Istiqlal Jadi Tempat Ibadah Pertama di Dunia Raih Sertifikat Bangunan Hijau

Serah terima Sertifikat Final EDGE oleh Country Manager IFC untuk Indonesia dan Timor-Leste Azam Khan (kiri) kepada Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Nasaruddin Umar (kanan) di Ruang VVIP Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Rabu (6/4/2022).(Foto: Istimewa)

Jakarta, MINA – Masjid Istiqlal Jakarta telah melalui proses peremajaan ramah lingkungan yang terbukti menurunkan jejak karbon secara signifikan sekaligus menjadi tempat ibadah pertama di dunia yang mendapatkan Sertifikat Final dari sistem EDGE.

EDGE adalah sebuah inovasi dari International Finance Corporation (IFC), anggota Grup Bank Dunia, berupa sebuah standar bangunan hijau dan sistem sertifikasi untuk membantu profesional dan para pelaku bangunan gedung dalam mewujudkan bangunan hijau.

Pencapaian tersebut ditandai dengan pelaksanaan acara serah terima Sertifikat Final EDGE yang di Ruang VVIP Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Rabu (6/4).

Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI), Green Building Council Indonesia (GBC Indonesia) dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Indonesia bermitra dengan IFC untuk merenovasi beberapa bagian dari Masjid Istiqlal dengan menambahkan fitur ramah lingkungan yang akan meningkatkan efisiensi air dan energi dari bangunan ikonik tersebut.

“Proyek ini merupakan contoh dari apa yang dapat dicapai apabila kita bekerja sama dalam upaya melawan krisis iklim, yang tetap menjadi salah satu tantangan terbesar saat ini,” kata Azam Khan, Country Manager IFC untuk Indonesia dan Timor-Leste dalam sambutannya.

Menurutnya, perubahan iklim mengancam kehidupan dan mata pencaharian serta memperlambat kemajuan dari upaya pengentasan kemiskinan terutama di tengah meningkatnya intensitas bencana terkait iklim ygng terjadi, termasuk di Indonesia.

“Terdapat peluang untuk mengambil tindakan langsung, dan pembangunan kembali Masjid Istiqlal menunjukkan bahwa investasi dalam infrastruktur tahan iklim, termasuk bangunan hijau, dapat membawa perubahan yang terukur,” ujar Azam Khan.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Nasaruddin Umar saat menyampaikan sambutan menyampaikan, pekerjaan yang dilakukan di masjid nasional Indonesia ini tidak hanya dilihat sebagai respon terhadap upaya memerangi perubahan iklim tetapi juga sebagai contoh yang akan mendorong penerapan praktik desain bangunan hijau di Indonesia dan di tempat lain.

Baca Juga:  KNEKS Sampaikan Presentasi Khusus Pengembangan Ekonomi Syariah Indonesia di Brunei

“Kami merasa sangat terhormat dapat menjadi Masjid pertama di dunia yang mendapatkan sertifikasi Final EDGE. Pencapaian yang luar biasa ini merupakan bukti nyata dari komitmen kami untuk mendukung kelestarian lingkungan baik di kawasan Masjid Istiqlal maupun di seluruh negeri,” ucapnya.

Nasaruddin menegaskan penting bagi umat Islam untuk mewujudkan Masjid Hijau yang ramah lingkungan untuk meningkatkan kualitas ibadah serta menghormati kepemimpinan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang sangat peduli terhadap alam.

“Oleh sebab itu, pembangunan kembali dan merevitalisasi peran Masjid sebagai pusat pencerahan pelestarian lingkungan menjadi salah satu prioritas kami,” katanya.

Direktur Jenderal Cipta Karya dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR) RI, Diana Kusumastuti, MT, menjelaskan, Masjid Istiqlal menjadi bangunan masjid pertama di dunia yang mendapatkan sertifikat final EDGE sebagai bangunan gedung hijau dan rumah ibadah ramah lingkungan pada Februari lalu.

“Kami senang dapat menjadi bagian dari inisiatif perintis ini. Langkah-langkah yang diambil Masjid Istiqlal, yang merupakan perwakilan dari tempat ibadah dan bangunan bersejarah, tidak hanya akan meningkatkan efisiensi energi tetapi juga akan menjadi bukti nyata bahwa bangunan hijau atau green building dapat diterapkan untuk semua jenis bangunan, termasuk bangunan baru dan bangunan yang telah lama berdiri,” imbuhnya.

Indonesia memiliki beberapa kota dengan pertumbuhan tercepat di Asia. Dengan populasi yang diperkirakan akan melampaui populasi Tokyo pada 2030, Jakarta akan menjadi kota terbesar di dunia.

Pada saat yang sama, urbanisasi dan pertumbuhan yang pesat membawa tantangan lingkungan yang besar. Hal ini semakin menggarisbawahi perlunya tindakan iklim yang ambisius.

Dia mengatakan Kementerian PUPR mendorong pembangunan infrastruktur, permukiman, perumahan, dan bangunan yang ramah lingkungan sangat penting untuk membantu mewujudkan komitmen pemerintah dalam pengurangan emisi.

