Istiqamah Pada Bulan Syawal

Oleh Ali Farkhan Tsani, Direktur Islamic Center Ma’had Tahfiz Daarut Tarbiyah Indonesia (DTI Foundation) Kota Bekasi Jabar

 

Allah  memerintahkan kita hamba-hamba-Nya untuk terus menjaga keistiqamahan dalam kehidupan sehari-hari.

Istiqamah dari bahasa Arab yang artinya lurus. Istiqamah mengandung makna, menjaga perbuatan agar tetap pada jalan yang lurus dan tidak berubah karena sesuatu.

Istiqamah dalam Islam berarti menjaga segala iman dan taqwa di jalan Allah, dengan tetap beribadah menjalani perintahnya dan senantiasa menjauhi larangannya.

Istiqamah mengandung makna juga teguh pendirian (tsabat) dalam iman, ikhlash dalam amal dan menunaikan seluruh hal yang menjadi kewajibannya.

Istiqamah juga bermakna mentauhidkan Allah, beriman kepada-Nya, berusaha semaksimal mungkin tidak menyimpang dari tauhidullah dan terus menjalankan kethaatan kepada-Nya.

Istiqamah adalah suatu usaha menempuh jalan yang lurus tanpa berbelok ke kanan dan ke kiri, dengan mengikhlaskan amal hanya untuk Allah, bagi Allah dan karena Allah.

Istiqamah merupakan sebuah komitmen dalam menjalankan suatu kegiatan untuk menuju satu tujuan.

Istiqamah mengandung makna konsistensi, terus-menerus melakukan apa yang dianggap baik. Sekaligus istiqamah itu adalah tahan uji dari godaan-godaan yang akan menjadi penghambat dan penghalan dalam mencapai tujuan yang cita-citakan.

Terlebih saat ini kita telah memasuki bulan Syawwal. Setelah sebulan penuh kita belajar istiqamah dalam ibadah dan dalam segala kebajikan hidup.

Maka inilah bulan kita memulai menerapkan istiqamah dalam kehidupan. Bukan bulan balas dendam, setelah sebulan menahan diri, saatnya bebas. Setelah sebulan lockdown dari kemaksiatan, trus kini bebas semau-maunya. Ya tidak lah.

Ya, tetaplah istiqamah di jalan Allah, seperti yang Allah kehendaki di dalam ayat:

فَاسْتَقِمْ كَمَآأُمِرْتَ وَمن تَابَ مَعَكَ وَلاَتَطْغَوْا

Artinya: “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas.” (QS Hud [11]: 112).

Setelah kita beristiqamah, maka tak ada lagi yang perlu ditakutkan atau disedihkan lagi. Karena Allah sendiri telah menjamin di dalam ayat-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا اللّٰـهُ ثُمَّ اسْتَقٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِالْجَنَّةِ الَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan (istiqamah) pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS Fushshilat [41]: 30).

Begitulah sikap istiqamah, berpegang teguh pada prinsip, setegar batu karang tak goyang dihempas gelombang air yang menerpanya. Bagai gunung kokoh yang tak bergeming oleh angin topan dan badai.

Semoga kita tetap iman dan istiqamah di jalan Allah. Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin. (A/RS2/P1 )

Mi’raj News Agency (MINA)