Jangan Menilai Keburukan Orang Lain

Oleh Bahron Ansori, jurnalis Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Alkisah, ada seorang gadis menyewa rumah, bersebelahan dengan kontrakan rumah seorang ibu miskin dengan dua anak. Suatu malam tiba-tiba listrik padam. Dengan bantuan cahaya handphonenya, si gadis kaya itu ke dapur untuk mengambil lilin.

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Ternyata seorang anak miskin yang di sebelah rumahnya datang dan mengetuk pintu lalu  bertanya, “Kakak ada lilin tidak?”

Gadis itu berfikir dan berkata dalam hati, “Jangan pinjamkan, nanti jadi kebiasaan dan terus meminta.”

Maka si gadis menjawab, “Tidak ada!”

Lalu si anak miskin berkata riang, “Saya sudah duga kakak tidak ada lilin. Ini ada dua lilin saya bawakan untuk kakak. Kami khawatir karena kakak tinggal sendirian dan tidak ada lilin.”

Mendengar kata-kata anak kecil miskin itu, si gadis kaya itu merasa bersalah, dalam linangan air mata dia memeluk erat anak kecil itu.

Ibroh Kisah

Kisah di atas memberikan ibroh (pelajaran) bagi siapa pun yang bisa melihat hikmah di balik suatu peristiwa sekecil apa pun peristiwa itu. Paling tidak, ibroh yang bisa dipetik dari kisah singkat di atas antara lain adalah menilai seseorang bukan karena apa yang terlihat secara lahir.

Lebih dari itu, bisa jadi tampilan fisik hanya sebuah tampilan luar yang tidak mencerminkan akhlak sebenarnya. Orangnya biasa saja atau mungkin tak berharta, tapi ia memiliki hati selembut sutera.

Jangan pernah menilai keburukan orang lain hanya karena mereka terlihat lebih miskin (tidak mampu). Faktanya, tidak setiap orang yang terlihat miskin dan tidak mempunyai harta adalah orang-orang yang jahat.

Sebaliknya, tak sedikit orang yang terlihat miskin tapi punya hati sebening embun pagi. Dibalik kemiskinan yang menderanya, ia masih bisa terus berbagi kepada saudaranya yang terkadang jauh lebih kaya secara materi dibandingkan dirinya.

Bagaimana dengan hari ini?  Kebanyakan manusia hari ini, menilai orang itu baik hanya jika orang itu terlihat mempunyai harta. Harta seolah menjadi symbol kebaikan seseorang.

Padahal jauh-jauh hari, Nabi Shallallahu ‘Alaih Wasallam pernah bersabda yang artinya, Dari Abu Hurairah  ia berkata, Rasulullah  bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian akan tetapi Dia melihat kepada hati-hati kalian dan perbuatan-perbutan kalian.” (HR. Muslim)

Dalam hadits di atas, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ingin memberikan standar penilaian kemuliaan seorang hamba di sisi Allah, sekaligus meluruskan pandangan sebagian manusia yang salah dalam penilaian tersebut.

Dalam pandangan Allah, kemuliaan seseorang bukan hanya dilihat dari sisi lahirnya saja seperti rupa yang cantik atau tampan, harta yang belimpah, keturunan yang baik dan seterusnya, akan tetapi Allah  hanya melihat amal hati seperti keikhlasan, rasa khauf (takut), ketundukan dan juga amal anggota badan seperti shalat, puasa, dan lain-lain.

Berapa banyak dari manusia yang memiliki banyak harta, mempunyai kecantikan dan ketampanan rupa dan menduduki jabatan yang tinggi, akan tetapi hatinya kosong dari ketakwaan dan keikhlasan serta tidak memiliki amal sholeh.

Sebaliknya, berapa banyak dari manusia yang miskin papa, hidup seadanya, rupa tidak bisa diandalkan, tapi ia di sisi Allah mempunyai nilai dan posisi yang tinggi lagi mulia. Allah  Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ 

Artinya, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa.” (Q.S. Al-Hujarat [49]: 13).

Oleh karena itu, kekayaan, rupa yang menarik dan kedudukan yang tinggi tidak akan bermanfaat sedikitpun bagi seseorang di akhirat nanti, jika ia tidak melaksanakan ketaatan kepada Allah  dan meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya. Dan diantara amalan hati yang paling agung adalah keikhlasan kepada Allah  dalam beramal.

Rupa dan harta bukan standar kemuliaan seorang hamba di sisi Allah. Pentingnya amalan hati dalam pandangan Allah  seperti ikhlas, rasa takut, tawakkal dan anggota badan. Banyak dari manusia yang kaya dan cantik rupa, tapi ia di sisi Allah orang yang hina dan banyak dari manusia yang miskin papa, tapi ia di sisi Allah orang mulia.

Sekali lagi, jangan pernah menilai keburukan orang lain hanya karena mereka terlihat miskin. Ingatlah, kekayaan tidak bergantung atas seberapa banyak yang kita punya, tapi seberapa mampu kita berbagi kepada mereka yang tidak mampu.

Miskin bukan berarti tidak punya apa-apa dan kaya bukan berarti memiliki segalanya. Bisa jadi, hari ini roda kehidupan kita di atas, tapi esok bisa jadi di bawah. (R02/P4)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)