Baca Juga:  Seminar Ekosistem Islam Holistik Hadirkan Grand Seikh Al-Azhar

Sebagai bagian dari acara seremonial ini, diselenggarakan sebuah webinar dengan topik “Rumah Ibadah Ramah Lingkungan” sebagai bagian dari pemberian informasi dan juga edukasi terhadap masyarakat mengenai perancangan bangunan gedung hijau, khususnya dalam rumah ibadah.

Acara ini juga dihadiri Kepala Swiss State Secretariat for Economic Affairs (SECO) Philipp Orga, dan Presiden Direktur Waskita Karya Destiawan Soewardjon, perwakilan Masjid Istiqlal, Kementerian PUPR, Waskita Karya, SECO (donor), IFC, Yodaya, pembicara webinar, serta media.

Penerapan EcoMasjid

Masjid Istiqlal sebagai masjid nasional Negara Republik Indonesia yang terletak di bekas Taman Wilhelmina, di timur laut Lapangan Medan Merdeka yang di tengahnya berdiri Monumen Nasional, di pusat ibu kota Jakarta.(Foto: Kementerian PUPR)

Melalui sertifikat EDGE ini, Masjid Istiqlal mendapatkan hasil penilaian capaian efisiensi energi sebesar 23%, efisiensi air sebesar 36% dan juga pengurangan jumlah energi pada material sebesar 82%. Secara optimum dapat menghemat sebesar 476,22 ton karbon dioksida per tahunnya.

Dengan menggunakan cat reflektif untuk atap dan dinding bagian luar, pencahayaan hemat energi di ruang internal dan eksternal, pengukur energi pintar (smart energy meters) dan panel surya yang akan mencakup lebih dari 13 persen konsumsi listrik, diharapkan Masjid Istiqlal akan mampu menghemat energi hingga 23 persen.

Dengan penggunaan keran air beraliran rendah, pengolahan dan daur ulang air buangan serta langkah-langkah efisiensi lainnya, secara keseluruhan konsumsi air akan berkurang sebanyak 36 persen.

Sistem EDGE (atau Excellence in Design for Greater Efficiencies) adalah sistem sertifikasi bangunan hijau yang dikembangkan oleh IFC. EDGE memberikan solusi teknis untuk mengadaptasi proyek konstruksi dengan standar bangunan hijau dan menghasilkan lingkungan dan keuangan yang positif.

Hingga saat ini, EDGE telah mensertifikasi lebih dari 1,6 juta meter persegi luas bangunan di Indonesia, mengurangi emisi karbon sebanyak 48.000 ton per tahun, yang setara dengan menanam sekitar 800.000 pohon.

Baca Juga:  IRI-BRGM Indonesia Gelar Pelatihan Jurnalisme untuk Komunitas Agama

Selain sertifikasi Final dari EDGE, Masjid Istiqlal juga menjalani penilaian GREENSHIP dari GBC Indonesia dan juga telah mendapatkan predikat Ecomasjid yang digagas oleh Majelis Ulama Indonesia.

“GBC Indonesia mengapresiasi pencapaian luar biasa Masjid Istiqlal yang menjadi bangunan keagamaan pertama yang mendapatkan sertifikasi final dari EDGE,” kata Iwan Prijanto, Ketua GBC Indonesia.

Iwan mengungkapkan, Masjid Istiqlal dibangun sebagai simbol kebesaran masyarakat Islam di Indonesia, dan merupakan representasi dari penghormatan mereka yang luar biasa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, masyarakat, dan alam.

“Kami berharap dapat melihat inisiatif ini direplikasi sebagai bagian dari upaya kolektif melindungi lingkungan dan berkontribusi pada masa depan yang lebih berkelanjutan,” pungkasnya.

Masjid Bersejarah

Sebagai satu dari Masjid terbesar di dunia, Masjid Istiqlal merupakan salah satu dari bangunan yang memiliki sejarah di Indonesia. Masjid yang merupakan kebanggaan dari bangsa Indonesia ini memiliki sejarah panjang.

Masjid Istiqlal yang terletak di ibu kota Indonesia, Jakarta, dan merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara. Pembangunan dimulai sejak penanaman tiang pancang pertama pada tanggal 24 Agustus 1961 pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

Kemudian diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 22 Februari 1978. Masjid Istiqlal dibangun sebagai manifestasi rasa syukur atas nikmat kemerdekaan Indonesia. Nama “Istiqlal” diambil dari Bahasa Arab yang berarti “Kemerdekaan”.

Masjid Istiqlal berdiri dengan megah dan kokoh, yang tidak hanya menjadi kebanggaan umat Islam di Indonesia tetapi juga menggambarkan kerukunan bangsa Indonesia yang beraneka suku bangsa, beragam Bahasa dan agama.

Desain Masjid Istiqlal merupakan hasil karya dari seorang arsitek Nasrani, Friedriech Silaban. Masjid mampu menampung kurang lebih 200.000 jamaah.

Masjid ini berdiri di atas tanah bekas Taman Wilhelmina dan benteng Kolonial Belanda, dan terletak di antara Monumen Nasional dan Lapangan Banteng, serta bersebelahan dengan Gereja Katedral.(L/R1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: Rana Setiawan

Editor: Rana Setiawan