Israel Gunakan Taktik ‘Hasutan’ Untuk Bungkam Rakyat Palestina

Ramallah, 3 Rajab 1437/10 April 2016 (MINA) – Tuduhan hasutan untuk melakukan kekerasan adalah taktik yang umum digunakan oleh aparat keamanan guna melegitimasi penyalahgunaan warga , demikian laporan Middle East Monitor (MEMO).

Lembaga pengamat Timur Tengah berbasis di London juga melaporkan seperti dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Ahad, bahwa menurut Kementerian Luar Negeri Israel, penamaan jalan-jalan dengan para tokoh dan pejuang Palestina dianggap sebagai “menghasut kekerasan terhadap Israel.”

Musisi, aktor, dan acara yang merayakan perlawanan dan budaya prestasi Palestina juga dianggap “hasutan untuk melakukan kekerasan” oleh Israel.

Menurut Komite Tahanan Otoritas Palestina, sejak Oktober, lebih dari 200 warga Palestina – termasuk wartawan – telah ditahan dengan dalih hasutan.

Pertsatuan Wartawan Palestina (PJS) juga mengatakan bahwa Otoritas Pendudukan Israel menutup lima organisasi Palestina selama beberapa bulan terakhir dengan dalih hasutan.

Nasser Abu Baker, Ketua PJS, mengatakan kepada Kantor Berita Anadolu, Israel secara strategis membungkam media-media Palestina.

Otoritas Pendudukan Israel mengumumkan pada November lalu bahwa mereka akan menutup semua organisasi media yang menyiarkan materi yang menghasut kekerasan. Segera setelah pengumuman tersebut, tiga stasiun radio Palestina di Kota Hebron ditutup.

“Mereka menutup stasiun radio Dream, Al-Huriyya, dan Al-Khalil,” kata Talb Al-Jabari, Direktur Umum Radio Dream kepada Anadolu. “Mereka menutup stasiun dengan dalih bahwa media itu mempromosikan kekerasan terhadap Israel.”

Otoritas Pendudukan Israel mempertimbangkan siaran agresi-agresi Israel terhadap Palestina sebagai hasutan.

Pada 10 Maret, kabinet Israel mengeluarkan perintah yang ditujukan untuk mengintensifkan tindakan keras terhadap media-media Palestina.

Dalam waktu 24 jam, tentara pendudukan Israel dan Badan Intelijen Shin Bet menggerebek kantor Palestine Today TV, menyita peralatan saluran tv dan memerintahkan untuk ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut. Direktur saluran tv tersebut juga ditahan.

Sedikitnya 13 wartawan Palestina telah ditangkap dalam beberapa bulan terakhir, termasuk Mohammed Al-Qeeq, yang melakukan mogok makan selama 94 hari untuk memprotes penahanannya.

Pada Maret, Israel mengumumkan pembentukan unit tentara yang bertugas memantau media sosial. Setidaknya 150 warga Palestina telah ditangkap karena memasang tulisan-tulisan anti-Israel di Facebook sejak Oktober lalu.

Sementara itu, Menteri Kehakiman Israel Ayelet Shaked, yang menyerukan pembantaian ibu Palestina yang melahirkan “ular kecil” di akun resmi Facebook-nya, tidak diberikan hukuman. Postingannya dibagi oleh lebih dari 1.200 orang dan menerima lebih dari 5.000 orang suka di situs media sosial itu.(T/R05/R01)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)