JANGAN PERNAH BERPALING DARI AL-AQSHA

1967-1969. The Middle East crisis
Seorang penganut Zionis beragama Kristen Evangelis dari Australia, Dennis Michael Rohan telah membakar sebagian ruang utama Masjid Al-Aqsha, 21 Agustus 1969. (Foto: AlResalah)

Oleh: Rana Setiawan, Redaktur Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Ingatkah kita pada tragedi kelam 45 tahun lalu, seorang Zionis membakar Masjid Al-Aqsha di kota Al-Quds dengan dukungan penuh kelompok-kelompok pemukim ilegal ekstrimis Yahudi.

Dalam laporan organisasi pencari Fakta seputar Palestina, Palestine Facts, pada 21 Agustus 1969, pagi hari, seorang penganut Zionis beragama Kristen Evangelis dari Australia, Dennis Michael Rohan telah membakar sebagian daripada ruang utama Masjid Al-Aqsha, bagian sayap tenggara masjid.

Seketika api membubung tinggi menjilat-jilat bagian-bagian masjid terbuat dari kayu mengakibatkan kerusakan antara lain pada mimbar masjid bersejarah yang telah digunakan sejak zaman Nuruddin Al-Zinki dan pernah digunakan oleh Sholahuddin Al-Ayyubi di masa pemerintahannya.

Asumsi awal menyatakan bahwa kesalahan listrik menjadi penyebab kebakaran namun banyak laporan mulai menyebar tentang Zionis Israel yang bertanggung jawab atas kejahatan biadab itu. Pada saat api itu padam, ada juga yang mengklaim bahwa petugas pemadam kebakaran Israel malah melemparkan bensin pada api, bukannya air.

Seharian suntuk, umat Islam bergotong royong memadamkan api dan juga menyelamatkan bekas-bekas sejarah di masjid tersebut.

Pengadilan Zionis telah membebaskan pelaku kejahatan yang telah membakar Masjid Al-Aqsha, karena diduga “tidak waras” meski saat itu dia berprofesi sebagai seorang dokter pengobatan.

Dampak daripada peristiwa pembakaran Masjid Al-Aqsha ini adalah didirikannya OKI (Organisasi Konferensi Islam; sekarang Organisasi Kerjasama Islam) yang digagas salah satunya oleh Raja Faisal dari Arab Saudi. Pembakaran Al-Aqsha itu juga menjadi gagasan KTT negra-negara Islam untuk pertama kalinya yang diselenggarakan pada September 1969 di Rabat, Maroko dengan agenda menyatukan negara-negara mayoritas muslim agar menjadikan masalah Palestina dan Masjid Al-Aqsha sebagai isu utama umat Islam sedunia.

Sejak hari itu juga, 21 Agustus dianggap sebagai hari memperingati Masjid Al-Aqsha sedunia. Sayangnya hingga kini, bukan sekedar isu Palestina yang tidak dapat diselesaikan oleh OKI, bahkan di tingkat aksi nyata pun belum banyak dilaksanakan. Lebih malang lagi, dalam mengemukakan penyelesaian terhadap isu Palestina, negara-negara OKI malah banyak menuruti keputusan yang dibawa dari Washington dan Tel Aviv.

Setelah 45 tahun peristiwa kelam tragedi pembakaran Masjid Al-Aqsha, kini masih ada ribuan lagi teroris Zionis dan pemukim ilegal ekstrimis Yahudi dipimpin Rabi radikal yang terus memanfaatkan kelalaian umat Islam untuk melakukan ritual provokatif di lingkungan Al-Aqsha dan berusaha segera memusnahkannya.

Bahkan, Yahudisasi dengan aktivitas penggalian terowongan di bawah Al-Aqsha yang diniatkan untuk meruntuhkannya, juga pengepungan masjid tersebut dengan pendirian ratusan rumah-rumah “ibadah” dan pusat-pusat kegiatan agama Yahudi hingga kini masih terus berlanjut.

Isu Utama Muslimin Sedunia

Masjid Al-Aqsha adalah masjid kedua yang dibangun pertama kali di bumi dan masjid tersuci ketiga setelah Masjid Al-Haram di Mekkah dan Masjid An-Nabawi di Madinah, Arab Saudi. Al-Aqsha juga merupakan kiblat pertama umat Islam sebelum akhirnya datang perintah Allah kepada Rasulullah untuk menghadap kiblat ke Baitullah (Ka’bah) di Masjidil Haram.

