Jama’ah Muslimin (Hizbullah) di Tengah Desain Global

Oleh Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior MINA News Agency 

Prolog

Ada sebuah desain global bagaimana Zionis Internasional memecah-belah dunia Islam, meruntuhkan sendi-sendi kekuatan umat dan berusaha menghancurkan sendi-sendi persatuan umat.

Hesham Tillawi, seorang komentator politik di Louisiana, AS, mengemukakan bahwa konflik yang terjadi di Timur Tengah adalah bagian dari rencana Zionis memecah belah umat Islam.

Menurut penelitiannya, ini bukan rencana Zionis baru, bahkan sudah dibicarakan sejak tahun 1982. Targetnya adalah agar perang benar-benar terjadi, dan negara-negara Arab saling menyerang dengan negara-negara Arab lainnya.

Begitulah, kekuatan intelejen Zionis memang dirancang untuk menciptakan bagaimana tempat di Timur Tengah dan negeri-negeri Muslim tidak stabil. Sehingga perhatian dan fokus dunia Islam yang sudah mulai menguat ke kawasan Al-Aqsha, Palestina, terpecah atau teralihkan.

Dalam penelitian Global Research pada 22 Maret 2015 menyebutkan, adanya dokumen pembentukan Israel Raya (Greater Israel) sebagai landasan kuat faksi Zionis dalam pemerintahan Netanyahu saat ini.

Dokumen itu diperjuangkan oleh Netanyahu pada tujuan politik untuk mengabaikan negara Palestina.

Dan rencana pecah-belah itu telah nyata-nyata diterapkan secara sistematis, berurutan dan rapi. Mulai dari perang di Irak (2001), Libya (2011), Suriah(2012), Yaman (2015), proses perubahan rezim di Mesir, dan sebagainya.

Sementara, sebagian umat Islam, terutama sebagiannya lagi dari kalangan pejabat, terlena dengan kekayaannya, dunianya, kekuasannya dan kepentingannya. Sehingga melupakan jihad menegakkan kalimatullah hiyal ‘ilya, membela sesama umat Islam yang teraniaya dan mempersatukannya.

Inilah yang pernah digambarkan Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam dalam sabdanya:

يُوْشِكُ اَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمُ الأُمَمُ كَماَ تَدَاعَى اْلأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا , فَقَالَ قَائِلٌ : أَوَ مِنْ قِلَةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيْرٌ , وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ , وَسَيَنْزِعَنَّ اللهُ مِنْ صُدُوْرِ عَدُوِكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللهُ فِي قُلُوْبِكُمُ اْلوَهْنَ. قَالَ قاَئِلٌ: ياَ رَسُوْلَ اللهِ وَمَا الْوَهْنُ ؟ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ .

Artinya: “Hampir tiba saatnya persatuan bangsa-bangsa memperebutkan atas kamu sekalian sebagaimana bersatunya orang-orang yang berebut makanan yang ada dalam nampan”. Seorang sahabat bertanya, “Apakah karena sedikitnya jumlah kita pada sa’at itu Ya Rasulullah?”Beliau bersabda, “Bahkan jumlah kalian sa’at itu sangat banyak, tetapi kalian bagaikan buih yang mengalir di atas lautan. Dan sungguh Allah akan mencabut dari dada musuh–musuh kalian rasa takut terhadap kalian. Serta dia akan memunculkan penyakit al-wahn dalam hati kalian”. Seorang sahabat bertanya, ” Ya Rasulullah, apakah al-wahn itu?” Beliau bersabda, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud).

Kembali Pada Persatuan 

Sementara itu nasib dunia ini kini dikuasai dan diatur oleh ideologi kuffar, yang jauh dari nilai-nilai ilahiyah, jauh dari Al-Quran, jauh dari kebenaran, keadilan dan kejujuran.

Maka, yang tampak adalah kerusakan di mana-mana, baik dari segi moral atau akhlak yang liberal, ekonomi kapitalisme yang penuh dengan ribawi, ideologi politik yang menindas, media yang berisi acara-acara yang cenderung membuka aurat, khalwat, hiburan dan melalaikan. Belum lagi maraknya berbagai tindak kriminalitas, narkoba, pergaulan bebas, hingga kerusakan alam akibat penggunaan zat-zat berbahaya.

Ini merupakan bukti nyata bahwa sistem dan aturan yang diciptakan manusia, apalagi yang jauh dari Al-Quran tidaklah dapat membuat kesejahteraan dan kedamaian di dunia ini. Apalagi mampu menciptakan peradaban manusia yang sesungguhnya.

