Mengaku Islam Tapi Kurang Mengenal Ajaran Islam

Oleh Bahron Ansori, Redaktur MINA

HARI ini, tak sedikit orang yang mengaku Islam tapi tak mengenal ajaran Islam. Satu contoh kecil adalah masalah ‘Shalat’. Banyak sekali umat Islam yang mengaku Tuhan-nya adalah Allah, Nabi-nya adalah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tapi ketika seruan adzan datang memanggil, mereka tetap saja sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Shalat, biarlah tertunda-tunda, yang terpenting pekerjaan jangan sampai terbengkalai. Akhirnya, shalat yang seharusnya dikerjakan di awal waktu, tapi dikerjakan di akhir waktu. Demikian itu dilakukan sepanjang hidup.

Itu baru masalah shalat, amal pertama yang kelak PASTI akan ditanya pertama kali oleh Allah. Jika shalatnya baik, maka baik semua amalannya yang lain. Sebaliknya, jika shalatnya buruk, maka itu artinya buruk semua amalannya yang lain.

Dalam sebuah hadis dikatakan bahwa shalat adalah tiang agama. Jika shalatnya baik, maka baik semua amalan yang dilakukannya. Semua bermula dari shalat. Jika shalatnya baik, amal ibadahnya pun baik.

Tentang Islam yang akan asing di akhir zaman ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat yang lain, beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda menjelaskan siapakah al-ghuroba, orang-orang yang asing itu,

…الَّذِيْنَ يُصْلِحُوْنَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِي مِنْ سُنَّتِي.

 “Yaitu orang-orang yang memperbaiki sunnahku (Sunnah Rasulullah ) sesudah dirusak oleh manusia.” (HR. Tirmidzi).

Inilah realita yang tidak bisa dipungkiri, keindahan dan hakikat agama Islam yang mulia ini tidak dikenal dan tersembunyi bagi umat Islam itu sendiri. Mereka beragama Islam, tapi tidak mengenalnya dan juga tidak mengamalkannya. Padahal Alla Ta’ala berfirman,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“(Dia-lah Allah) yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2).

Allah menjadikan bumi ini indah sebagai tempat hidup kita umat manusia, agar Dia menguji kita siapakah di antara kita yang baik amalannya. Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa mereka yang baik amalannya lah yang akan mendapatkan kemuliaan di sisi-Nya. Baik dalam arti zahirnya perbuatan itu adalah perbuatan yang baik, bukan bersifat merusak atau zalim. Dan baik dalam arti sesuai dengan teladan dan contoh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bukan baik menurut perasaan semata.

Kita boleh mengatakan diri kita sebagai seorang muslim. Namun ada pertanyaan di balik pernyataan ini. Terkumpulkah pada diri kita sifat-sifat muslim atau mukmin? Lebih jauh lagi, kita katakan bahwa diri kita seorang Ahlussunnah wal Jamaah. Namun pertanyaannya, sudahkah pada diri kita terkumpul sifat orang-orang yang mengikuti sunnah? Sudahkah amalan, perbuatan, dan akhlak kita sesuai dengan akhlaknya salafush shalih? Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,

“Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2).

Sehingga ketika para sahabat Nabi mengucapkan dua kalimat syahadat, memeluk Islam, mereka langsung bertanya tentang “amalan apakah yang paling baik?”, “Sedekah apakah yang paling baik?” “Jihad apa yang paling utama?”

Melihat keadaan umat Islam pada hari, salah seorang ulama mengatakan, “jangan dibandingkan Islam dengan kondisi umat Islam pada hari ini”. Ini adalah sebuah ungkapan yang tepat dan menjadi introspeksi kita bersama. Lihatlah, ketika Islam menggambarkan akhlak yang terpuji, maka sebagian umat Islam tidak berakhlak dengan akhlak yang terpuji. Jika Islam menggambarkan keagungan dan kemulian, maka kondisi sebagian umat Islam tidak menggambarkan keagungan dan kemuliaan itu.

Karena itu, sebagai seorang muslim, mari kita beramal dengan sebaik-baik amal, wallahua’lam. (A/RS3/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)