Masjid Al-Aqsha adalah satu-satunya masjid yang ada di dunia ini yang dipenuhi sejumlah bangunan di sekililingnya. Di dalamnya berdiri 45 situs bersejarah dan tempat suci bagi kaum Muslimin. Setidaknya ada lima bangunan masjid. Bangunan utama, tentu saja Masjid Al-Aqsha Qadim (disebut juga Masjid Al-Qibly) dengan kubah abu-abunya, lalu Qubbah As-Shakhrah dengan kubah emasnya, kemudian Masjid Umar dan Mushala Al-Marwani. Delapan pintu gerbang yang mengelilingi Masjid Al-Aqsha memungkinkan setiap jamaah masuk dari berbagai arah. Empat menara menjulang di keempat sudut kompleks Al-Aqsha.

Masjid Al-Aqsha terletak di Kota Tua Al-Quds, Jantung Palestina.

Maka sungguh apa yang disampaikan Duta Al-Quds Internasional Ustadz Yakhsyallah Mansur dalam pendahuluan buku Perjuangan Palestina Masa Kini menegaskan hakikat konflik Arab-Israel telah dipahami secara keliru selama lebih dari setengah abad sejak pencaplok Zionis mendirikan negeri Yahudi di tanah Palestina tahun 1948 dengan nama Israel.

Zionisme internasional berhasil melukiskannya sebagai perselisihan antara bangsa Yahudi dan bangsa Arab. Dalam kenyataannya, posisi Palestina menjadi posisi strategis bagi umat Islam, karena di wilayah itu terdapat berbagai tempat suci milik umat Islam sepanjang sejarahnya.

Palestina adalah milik umat Islam, bukan sekadar milik bangsa Arab saja —sebagaimana anggapan sebagian pihak umat Islam yang menganggap kasus Palestina hanya merupakan agenda bangsa Arab. Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam dalam sebuah sabdanya mengatakan, “Barangsiapa yang tidak memperhatikan perkara orang muslim, maka ia tidak termasuk dalam golongan Islam.”

Sudah jelas posisi strategis Palestina bagi umat Islam. Posisi ini juga memperjelas peta konflik antara umat Islam dengan Yahudi yang sekarang bercokol di Palestina.

Umat Islam membenci Yahudi saat ini karena mereka merampas hak milik umat Islam, yaitu tanah Palestina dan mengotori tempat suci kaum Muslimin.

Yahudisasi Al-Quds hingga upaya Penghancuran Al-Aqsha

Muslim Palestina terpaksa melaksanakan ibadah di luar kompleks Masjid Al-Aqsha, Kota Al-Quds (Yerusalem) setelah polisi Zionis melarang mereka masuk (Foto: Al-Aqsa Foundation)
Muslimah Palestina terpaksa melaksanakan ibadah di luar kompleks Masjid Al-Aqsha, Kota Al-Quds (Yerusalem) setelah polisi Zionis melarang mereka masuk, Agustus 2014. (Foto: Al-Aqsa Foundation)

Terlalu banyak kejahatan yang telah dan sedang dilakukan oleh Zionis terhadap Masjid Al-Aqsha yang menjadi jantung hati umat Islam.

Setelah berdirinya secara sepihak negara haram Zionis Israel di Palestina yang diumumkan pada 14 Mei 1948 yang langsung diakui oleh Amerika Serikat (AS) (peristiwa Nakbah), terutama sejak rezim Zionis menguasai Kota Al-Quds (Bait Al-Maqdis; dalam bahasa Ibrani Yerusalem) pada 7 Juni 1967 yang diperingati sebagai Hari Kemunduran (Hari Naksah), berakibat pada meluasnya wilayah jajahan Israel yang mencapai 85 % dari keseluruhan wilayah Al-Quds.

Sejak itu, penjajah Zionis Israel telah berusaha untuk melenyapkan identitas Islam di Kota Al-Quds, serta berbagai persiapan yang dibuat oleh organisasi-organisasi ekstrimis Yahudi untuk membangun apa yang disebut mereka sebagai Kuil Ketiga (Al-Haykal) di atas reruntuhan Al-Aqsha.

