Isyarat Perang Arab Saudi vs Iran

Oleh: Rifa Berliana Arifin, Kared Arab MINA

Situasi timur tengah memanas setelah Kementrian Pertahanan Arab Saudi menuding Iran berada dibalik serangan terhadap kilang minyak Aramco.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyebut bahwa peristiwa ini sebagai isyarat perang dari Iran terhadap Arab Saudi.

Presiden AS Donald Trump berkomentar atas serangan terhadap Arab Saudi yang merupakan sekutunya bahwa banyak pilihan untuk membalas Iran. Ia menyebut Perang bisa menjadi salah satu opsinya. “There are many options. There’s the ultimate option and there are options that are a lot less than that. And we’ll see. I’m saying the ultimate option meaning go in – war”.

Peristiwa ini memberi kesimpulan bahwa sistem pertahanan udara Arab Saudi gagal untuk memitigasi serangan tersebut karena Saudi hanya fokus kepada pertahanan jalur Selatan mencegah serangan Houthi di Yaman, dan kurang kritis terhadap jalur Utara melalui wilayah udara Irak dan Kuwait.

Kolonel Turki al-Malki mengungkapkan, serangan peluru cruise missile dan dron (UAV) keduanya milik Iran ditembakkan ke arah kilang Abqaiq dan Khurais sehingga mengakibatkan lonjakan harga minyak mentah hingga 20% dari harga minyak dunia.

Dalam konferensi pers Aramco Attack Findings Brief, Kolonel al-Malki mengonfirmasi bahwa 18 drone dan 7 rudal diluncurkan dari Iran dan bukan dari Yaman. Ia memaparkan barang bukti serpihan dron (UAV) dari tempat peristiwa membuktikan bahwa itu milik Iran.

Pernyataan Arab Saudi didukung dengan dua bukti video yang Kuwait rekam menunjukan serangan tersebut melalui ruang udara mereka sekaligus menguatkan hipotesis bahwa itu berasal dari Iran atau tepatnya wilayah Irak yang dikuasai Iran.

Perkembangan terakhir ini juga menyangkal pengakuan pemberontak Syiah Houthi di Yaman yang sebelumnya mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Arab Saudi tidak hanya menunjukkan peta dan video, tetapi juga menganalisis bahwa dampak dari rudal presisi yang menghantam pabrik Khurais jauh lebih maju daripada teknologi Houthi, peluru yang menghantan kilang minyak Khurais dikenal dengan sebutan “ya Ali”.

Kolonel Al-Maliki menegaskan peluru “ya Ali” memiliki jarak tempuh sejauh 700KM, dirinya menyangkal jika peluru tersebut berasal dari Kawasan Houthi Yaman.

Di sisi lain, Iran membantah tuduhan tersebut dan memperingatkan bahwa mereka akan segera menanggapi jika terbukti melakukan penyerangan.

Penasihat Presiden Iran Hesameddin Ashena mengatakan pengungkapan Arab Saudi tidak membahas mengapa sistem pertahanan Arab Saudi gagal mencegah serangan juga Saudi tidak menyatakan secara tepat sumber asal serangan rudal dan dron tersebut hanya menuduh tanpa bukti yang konkrit.

Komander Aeroangkasa Pengawal Revolusi Iran (IRGC) Amirali Hajizadeh telah memperingatkan bahwa Iran sedang mempersiapkan perang skala penuh, ia menegaskan bahwa militer AS sekarang berada dalam jangkauan mereka.

“Semua orang perlu mengetahui pangkalan AS dan kapal induk mereka pada jarak hingga 2.000 kilometer di sekitar Iran dan posisinya dalam jangkauan rudal kami,” ujarnya.

Peta Pertahanan

Presiden AS Donald Trump bersedia untuk bertindak jika diperlukan Arab Saudi, karena sejauh ini AS hanya memberikan sanksi ekonomi pada Iran: “There is reason to believe that we know the culprit, are locked and loaded depending on verification, but are waiting to hear from the Kingdom as to who they believe was the cause of this attack, and under what terms we would proceed!”.

Putera Mahkota Mohammed bin Salman dengan lantang menyebut serangan Iran tidak dapat diterima dan ia menghimbau kepada seluruh masyarakat internasional untuk melawan ancaman Iran secara bersama.

Dalam hal kekuatan militer, Iran memiliki keunggulan dalam total personil militer, total aset angkatan laut, dan tank sementara Arab Saudi memiliki kekuatan dalam hal angkatan udara yang lebih besar dan aset yang lebih modern.

Sumber Al-Jazeera pada tahun 2018 SIPRI, Jane, Trading Economics, dan Globalfirepower melaporkan bahwa jumlah militer Iran adalah 934 ribu dibandingkan dengan Arab Saudi yang hanya 256 ribu.

Dalam hal total angkatan udara, Arab Saudi memiliki 844 unit aset, dan Iran 505.

Kekuatan aset angkatan laut Iran dari 398 unit jauh melampaui kekuatan aset Arab Saudi yang hanya 55 unit.

Tank-tank Iran berjumlah 1.650 unit melampaui Arab Saudi dengan 1.142 unit.

Pengeluaran militer Arab Saudi jauh besar dengan USD 56 miliar pada 2018 dan Iran hanya USD 7 miliar.

Namun, Iran juga memiliki sekutu regional di Irak, Suriah, Hizbullah di Libanon, dan Houthi di Yaman yang jaraknya tidak begitu jauh dari Arab Saudi.

Analisa

Pasca insiden serangan kilang minyak Aramco Saudi, harga minyak mentah dunia naik signifikan dari 60 USD ke 70 USD/barel.

Serangan tersebut menyebabkan Saudi terpaksa menutup sementara operasional kilang minyaknya yang menyumbang 60% hasil minyak mentah Saudi setara 5% hasil minyak mentah dunia. Teori hukum suppy demand berlaku dengan adanya supply shock menyebabkan harga minyak mentah lebih tinggi.

Saudi terguncang dan AS diam-diam menyalip Saudi dalam produksi minyak mentah dunia, produksi minyak mentah AS saat ini mencapai 13 juta barel/hari berbanding Saudi 12juta barel/hari pasca konflik.

Obama telah berhasil melakukan revolusi minyak di AS, Saudi tidak lagi menjadi raja OPEC, Trump membawa AS memiliki strategi memiliki simpanan minyak untuk menghindari supply shock saat krisis minyak mentah dunia.

Jadi asumsi logisnya adalah: jika itu merupakan benar serangan Houthi atas bantuan Iran. Maka benar bahwa pertahanan udara Saudi lemah, cerobohnya yang ditarget merupakan infrastruksur non-militer.

Apakah Saudi akan menjadikan peristiwa ini sebagai alasan sentiment yang rasional untuk menyerang berskala terhadap Iran, AS sejauh ini belum menjadikan perang adalah opsi, tweet Trump trakhir berbunyi “locked and loaded”, perang melawan Iran adalah opsi ekstrim yang tidak populer di AS dan tentunya tidak akan membantu Trump untuk kampanye Pilpres AS 2020. (A/RA-1/RS3)

Miraj News Agency (MINA)