Islamofobia dan Kejahatan Akibat Kebencian Meningkat di AS

Ketakutan akan memuncaknya kefanatikan dan kejahatan-kejahatan akibat kebencian telah menjadi kenyataan bagi sejumlah orang Amerika sejak kemenangan Donald Trump. Inilah daftar insiden yang terus bertambah.

The Southern Poverty Law Center (SPLC) mencatat 867 kasus ancaman kebencian atau intimidasi di Amerika Serikat (AS) dalam tempo 10 hari setelah pemilihan presiden 8 November yang lalu.

Jumlah insiden yang dilaporkan menurun hampir setiap hari sejak 9 November, sehari setelah pemilu sampai 18 November. Tetapi insiden telah menyebar, kata SPLC.

“Insiden itu ada di mana-mana – di sekolah, di tempat-tempat belanja seperti Walmart, di jalan-jalan,” kata Direktur SPLC,  Richard Cohen.

Beragam kritik menuduh Trump menyuburkan Xenofobia dan Islamofobia selama kampanye yang bersifat memecah-belah. Hari-hari terakhir ini terlihat peristiwa-peristiwa rasis atau anti-semit, graffiti pro-Trump berikut ancaman-ancaman atau serangan-serangan terhadap kaum Muslim.

Presiden terpilih itu mengaku “sangat sedih” mendengar lontaran kebencian oleh beberapa pendukungnya terhadap kelompok minoritas.

“Jika membantu, saya akan mengatakan ini, dan saya akan bicara langsung di depan kamera: Hentikan itu,” kata Trump dalam program “60 Minutes” CBS.

Tidak semua insiden dilakukan oleh para pendukung Trump. Seorang pria di Chicago dilaporkan   dipukul ketika dia berteriak dekat seorang penonton, “Anda memilih Trump!” Dan dua lelaki di  Connecticut ditahan karena tuduhan menyerang seorang pendukung Trump.

Insiden-insiden yang terkait pemilu menyertai serangan-serangan yang meningkat terhadap kaum Muslim AS.  Jaksa Agung AS, Loretta Lynch mengatakan, statistic FBI selama 2015 menunjukkan kenaikan 67 persen dalam kejahatan-kejahatan kebencian terhadap Muslim Amerika.  Kejahatan kebencian kepada orang Yahudi, Afrika Amerika dan orang-orang LGBT juga meningkat.

Secara keseluruhan, kejahatan akibat kebencian naik 6 persen, tetapi angka ini bisa lebih tinggi karena banyak insiden tidak dilaporkan, kata Lynch. Di bawah ini apa yang dialami beberapa Muslim Amerika di seluruh negeri:

Masjid-masjid menerima surat desakan bunuh diri

Sebuah kelompok yang menamakan dirinya “Americans for a Better Way” mengirimkan salinan-salinan dari sepucuk surat ke sedikitnya lima masjid di California, menyebut kaum Muslim “orang keji dan kotor” serta menganjurkan pemusnahan secara teratur (genosida).

“Ada seorang sheriff baru di kota ini — Presiden Donald Trump,” tulis sepucuk surat yang ditujukan kepada “Anak-anak Setan”.

“Dia akan membersihkan Amerika dan membuat negara ini bersinar kembali,” tulis  surat itu lagi.  “Dan dia akan mulai dari kaum muslim. Dia akan melakukan apa yang dilakukan Hitler terhadap kaum Yahudi. Hai kaum muslim, bawalah koper-koper anda dan pergilah dari Dodge.”

Kantor Polisi San Jose menyebut surat itu “mendorong insiden kebencian” dan akan disedidiki.

‘Pulang’ tulisan cakar ayam di mobil

Sebuah mobil milik keluarga Puerto Rico telah dicorat-coret pada 17 November dengan kata-kata “Trump” dan “Pulang” di West Springfield, Massachusetts, kata polisi dan salah seorang korban kepada CNN.

Jorge Santiago, veteran angkatan darat yang pernah bertugas dua kali di luar negara itu, menemukan coretan di sedan merahnya setelah dia mengantarkan anak perempuannya ke dalam bis sekolah. Dia segera melaporkan vandalisme itu kepada polisi West Springfield.

Kepala Polisi West Springfield, Capt. Daniel Spaulding mengatakan, para ditektif menindak-lanjuti dan menyelidiki kasus itu. Mereka belum memastikan apakah coretan-coretan itu termasuk suatu kejahatan akibat kebencian.

Menurut Santiagos, keluarganya mendukung Hillary Clinton dalam pemilu, tetapi mereka tidak memasang tanda apa-apa di halaman mereka dan hanya memiliki sebuah stiker kecil Clinton di mobilnya.

Seorang motoris mencegat sopir Uber yang tengah mengendarai sebuah mobil dalam suatu   insiden penuh kebencian di  New York City.

Si pengendara Uber, seorang Muslim dan penduduk asli dari Maroko, terlihat dalam insiden yang terekam video. Itu terjadi di daerah Astoria di Queens pada 17 November.

Pengemudi Uber mengatakan kepada CNN, si motoris memotong jalannya, berteriak dan mengikutinya sejauh beberapa blok.

Ketika keduanya terpaksa berhenti, si motoris menyuruh pengemudi Uber membuka kaca jendela. Si motoris kemudian menyemprotkan profane dan melontarkan kata-kata rasis kepadanya.

Dia mengutip kata-kata itu: “Trump adalah presiden, dengan demikian kamu ucapkan selamat tinggal pada visa kamu, bedebah. Mereka akan segera mendeportasi kamu, jangan kuatir, kamu teroris.”

Pengemudi Uber yang datang ke AS sekitar tujuh tahun itu  meminta kepada CNN agar tidak menyebutkan namanya karena kuatir akan keamanan keluarganya.

Chris Cody, penumpang Uber berikutnya bertanya kepada si pengemudi bagaimana hari-harinya berlangsung. Si sopir mengisahkan apa yang baru saja terjadi dan menunjukkan videonya, kata Cody kepada CNN.

Cody bertanya apakah dia boleh memasukkan video itu ke dalam media sosial dan menyebarkannya?  Hari berikutnya, Cody memasukkan video itu dalam halaman Facebooknya  dan menulis, “ini adalah sebuah posting tentang mental yang menjijikkan dari orang-orang Amerika yang tak terdidik dan xenophobia pada abad 21.” Video itu kemudian menjadi viral. (R01/ P2 )

Sumber CNN

Miraj Islamic News Agency/MINA