Aktivitas penggalian terowongan dengan dalih penggalian arkeologi paling aktif dilakukan di dalam Masjid Al-Aqsha dan Kota Al-Quds. Penggalian intensif sejak 1967 dilakukan di bawah naungan Kementerian Urusan Agama Israel. Pada 1968, penggalian dilakukan di bagian selatan Masjid Al-Aqsha, dilanjutkan dengan penggalian bagian barat Masjid Al-Aqsha sejak 1970.

Penggalian yang dilakukan Zionis Israel tidak pernah diarahkan untuk mengetahui kebenaran sebanyak mungkin untuk membuktikan klaim Yahudi dan berusaha untuk menemukan bukti peninggalan Taurat yang rusak dan narasi-narasi sejarah Israel. Mereka sengaja melenyapkan peninggalan Islam yang ditemukan, mengubah fitur lokasi dan memalsukan identitas aslinya.

Jumlah operasi penggalian Zionis Israel di dalam Al-Aqsha telah melampaui 60, dan operasi itu telah mengungkapkan peninggalan-peninggalan Islam, Bizantium, Romawi dan Yebus.

Sebuah kota terowongan telah terbentuk, bahkan kedalaman terowongan telah mencapai 40 meter di bawah tanah; ini menimbulkan ancaman bagi fondasi Masjid Al-Aqsha. Penggalian yang kerap menggunakan alat berat tersebut, telah menyebabkan keretakan pada struktur bangunan-banguan suci di atasnya.

Pemerintah Zionis Israel juga terus melakukan kebijakan Yahudisasi dengan mengumumkan rencana untuk membangun ratusan sinagog. Pencapaian Zionis yang paling menonjol dalam hal ini selama tahun 2009 adalah pembukaan Sinagog Hurva, yang merupakan sinagog besar terletak di kawasan Al-Sharaf di sebelah barat Masjid Al-Aqsha. Sinagog ini akan menyembunyikan Masjid Al-Qibli sepenuhnya dari pandangan orang jika melihat dari arah barat.

Selain itu, Pemerintahan di Kota Al-Quds yang dikuasasi Zionis Israel –Israeli Jerusalem Municipality – mulai mendirikan Museum Toleransi Yerusalem di atas pemakaman Islam bersejarah Ma’manullah, terletak di sebelah barat Kota Al-Quds. Pemakaman Ma’manullah merupakan tempak disemayamkannya jasad para sahabat Nabi Muhammad dan penerus mereka, serta ribuan ulama dan para syuhada.

Di sisi lain, pemerintah Zionis Israel melanjutkan pelanggaran mereka atas identitas budaya dan sejarah Al-Quds melalui Komite Penamaan Pemerintah, yang melakukan penggantian nama tempat, situs dan jalan-jalan, menurut dugaan Zionis, pertimbangan sejarah, atau Taurat yang sudah dirubah.

Bahkan, selama beberapa tahun terakhir, penjajah Zionis Israel telah meningkatkan penyerbuan terhadap Masjid Al-Aqsha untuk memaksakan pembagian tempat ibadah, di mana ribuan ekstremis Yahudi telah menyerbu kompleks Al-Aqsha untuk menyatakan niat mereka secara terbuka, menekankan hak orang-orang Yahudi yang mereka klaim di Kota Al-Quds dan membuka jalan bagi membagi Al-Aqsha antara Muslim dan Yahudi karena hal itu telah dilakukan mereka pada Masjid Ibrahimi di Kota Hebron sejak 20 tahun yang lalu.

Baru-baru ini, Rabi Radikal Yehuda Glick memimpin sekitar 20 pemukim ilegal Yahudi menyerbu Masjid Al-Aqsha, Al-Quds yang diduduki.

Tepat Rabu (20/8) lalu, sebagaimana Kantor Berita Palestina Al-Ray melaporkan, para pemukim ilegal Yahudi menyerbu Masjid Al-Aqsha dari Gerbang Al-Magharibah, barat masjid dan melakukan tur provokatif di sekitar lingkungan Al-Aqsha.

Sementara Polisi Zionis menangkap seorang mahasiswa Palestina bernama Ibrahim Abu Arrar dari dalam masjid, untuk diinterogasi, setelah ia dan sejumlah jamaah Palestina lainnya mencoba mencegah serbuan ekstrimis Yahudi itu.

