Istiqamah Setelah Masa Ujian

Oleh: Rudi Hendrik, jurnalis Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَـٰمُواْ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ

أُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلۡجَنَّةِ خَـٰلِدِينَ فِيہَا جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. Al-Ahqaf [46] ayat 13-14).

Seorang pelajar ketika menjelang dan selama ujian pada umumnya akan giat belajar, bahkan rajin beribadah dan berdoa memohon kelulusan kepada Allah.

Seorang atlet pun akan menambah waktu dan jumlah latihannya ketika menjelang masa pertandingan, bahkan atlet Muslim melakukan ibadah lebih dan berdoa kepada Allah agar dimenangkan oleh Allah.

Terkhusus menjelang dan selama bulan suci Ramadhan, Muslimin dan Muslimat berlomba-lomba melakukan berbagai ibadah, seperti: puasa, shalat wajib, shalat tarawih, membaca Al-Quran, bershadaqah, memberi makanan berbuka puasa, i’tikaf di akhir Ramadhan, dan banyak amalan ibadah lainnya. Karena pada bulan Ramadhan, pahala amal kebaikan dilipatgandakan lebih banyak dibandingkan di bulan hijriyah lainnya.

Namun, pada perjalanannya, masjid-masjid dan musala-musala yang pada sepuluah awal Ramadhan penuh sesak oleh jamaah, terkhusus di waktu shalat Isya dan Tarawih, secara bertahap berkurang jumlahnya. Semakin mendekati akhir Ramadhan, yang berlomba-lomba beribadah semakin berkurang. Terlebih ketika sudah memasuki masa-masa mudik jelang hari raya Idul Fitri.

Namun, meski banyak yang tidak menjaga istiqamah dalam beribadah di bulan Ramadhan, tetapi tidak sedikit pula Muslimin dan Muslimat yang tetap giat beribadah, istiqamah hingga hari terakhir puasa Ramadhan. Justru ujian terberat muncul setelah Ramadhan pergi meninggalkan umat, dan Muslimin terlena dalam kegembiraan dan kesibukan merayakan kemenangan di beberapa hari Idul Fitri.

Muslimin yang tidak biasa membaca Al-Quran selain di bulan Ramadhan, akan berhenti mengaji. Muslimin yang tidak biasa salat malam selain di bulan Ramadhan, akan berhenti salat malam. Muslimin yang tidak biasa bersehadaqah selain di bulan Ramadhan, akan berhenti bershadaqah. Muslimin yang tidak biasa memberi makan orang lain selain di bulan Ramadhan, akan berhenti memberi makan orang lain, dan sebagainya.

Maka yang sangat penting untuk dilakukan bagi seorang Muslim setelah perginya tamu yang mulia (Ramadhan) adalah istiqamah mengamalkan ibadah yang pada bulan Ramadhan giat dilakukan. Setelah sebulan penuh melalui masa ujian, maka sangat baik jika tetap istiqamah terus belajar.

Puasa Ramadhan dapat diteruskan dengan puasa-puasa sunnah sebagai bentuk istiqamah, tadarrus Al-Quran dapat terus dilakukan meski sudah khatam (tamat) selama Ramadhan, bersedekah dapat terus digalakkan meski pahalanya tak sebanyak saat Ramadhan, memberi makan orang lain pun dapat terus dibudayakan kepada siapa saja, dan terus istiqamah melakukan ibadah-ibadah yang lain meski bukan di bulan Ramadhan.

Istiqamah sebagai konsep yang syamil (menyeluruh) dan kamil (sempurna) secara sederhana dapat bermakna keberlangsungan yang terus menerus dalam kebenaran dan kebaikan, baik dalam ucapan, perbuatan, keyakinan, sikap maupun nilai.

Ibnu Rajab Al-Hanbali mendefinisikan istiqamah sebagai berikut, “Berjalan di atas jalan kebenaran yang lurus tanpa menyimpang sedikit pun, dan menjalankan syariat Islam sesuai dengan manhaj Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam melakukan perintah dan meninggalkan larangan-Nya.”

Dari Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Artinya, ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang terus menerus walaupun itu sedikit.” (HR. Muslim).

Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya.

Ulama tafsir, Imam Al-Qurthubi memaparkan, “Istiqamah adalah jalan menuju keberhasilan di dunia dan keselamatan di akhirat. Seseorang yang memiliki sikap yang istiqamah akan selalu merasa dekat dengan kebaikan, rezekinya dilapangkan, dan akan jauh dari pengaruh buruk hawa nafsu dan syahwat. Dengan hati istiqamah, malaikat akan turun untuk memberikan keteguhan dan ketenangan dari rasa takut terhadap azab kubur. Selain itu, hati yang istiqamah akan mempermudah amal seseorang untuk diterima di sisi Allah selain akan mempeermudah untuk dihapus dosa-dosanya.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat menghargai dan memuji orang-orang yang mempertahankan sikap istiqamah. Dan di dalam firman-Nya, Allah menghibur dan memberi janji bagi orang-orang yang beriman.

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَـٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕڪَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمۡ تُوعَدُونَ

Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu’.” (QS. Fushshilat [41] ayat 30).

Muhammad Ilham Muchtar, seorang pengajar di Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam Al-Birr Makassar, menyebutkan ada empat cara yang harus ditempuh agar dapat menjadi hamba-hamba Allah yang istiqamah.

Pertama, kesadaran dan pemahaman ajaran Islam yang benar.

Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dan merasakan pengawasan-Nya.

Ketiga, berteman dengan orang-orang salih.

Keempat, instripeksi dan sungguh-sungguh.

Para ikhwan dan akwat sekalian, semoga selepas Ramadhan yang suci ini, kita tetap istiqamah berpuasa, bertadarrus Al-Quran, salat malam, bersedekah, memberi makan orang lain, dan ibadah lainnya.

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

(P001/P4)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)