Israel Tuduh Suriah dan Iran di Balik Serangan Roket Gaza

Tel Aviv, MINA – Pasukan Israel melakukan serangan ke Jalur Gaza sepanjang Sabtu (27/10) dengan menuduh keterlibatan Surah dan keterlibatan Iran di balik serangan roket dari Gaza sehari sebelumnya.

Sumber Al-Jazeera menyebutkan, Israel menuduh pemerintah Suriah menginstruksikan sebuah kelompok Palestina untuk menembakkan lusinan roket ke kawasan Israel dari Gaza dengan dukungan Iran.

“Roket-roket diluncurkan secara intensif melawan Israel. Kami tahu bahwa perintah diberikan dari Damaskus dengan keterlibatan Pasukan Quds Pengawal Revolusi Iran,” kata juru bicara militer Letnan Kolonel Jonathan Conricus.

Ia mengatakan kepada wartawan bahwa pembalasan Israel tidak akan “terbatas secara geografis”.

Jet tempur Israel menyerang puluhan lokasi di Jalur Gaza pada Sabtu pagi ketika para pejuang menembakkan sekitar 30 roket ke Israel, dalam baku tembak paling berat dalam beberapa pekan terakhir.

Pertempuran itu menyusul hari berdarah saat protes di perbatasan, Jumat (26/10) ketika pasukan Israel menembak dan menewaskan lima warga Palestina yang melakukan aksi demonstrasi di sepanjang pagar pembatas.

Bentrokan itu mempersulit misi para mediator Mesir, yang telah meningkatkan diplomasi kunjungan ke Gaza untuk mencapai ketenangan dan mencegah konflik besar antara Hamas dan Israel.

Militer Israel mengatakan telah menyerang sekitar 80 lokasi di Gaza pada Sabtu pagi, termasuk gedung markas besar keamanan.

Sirene serangan udara terdengar sepanjang malam di Israel selatan, dengan adanya sekitar 30 roket tembakan dari Gaza, kata militer.

Laporan menambahkan, sekitar 10 roket dicegat oleh sistem pertahanan roket Iron Dome, dua mendarat secara prematur di Gaza dan sisanya jatuh di daerah terbuka.

Kepala militer Israel Jenderal Gadi Eisenkot saat ini sedang mengadakan pertemuan darurat dengan para pejabat tinggi keamanan.

Jihad Islam, salah satu kelompok perlawanan, mengklaim bertanggung jawab atas serangan roket ke Israel.

Kelompok itu mengatakan bahwa itu adalah untuk pembelaan diri.

“Kami tidak bisa lagi diam sebelum pembunuhan orang-orang tak berdosa dan pertumpahan darah berlanjut oleh pasukan penjajahan Israel”. (T/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)