Israel “Jaga Diet” dan “Rumput” di Gaza

Oleh: Asa Winstanley, jurnalis investigasi di London

Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) melaporkan bahwa kerugian ekonomi Gaza akibat pengepungan Israel sejak 2007, bersama dengan serangkaian serangan militer besar-besaran, berjumlah tidak kurang dari US$ 16,7 miliar.

Pengepungan itu dimulai sebagai cara untuk menghukum warga Palestina karena menolak memilih kandidat pilihan Israel dalam pemilihan Otoritas Palestina (PA) 2006.

Gerakan Perlawanan Islam Palestina Hamas memenangkan pemilihan tersebut dengan telak. Tapi mereka mencari kompromi untuk pemerintahan persatuan dengan faksi lain. Namun Fatah – yang mendominasi PA hingga saat itu – menolak tawaran tersebut.

Sebaliknya, faksi Fatah yang dipimpin oleh panglima perang Gaza yang brutal, Mohammed Dahlan, meluncurkan upaya kudeta, yang didukung oleh CIA dengan persetujuan Israel. Presiden AS George W. Bush bahkan menyebut Dahlan “orang kita”.

Tapi Hamas – pemerintah PA yang dipilih secara bebas dalam pemilu – melihat kudeta datang dan menghentikannya sejak awal di Gaza. Dahlan dan pasukannya terusir dari Gaza yang menjadi basis hampir seluruh kekuatan militer Hamas.

Tapi kudeta Fatah-AS-Israel berhasil di Tepi Barat. PA tidak mengadakan pemilihan sejak itu dan masa jabatan pemimpinnya Mahmoud Abbas sebagai presiden telah berakhir beberapa tahun lalu. Jajak pendapat menunjukkan bahwa dia sangat tidak populer di kalangan warga Palestina yang ingin dia mundur.

Hari ini, setelah berselisih dengan Abbas karena tuduhan korupsi, Dahlan tinggal di pengasingan di Uni Emirat Arab (UEA). Dia dibiayai oleh rezim kudeta militer Mesir dan oleh Putra Mahkota Abu Dhabi Mohammed Bin Zayed.

Penguasa regional sekutu AS ini akan senang melihat Dahlan masuk dan mengambil alih PA dari Abbas ketika dia meninggal. Abbas pemimpin yang menua berusia 85 tahun dan tidak memiliki penerus yang jelas.

muhamaddahlan
Muhammad Dahlan.

Orang Israel juga akan mencintai Dahlan karena alasan yang sama. Dahlan dilaporkan telah mberpengaruh besar pada keputusan UEA baru-baru ini untuk sepenuhnya menormalisasi hubungan dengan Israel. Dia juga terlibat dalam operasi pembunuhan rahasia di Yaman. Dilaporkan ia telah menyewa tentara bayaran Israel untuk melakukan komplotan ini.

Sementara politik terus berkecamuk, rakyat Gaza terus menderita.

Setelah Hamas memenangkan pemilu tahun 2006, para perencana Israel membuat keputusan yang dingin dan penuh perhitungan untuk membuat warga sipil Palestina terus-menerus berada di ambang kelaparan “untuk membuat orang Palestina menjalani diet,” sebaris kata-kata terkenal salah satu penasihat perdana menteri Israel.

Beginilah awalnya. Ini adalah blokade “penghitungan kalori” Israel di Jalur Gaza. Inilah harga sebenarnya dari Zionisme: mempertahankan negara Yahudi di negara yang mayoritas penduduknya bukan Yahudi berarti kekerasan dan kebrutalan semata yang ada.

Kelompok hak asasi manusia telah mengungkapkan bahwa pejabat kesehatan Israel telah memutuskan untuk mulai menghitung jumlah minimum kalori yang dibutuhkan oleh penduduk Gaza untuk menghindari malnutrisi. Ini kemudian diterjemahkan untuk menentukan berapa jumlah truk penuh makanan yang seharusnya diizinkan oleh Israel masuk ke Gaza setiap hari.

Dalam kata-katanya penasehat Israel Dov Weissglas mengatakan, “Idenya adalah untuk membuat orang Palestina melakukan diet, tetapi tidak membuat mereka mati kelaparan.”

Agaknya Weissglas tidak masalah dengan orang-orang Palestina yang sekarat karena kelaparan.

Blokade di Gaza terus berlanjut dengan cara berdarah yang sama sejak saat itu. Selain menempatkan orang Palestina “dalam diet”, perencana Israel memiliki eufemisme mematikan lainnya yang mereka suka gunakan, yakni “memotong rumput”. Ini adalah cara yang agak menjijikkan dan tidak manusiawi untuk menggambarkan perang berkala mereka melawan penduduk di Jalur Gaza.

Populasi Gaza terus bertambah. Ketika blokade dimulai, jumlahnya sekitar 1,5 juta. Hari ini, dua juta lebih. Orang yang Israel sebut sebagai “rerumputan” harus secara berkala “dipotong” oleh militer Israel. Kerugian manusia sangat besar. Tapi bagi negara supremasi Yahudi, nyawa orang Palestina tidak penting.

Dalam perang Israel tahun 2014 saja, 2.200 warga Palestina – kebanyakan warga sipil – dibunuh oleh Israel, dan 551 di antaranya adalah anak-anak. Sebaliknya, ketika faksi-faksi perlawanan Palestina melawan untuk membela diri, hampir semua korban yang mereka timbulkan adalah tentara sekitar 73 tentara.

Siapakah teroris sebenarnya di sini?

Kerugian ekonomi US$ 16 miliar di Gaza selama dekade antara 2007 hingga 2018 sangat besar, tetapi itu tidak seberapa dibandingkan dengan nyawa yang hilang dan hancur yang disebabkan oleh kebrutalan Israel dan kejahatan perangnya.

Laporan UNCTAD mengatakan tentang efek gabungan dari blokade dan serangan Israel berturut-turut di Gaza, “Hasilnya adalah ekonomi regional Gaza yang hampir runtuh dan isolasi dari ekonomi Palestina dan seluruh dunia.”

“Tanpa blokade dan operasi militer, tingkat kemiskinan Gaza pada 2017 bisa mencapai 15 persen, lebih dari seperempat dari 56 persen saat ini. Kesenjangan kemiskinan bisa saja 4,2 persen, seperlima dari saat ini yang 20 persen,” kata laporan UNCTAD.

Sebagian besar faksi Zionisme selalu mempropagandakan proyek mereka – dengan gaya penjajah yang khas – sebagai proyek yang baik untuk penduduk asli, orang Arab Palestina asli.

Namun kenyataannya justru sebaliknya. Itulah mengapa semua orang Palestina (selain dari beberapa kolaborator) adalah anti-Zionis. Mereka bukan anti-Zionis karena Zionisme menempatkan dirinya sebagai proyek Yahudi, mereka anti-Zionis hanya karena Zionisme anti-mereka.

Zionisme memang rasisme. Agar perdamaian ada di Palestina, rezim rasis ini harus diakhiri. (AT/RI-1/P1)

Sumber: MEMO

Mi’raj News Agency (MINA)