Israel Promosikan Ideologi Rasis di Sekolah-Sekolah Menengah

Siswa-siswi Palestina (istimewa)

Haifa, MINA – Otoritas Israel melakukan propaganda dengan mewajibkan semua siswa sekolah menengah Yahudi dan Arab untuk mengikuti kursus online yang mempromosikan ideologi rasis sebagai syarat bisa ikut pertukaran pelajar dan studi banding ke luar negeri.

Menurut laporan Kantor Berita Wafa, Ahad (7/8), Pusat Hukum untuk Hak Minoritas Arab di Israel (Adalah) sedang mengambil tindakan hukum untuk melawan praktik rasis tersebut.

Kursus online tersebut mewajibkan para siswa untuk menonton serangkaian video rasis, setelah itu mereka harus mengikuti ujian pilihan ganda yang jawaban benarnya mempromosikan ideologi rasis.

Contoh pertanyaannya: “Bagaimana organisasi Palestina menggunakan media sosial?” Jawaban yang benar dari empat pilihan yang disediakan adalah “mendorong kekerasan”.

Pertanyaan lain, meminta siswa untuk mengidentifikasi asal-usul anti-Semitisme modern. Jawaban ujian yang benar adalah “Organisasi Muslim dan gerakan BDS”.

Jaksa Adalah, Nareman Shehadeh-Zoabi mengirim surat kepada Kementerian Pendidikan Israel pada 18 Juni atas nama Asosiasi Masar dan orang tua anak-anak yang belajar di sekolah Nazareth.

Sekolah tersebut membatalkan misi pertukaran siswa tahunan ke Swedia selama setahun akademik, setelah peraturan kementerian mulai berlaku, karena menolak untuk mengizinkan siswa untuk mengikuti ujian semacam itu.

Sekitar 25 siswa Arab, semua warga negara Israel, berpartisipasi dalam pertukaran setiap tahun.

Surat tersebut menekankan, ujian propaganda Kementerian Pendidikan berfokus pada isu-isu inti dari konflik Palestina-Israel yang menjadi subjek kontroversi politik yang mendalam, dan siswa diharuskan untuk memilih posisi “benar” yang spesifik, seolah-olah mereka mencerminkan kebenaran faktual yang objektif.

Kursus ini menyajikan perspektif ideologis rasis yang menciptakan kesetaraan antara identitas Palestina, Arab, atau Muslim dengan kekerasan dan terorisme.

Siswa-siswa sekolah menengah Arab Palestina dalam sistem sekolah Israel diminta oleh ujian tersebut juga untuk mengasimilasi nilai-nilai rasisnya.

Kursus propaganda wajib ini melanggar nilai-nilai pluralisme pendidikan dan bertentangan dengan ketentuan Undang-Undang Pendidikan Israel, yang mensyaratkan pertimbangan keragaman minoritas Arab, warga negara Israel, yang mengakui bahasa, budaya, dan warisannya.

Pertanyaan dan jawaban ujian itu juga melanggar prinsip kesetaraan, bertentangan dengan Hukum Dasar Israel: Martabat Manusia dan Kebebasan, dan secara khusus merupakan penghinaan terhadap siswa sekolah menengah Arab.

Dalam suratnya, Adalah menuntut Kementerian Pendidikan Israel segera membatalkan kursus tersebut dan memungkinkan siswa untuk secara bebas berpartisipasi dalam pertukaran pelajar dan studi banding ke luar negeri dengan dimulainya tahun ajaran 2019-2020.

Adalah juga meminta Kementerian Pendidikan untuk merespons dalam waktu 30 hari.

Mengomentari hal ini, Shehadeh-Zoabi, mengatakan, “Kementerian Pendidikan Israel sedang mencoba untuk mengubah siswa sekolah menengah menjadi agen propaganda yang dituduh menyebarkan ideologi rasis ekstrem.

Hal tersebut terutama bagi para remaja Arab Palestina yang dengan ujian ini, dipaksa untuk menginternalisasi pernyataan memalukan tentang diri mereka sendiri dan keluarga mereka.

Ini keterlaluan dan ilegal, paksaan politik dan ideologis warga secara radikal bertentangan dengan tujuan pendidikan. Adalah akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk menghapuskan kursus tersebut. (AT/Sj/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)