Maka, di sinilah diperlukannya solusi terbaik untuk menata peradaban manusia pada umumnya, dan konsolidasi kaum Muslimin pada khususnya. Yaitu dengan tegaknya kesatuan umat Islam secara terpimpin di bawah seorang Khalifah atau Imaam bagi kaum Muslimin.

Sebab, di tangan Khalifah atau Imaamul Muslimin inilah, tersebar petunjuk Allah, tegaknya amal kebajikan dan ketaatan kepada Allah. Seperti firman-Nya:

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ ۖ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ

Artinya: “Dan Kami jadikan masing-masing mereka sebagai pemimpin yang memberikan petunjuk kepada manusia dengan izin Kami. Kami perintahkan kepada mereka untuk melakukan amal-amal shalih, menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat.Mereka semua senantiasa taat kepada Allah.” (Qs. Al-Anbiyaa [21]: 73).

Ini pulalah jawaban Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam atas problematika dari segala keburukan yang ada, dalam sabdanya:

تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ

Artinya: “Tetaplah engkau pada Jama’ah Muslimin dan Imaam mereka!” (Hadits Shahih Bukhari dan Muslim dari Hudzaifah bin Yaman).

Allah sendiri di dalam Al-Quran sudah mengingatkan akan pentingnya kesatuan Muslimin yang terpimpin di dalam ayat:

وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بَعۡضُہُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٍ‌ۚ إِلَّا تَفۡعَلُوهُ تَكُن فِتۡنَةٌ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَفَسَادٌ۬ ڪَبِيرٌ۬

Artinya: “Adapun orang-orang kafir,sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kalian (kaum Muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu (bersatu),niscaya akan terjadi fitnah (kekacauan) di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (Qs. Al-Anfal [8]: 73).

Khithah Jama’ah Muslimin (Hizbullah)

Al-Jama’ah atau Jama’ah Muslimin atau Jama’ah Muslimin (Hizbullah), sebagai wadah kesatuan umat Islam yang bersifat rahmatan lil ‘alamin, non-politik, dimaklumkan secara terbuka pada Hari Raya  Idul Adha, 10 Dzulhijjah 1372 bertepatan dengan 20 Agustus 1953 di Jakarta.

Pada dokumen MA’LUMAT No. 1/’72 disebutkan Gerakan Islam “HIZBULLAH” berpedoman pada Al-Quran dan Sunnatu Rasulullah. Hizbullah berjuang karena Allah, dengan Allah, untuk Allah, bersama segenap kaum Muslimin menuju mardhatillah.

Dalam menghadapi suasana yang makin bergolak, Jama’ah Muslimin (Hizbullah) menetapkan langkah-langkah asasi (strategis) sebagai berikut:

  1. Pandangan, pendirian dan sikap hidup Muslim: Yakin bahwa berpegang teguh dan taat melaksanakan pedoman Al-Quran dan Sunnatu Rasulullah adalah sumber dari segala kejayaan dan kebahagiaan.
  2. Ukhuwah Islamiyah :Kesatuan bulat bagi seluruh Muslimin yang tidak dapat dibagi-bagi, dipisah-pisahkan, apalagi diadudombakan, sebagai perwujudan ukhuwah Islamiyah, baik di dalam kemudahan ataupun di dalam kesusahan, dan di dalam perjuangan.
  3. Kemasyarakatan :Berpihak pada kaum yang dhaif (lapar, lemah, tertindas), mempertegak keadilan.
  4. Sikap terhadap lain-lain golongan :Tegak berdiri di dalam lingkungan kaum Muslimin, di tengah-tengah antara lain-lain golongan, menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada kebajikan dan mencegah dari perbuatan mungkar.
  5. Antara bangsa-bangsa : Menolak tiap-tiap fitnah penjajahan dan kezaliman suatu bangsa atas bangsa lain, dan mengusahakan ta’aruf antara bangsa-bangsa.

Penutup

Menjadi kewajiban kita orang-orang yang telah mengaku diri berkalimat Tauhidullah, bernabikan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Untuk terus berjihad fi sabilillah dengan jiwa dan harta, untuk dapat mengangkat juang Islam sebagai agama yang mulia dan tiada yang melebihinya, ya’lu walaa yula ‘alaihi.

Tentu saja, upaya mengikat kaum Muslimin dalam satu shaf terpimpin, akan bergantung pada perjuangan dan usaha umat Muslim itu sendiri. Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri yang akan mengubahnya. (A/RS2/RS3)

Disampaikan pada Ta’lim Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Niyabah Jakbarteng, di Masjid Nurul Jannah, Kapuk, Jakut, Ahad, 29 Rabi’ul Akhir 1439 H./ 6 Januari 2018 M

Mi’raj News Agency (MINA)