Islam Sebagai Rahmat bagi Semesta Alam (oleh: Imaamul Muslimin Yakhsyallah Mansur)

Firman Allah dalam surah Al-Anbiya ayat: 107

وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ (الأنبياء [٢١]: ١٠٧)

Terjemahnya:

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Imam Muslim meriwayatkan,

“Ketika Rasulullah ﷺ diminta oleh sebagian sahabat untuk mendoakan tidak baik kepada orang musyrik,” beliau bersabda:

إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً

“Sesungguhnya aku tidak diutus sebagai tukang melaknat, sesungguhnya aku diutus hanya sebagai rahmat.”

Pengertian Rahmat

Rahmat secara bahasa berarti
الرِّقَّةُ وَالتَّعَطُّفُ“Kasih sayang yang berpadu dengan rasa iba.” (Lisanul Arab)
Sedangkan menurut Ahmad Musthafa Al-Mara-ghi:

مَعْنَى يَقُوْمُ بِالْقَلْبِ يُبْعِثُ صَاحِبَهُ عَلَى الْإِحْسَانِ إِلَى سِوَاهُ

“Perasaan jiwa yang mendorong pemiliknya untuk berbuat baik kepada orang lain.”

Menurut Ar-Raghib Al-Isfihani kata rahmat pada dasarnya memiliki dua pengertian yaitu kasih sayang dan kebajikan.

Dalam hal ini, rahmat berarti kasih sayang yang menuntut adanya kebaikan terhadap yang dikasihi. Akan tetapi, dalam konteks kalimat kadang kalimat tersebut digunakan untuk menyatakan salah satu pengertian saja yaitu kasih sayang atau kebajikan.

Kata rahmat terambil dari Ar-Rahman atau Ar-Rahim yang berarti kerabat dan asal semua itu ialah Ar-Rahim artinya kandungan wanita.

Di dalam Al-Qur’an, kata rahmat muncul ratusan kali dalam berbagai konteks dan pengertian, antara lain:

Kebaikan yang diberikan Allah kepada manusia misalnya:

 إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ (الأعراف [٧]: ٥٦)

Sesungguhnya ramat Allah dekat kepada orang-orang yang berbuat baik,” (Q.S. Al-A’raf (7): 56)

Kasih sayang yang terjalin antara sesama manusia misalnya:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً (الروم [٣٠]: ٢١)

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenis-mu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang,” (Q.S. Ar-Rum (30): 21).

Berbagai kenikmatan dan karunia dari Allah misalnya:

وَلَئِنْ أَذَقْنَا الْإِنسَانَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نَزَعْنَاهَا مِنْهُ إِنَّهُ لَيَئُوْسٌ كَفُوْرٌ (هود [١١]: ٩)

“Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih,” (Q.S. Hud (11): 9)
Jannah (Surga) misalnya:

يُدْخِلُ مَنْ يَشَاءُ فِي رَحْمَتِهِ ۚ وَالظَّالِمِيْنَ أَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيْمًا (الإنسان [٧٦]: ٣١

Dan memasuki siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya (surga). Dan bagi orang-orang zalim disediakan-Nya azab yang pedih,”

(Qs. Al-Insan (76): 31)

Apabila kita perhatikan di dalam Al-Quran, maka akan kita dapati hampir setiap halaman terdapat kalimat rahmat atau yang senada dengannya, seperti wadud (penyayang), ‘afwu (pemaaf), halim (penyantun), rauf (pengasih) dan sebagainya. Bahkan setiap kali kita membaca suatu surat, selain surat Al-Baraah kita diperintahkan membaca “bismillaahir rahmaanir rahiim” dan pada pertengahan Al-Qur’an kita dapati kalimat “wal-yatalaththaf” (dan hendaklah berlaku lemah lembut). (Q.S. Al-Kahfi [18]: 19).

Dalam Alquran terdapat surat Ar-Rahman yang menjelaskan bahwa sebagai wujud kasih sayang Allah adalah mengajarkan Alquran kepada manusia sehingga manusia dapat mewujudkan kasih sayang di antara mereka dan mempunyai pegangan yang kokoh yang akan menuntun mereka kepada kebahagiaan hakiki di dunia dan di akhirat.

Oleh karena itu apabila manusia mengamalkan Al-Quran maka mereka akan dapat hidup rukun, damai dan menebarkan kasih sayang.

Sebaliknya apabila manusia mengabaikan Al-Quran mereka akan selalu bermusuh-musuhan dan akan mengakibatkan kekacauan serta hilangnya kasih sayang di antara sesama makhluk.

Urgensi Sifat Rahmat

Dari Jarir bin Abdullah dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَرْحَمُ اللَّهُ مَنْ لَا يَرْحَمُ النَّاسَ (رواه البخاري)

 

Allah tidak akan menyayangi siapa saja yang tidak menyayangi manusia. (H.R. Al-Bukhari no. 7276)

Dari Abu Hurairah dia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تُنْزَعُ الرَّحْمَةُ إِلَّا مِنْ شَقِيٍّ (رواه أبو داود و ترمذي)

“Rasa kasih sayang tidak akan dicabut kecuali dari orang yang celaka,” (H.R. Abu Daud no. 4942, At-Tirmizi no. 1923, dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami,” no. 7467)

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ عَبْدًا نَزَعَ مِنْهُ الْحَيَاءَ فَإِذَا نَزَعَ مِنْهُ الْحَيَاءَ لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا مُقِيْتًا مُمَقَّتًا فَإِذَا لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا مُقِيْتًا مُمَقَّتًا نُزِعَتْ مِنْهُ الْأَمَانَةُ فَإِذَا نُزِعَتْ مِنْهُ الْأَمَانَةُ لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا خَائِنًا مُخَوَّنًا فَإِذَا لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا خَائِنًا مُخَوَّنًا نُزِعَتْ مِنْهُ الرَّحْمَةُ فَإِذَا نُزِعَتْ مِنْهُ الرَّحْمَةُ لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا رَجِيْمًا مُلَعَّنًا فَإِذَا لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا رَجِيْمًا مُلَعَّنًا نُزِعَتْ مِنْهُ رِبْقَةُ الْإِسْلَامِ (رواه إبن ماجه)

Dari Ibnu Umar, bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Apabila Allah hendak membinasakan seorang hamba maka Dia akan mencabut rasa malu dari-nya, apabila rasa malu sudah dicabut darinya maka kamu akan mendapatinya dalam keadaan sangat dibenci. Jika kamu tidak mendapatinya melainkan dalam keadaan sangat dibenci, maka akan dicabut amanah darinya, apabila amanah telah dicabut darinya, maka kamu tidak mendapatinya kecuali dalam keadaan menipu dan tertipu.

Apabila kamut menjumpainya melainkan dalam keadaan menipu dan tertipu, maka akan dicabut darinya sifat kasih sayang, dan apabila dicabut darinya kasih sayang, kamu tidak akan menjumpainya kecuali dalam keadaan terlaknat lagi terusir, dan apabila kamu tidak menjumpainya melainkan dalam keadaan terlaknat lagi terusir, maka akan dicabut darinya ikatan Islam.” (H.R. Ibnu Majah). (A/Gun/P1)

Bersambung…

Mi’raj News Agency (MINA)