amerika. Kami, umat Muslim, mendukung Hillary Clinton menjadi calon presiden Amerika menggantikan Obama.”

Salam, warga Amerika Serikat keturunan Afrika berharap, jangan sampai Donald Trump menjadi presiden Amerika. Sebab, dia memiliki sikap yang buruk. Pemimpin Amerika ke depan harus lebih baik dari Obama. “Obama merupakan salah satu Presiden Amerika terbaik. Jangan sampai digantikan Donald Trump, dia itu mengerikan.”

Donald Trump saat ini banyak sekali melakukan aksi rasisme. Ia melakukan ini untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat. Isu terorisme membuat banyak orang di Amerika membenci Islam. Jika ia sampai jadi presiden, maka umat Islam di AS bisa terus ditindas.

Ia bahkan ingin orang Islam pakai kartu identitas khusus, alasannya agar jika terjadi terorisme mereka mudah dilacak. Harian AS The Boston Globe, memublikasikan sebuah berita rekayasa analisa yang memosisikan jika Trump terpilih menjadi Presiden AS. Berbagai peristiwa buruk dan mengerikan bisa terjadi jika dia benar-benar  menerapkan semua idenya pada masa kampanye.

Seperti dilansir AFP, The Boston Globe menyebut pada awalnya Trump akan menggelar deportasi besar-besaran, di mana akan ada pengusiran sekitar 11 juta imigran dan warga Muslim di AS. Selanjutnya deportasi massal ini juga akan memicu kerusuhan besar-besaran serta penerapan jam malam di berbagai kota di AS.

‘Pasar tenggelam dan  perang perdagangan terbuka kini hadir’ judul salah satu artikel lain dari The Boston Globe terkait prediksi Donald Trump. Di mana membahas soal semakin buruknya hubungan perdagangan AS dengan negara-negara seperti Meksiko dan juga Cina.

Meroketnya popularitas Trump membuat cemas Ramadhan Saeed Shakir dan tetangga-tetangganya di Islamville, perkampungan muslim di South Carolina. “Tentu saja kami merasa tak aman dan tak nyaman,” kata Ramadhan, pemimpin kampung Muslim itu. Padahal Ramadhan dan sebagian besar warganya adalah warga Amerika Serikat tulen.

Pandangan yang sangat kontras dari dua kandidat presiden ini agaknya bakal memudahkan warga AS untuk menentukan pilihannya pada pilpres. Menyikapi aksi penembakan di Orlando yang menewaskan 50 orang, Trump bersikeras bahwa insiden itu menjadi bukti perlunya pengawasan ketat terhadap komunitas-komunitas Muslim dan masjid-masjid di AS.

Sementara, Hillary Clinton, justru meminta agar warga AS tidak saling menyalahkan dan tidak menjadikan insiden itu sebagai alasan untuk membenci kelompok agama tertentu. “Kita tidak bisa menjelekkan dan menyatakan perang terhadap suatu agama. Itu sangat berbahaya,” katanya kepada jaringan televisi MSNBC.

Hillary berusaha sebisa mungkin menghindari terjebak dalam isu semacam itu, karena menurut pandangan mantan first lady AS itu jauh lebih penting apa yang dilakukan daripada apa yang dikatakan. (R01/R05)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)