Jaga Al-Aqsa dari Serbuan Ekstremis Yahudi

Oleh : Ali Farkhan Tsani, Wartawan MINA

Kelompok-kelompok ekstremis Yahudi telah menyerukan untuk mengintensifkan serangan ke Masjid Al-Aqsa dalam jumlah besar pada Ahad ini (18 Juli 2021). Mereka menyebutnya sebagai peringatan yang mereka klaim sebagai “Penghancuran Kuil.”

Para ekstremis Yahudi juga bersiap untuk mengorganisir pawai untuk para pemukim di sekitar tembok Kota Tua Yerusalem pada hari yang sama.

Rencana aksi itu menuai kecaman dan perlawanan bukan hanya dari dalam Palestina sendiri. Namun juga dari dunia internasional, terutama kaum Muslimin dunia.

Adalah Persatuan Ulama Muslim Internasional yang segera menyerukan bangsa Islam dan dunia untuk mencegah rencana serbuan ekstremis Zionis tersebut.

Hal itu ditegaskan oleh Sekretaris Jenderal Ali Al-Qardaghi pada Jumat (16/7), seperti dilaporkan Quds Press.

Upaya Pencegahan

Gerakan Reformasi Demokratik dalam gerakan Fatah di Tepi Barat menyatakan bahwa akan ada kemungkinan kondisi ledakan konfrontasi di kota Yerusalem, jika serbuan Yahudi ekstremis ke gerbang Al-Aqsa terus bergulir.

Juru bicara gerakan, Imad Mohsen menyebutkan alasan yang memicu situasi karena pendudukan berusaha menyalakan kembali sumbu bentrokan, yang akan berhadapan dengan kekuatan dan massa rakyat Palestina.

Gerakan Perlawanan Islam di Jalur Gaza, Hamas pun memperingatkan pendudukan Israel agar tidak mengizinkan pemukim menyerbu Masjidil Aqsa.

“Kami memperingatkan pendudukan agar tidak mencoba menguji kesabaran perlawanan dan para pejuang heroiknya. Kami semua telah berjanji kepada Allah untuk tidak lelah dan tidak menyerah dalam membela hal paling berharga yang kami miliki, yaitu Masjidil Aqsa yang diberkati,” bunyi pernyataan, seperti disebutkan Quds Press.

Hamas juga menyerukan kepada warga Palestina di Tepi Barat dan pedalaman Palestina untuk pergi ke Masjidil Aqsa pada Hari Arafah, menjadikannya sebagai hari mobilisasi dan ikatan di halaman Al-Aqsa.

Salah satu tokoh Hamas di Tepi Barat, Hassan Yousef, menegaskan bahwa setiap kebodohan yang dilakukan oleh pendudukan terhadap kesucian dapat menyebabkan ledakan situasi. Ini karena Yerusalem adalah sumbu garis merah dengan batas kesucian dan ibadahnya.

Pemerintah pendudukan pun berada di belakang ekstremis Yahudi, bahkan menyokongnya secara penuh. Serbuan berulang itu memiliki tujuan utama berikutnya, yaitu untuk memaksakan pembagian temporal dan spasial di Al-Aqsa, mirip dengan apa yang terjadi di Masjid Ibrahimi di kota Hebron.

Jaga Selalu Al-Aqsa

Pengacara Khaled Zabarka, spesialis dalam kasus Yerusalem, menekankan bahwa memperovokasi  Masjidil Aqsa yang diberkati di tangan pendudukan Israel dengan melepaskan kelompok teroris Yahudi dianggap bermain api di samping tong bubuk mesiu yang pasti akan mempengaruhi perdamaian dan keamanan regional dan global.

Zabarka mengatakan bahwa otoritas pendudukan memberikan perlindungan kepada kelompok pemukim yang menyulut daerah itu dua bulan lalu dengan sengaja menyerbu Masjidil Aqsa.

Berkenaan dengan itu, para aktivis Palestina menyerukan intensifikasi perlindungan terhadap Masjidil Aqsa. Terutama untuk menggagalkan rencana pemukim untuk menyerbunya.

Dewan Islam Tertinggi di Yerusalem dan para penjaga Al-Aqsa, murabithin dan murabithat, akan berjuang maksimal di seluruh kompleks Al-Aqsa untuk menghadang serangan para pemukim.

Seruan seperti disiarkan al-Ghad TV tersebut juga menekankan perlunya i’tikaf di Al-Aqsa sejak Subuh Ahad tanggal 8 Dzulhijjah, sebagai alamat untuk menghadapi dan menggagalkan kejahatan itu.

Bagi kaum Muslimin terjajah di Palestina, trentu menjadi kewajiban utama adalah membela dan mempertahankan diri dengan jiwa dan harta mereka, sampai memperoleh kebebasan hakiki, bebas dari penzaliman.

Bagi kaum Muslimin dan warga dunia lainnya, juga memiliki tanggung jawab bersama, untuk menghapuskan penjajahan dari muka bumi ini. Sebab penjajahan satu bangsa atas bangsa lain, sangat ditentang dalam ajaran Islam dan secara hokum internasional.

Karena itu, setiap negeri muslim yang terjajah, khususnya Palestina di mana terdapat Masjidil Aqsa, wajib melepaskan dirinya dari penjajahan.

Kewajiban membebaskan Masjidil Aqsa dan Palestina itu bukan hanya kewajiban bagi warga Muslimin Palestina saja. Tetapi kewajiban seluruh umat Islam, secara berjamaah, sebagai satu kesatuan Muslimin yang tidak dapat dipisah-pisahkan. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)