Isu Utama Keluarga

Oleh: Taufiqurrahman, Redaktur MINA Arab

 

Hari ini saya ditegur keras oleh Ustadz Fauzhil Adhim dan Ustadzah Sarmini. Ini gara-gara cicak.

Saya terlalu mengakrabkan Rufaidah dengan binatang kecil itu. Yang suka merayap di dinding itu. Yang doyan makan nyamuk itu.

Cicak jadi jurus saya melawan rewel Rufaidah. Putri kedua saya itu. Yang usianya baru 17 bulan. Tiap lihat cicak putri kedua saya itu langsung diam. Saya jadi kecanduan. Sering mengajaknya lihat cicak. Demi membuatnya diam.

Rupanya jurus itu bahaya. Saya baru sadar. Ustadz Fauzil yang menyadarkan. Artikel yang dipostingnya di FB-nya 3 Juni lalu menegur. Beliau mengingatkan saya hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tentang safsaf :

إِنَّ اللهَ جَوَّادٌ يُحِبُّ الْجُوْدَ وَيُحِبُّ مَعَالِيَ اْلأَخْلاَقِ وَيَكْرَهُ سَفْسَافَهَا

“Sesungguhnya Allah Maha Dermawan, mencintai kedermawanan serta mencintai akhlak yang tinggi dan membenci safsaf.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, Al-Hakim, Al-Baihaqi).

Safsaf adalah perkara receh. Allah membenci itu. Ucapan tidak bermakna yang diperdengarkan kepada anak bagian dari safsaf.

Saya taubat. Mengurangi obrolan-obrolan receh di rumah. Menggantinya dengan tema yang sarat makna. Yang mendekatkan keluarga dengan Allah.

Saya teringat nasihat Ustadzah Sarmini. Tentang membentuk keluarga Qur’ani. Yang akrab dengan nilai-nilai Al Qur’an setiap hari. Melahirkan penghafal Al Qur’an sejak dini. Caranya ?

Founder Markaz Al Qur’an Utrujah itu berbagi tips. Tips yang membuatnya sukses mengantarkan tiga anaknya hafal Al Qur’an. Hafal 30 juz di usia kecil.

Salah satunya: menjadikan Al Qur’an isu utama dalam komunikasi keluarga. Saya ingin elaborasi tips ini dalam tiga langkah praktis berikut :

Pertama, menciptakan lingkungan Qur’ani.

Mulai dengan membuat daftar lingkungan sosial. Seperti lingkungan keluarga, tetangga, sekolah dan lainnya.

Tugas kita memastikan semua lingkungan menghubungkan anak dengan Al Qur’an. Dengan membuat jadwal mengaji di rumah. Dengan memilihkan kawan bermain dan sekolah yang tepat. Yang sesuai dengan kebutuhannya terhadap Al Qur’an.

Kedua, obrolan tentang Al Qur’an.

Setiap obrolan kaitkan dengan Al Qur’an. Saat anak melihat semut sampaikan kisahnya dalam Al Qur’an. Biasanya anak-anak tertarik mengenali hewan. Kenalkan hewan-hewan yang ada di Al Qur’an.

Saat anak berantem bacakan ayat Al Qur’an tentang damai. Saat anak sedih hibur hatinya. “Jangan sedih, Allah bersamamu.”

Saya sering main tebakan dengan Sumayyah, putri pertama saya. “Sebutkan nama-nama hewan dalam Al Qur’an !”

Al Qur’an kitab syamil. Komprehensif dan universal. Semua permasalahan ada solusinya dalam Al Qur’an. Tugas kita mengaitkan setiap momen bersama anak dengan ayat Al Qur’an.

Ketiga, bacaan tentang Al Qur’an.

Caranya dengan membelikan buku-buku Qur’ani. Buku yang bertema atau terkait Al Qur’an. Buku My First Al Qur’an Words salah satunya. Ada lima jilid. Masing-masing jilid bertemakan tertentu. Tema binatang, buah dan sayuran dan tema-tema lainnya.

Hampir setiap bulan ada buku baru untuk putri saya. Banyak diantaranya terkait Al Qur’an. Buku jadi investasi utama saya dan istri untuk anak.

Anak memperoleh informasi melalui obrolan dan bacaan. Pastikan setiap obrolan dan bacaan mereka terkait Al Qur’an. Langkah ini besar dampaknya. Saya merasakan itu.

Alhamdulillah saya tidak kesulitan mengajak putri mengaji. Setiap hari usai shalat maghrib. Semoga Allah mudahkan pula anda membangun keluarga Qur’ani di rumah. (A/RA 02/RI-1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)