Dalam beberapa bulan terakhir, sekelompok besar pemukim ilegal ekstrimis Yahudi, sering disertai dengan pasukan keamanan Israel, telah berulang kali memaksa masuk ke dalam lingkungan Al-Aqsha dan mengakibatkan bentrokan antara polisi Zionis dan jamaah Muslim yang tersulut.

Pada saat yang sama, warga Palestina yang berusia di bawah 50 tahun tidak dapat memasuki kompleks Masjid Al-Aqsha. Bahkan, Polisi penjajah Zionis Israel melarang muslimah penduduk asli Al-Quds memasuki Masjid Al-Aqsha untuk melaksanakan ibadah di sana.

(Foto: Al-Aqsa Foundation)
Jembatan besi dan jembatan kayu yang sedang dibuat pemerintah Zionis Israel untuk meningktakan penyerbuan ekstrimis Yahudi ke dalam Masjid Al-Aqsha, Agustus 2014. (Foto: Al-Aqsa Foundation)

Yayasan Al-Aqsha untuk Wakaf dan Warisan Islam mengungkapkan, pihak penjajah Zionis Israel telah memulai pembangunan jembatan kayu di atas jalan menuju gerbang Al-Magharibah, barat Masjid Al-Aqsha di Kota Al-Quds yang diduduki.

Jembatan itu akan dibangun dengan mengorbankan jalan Gerbang Al-Magharibah untuk mengatur lebih banyak penodaan dengan aksi serbuan para ekstremis Yahudi menuju Masjid Al-Aqsha dan mengubah di antara ruang-ruang karena gerbang tersebut menjadi rumah-rumah ibadat orang Yahudi.

Yayasan Al-Aqsha memperingatkan, pembangunan jembatan kayu menunjukkan serangkaian maksud jahat Zionis Israel termasuk membuka jalan untuk upaya perusakan Zionis ke Masjid Al-Aqsha dan membangun rumah-rumah ibadat Yahudi yang besar di dalamnya.

Yayasan Al-Aqsha mengatakan pembangunan jembatan kayu terbaru memicu beberapa pertanyaan terutama apakah akan membuka jalan bagi pembentukan sebuah jembatan besi raksasa, di mana tawarannya sudah ditandatangani beberapa waktu lalu.

Atau jembatan dimaksudkan untuk digunakan sebagai pendukung dari satu jembatan yang dibangun pada tahun 2004 sehingga membentuk gerbang jalan untuk memungkinkan lebih banyak para ekstremis Yahudi menyerbu ke dalam Masjid Al-Aqsha, sebagaimana direkomendasikan oleh komite parlemen Israel, Knesset.

Di sisi lain, pemerintah Israel telah meningkatkan serangan mereka terhadap penduduk pribumi Kota Al-Quds (Jerusalemites) merupakan keluarga asli Palestina yang mediami tempat suci itu selama turun temurun yang dianggap sebagai perisai perlindungan bagi Kota Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha (Murabhitun). Ribuan rumah mereka dihancurkan, tanah mereka disita dan ribuan Jerusalemites diusir dari tanah kelahiran mereka.

Bahkan, organisasi-organisasi ekstrimis Yahudi telah meningkatkan kegiatan yahudisasi mereka untuk menandai apa yang disebut “kehancuran kuil dugaan”.

Penjajah Zionis telah jelas menyatakan memulai pembangunan Kuil Yahudi Ketiga sebagaimana  klaim mereka dengan mengorbankan Masjid Al-Aqsha.

Yayasan Al-Aqsha mengungkapkan organisasi yang dipimpin Rabbi radikal, Yehuda Glick, Temple Institute, baru-baru ini meluncurkan kampanye perluasan penggalangan dana yang diperkirakan menargetkan sebesar 100 ribu dolar untuk menyusun grafik pembangunan kuil dugaan ketiga dengan menghancurkan Masjid Al-Aqsha.

Yayasan menjelaskan bahwa Temple Institute telah memproduksi sebuah video berdurasi pendek yang mencakup adegan memfilmkan adegan yang mencerminkan upaya Zionis Israel untuk mencapai tujuan membangun kuil dugaan ketiga pada reruntuhan Masjid Al-Aqsha.

Organisasi yang didirikan dan dipimpin Rabi Radikal Yisrael Ariel itu, tanpa malu-malu memublikasikan tujuan mereka yaitu menghancurkan Masjid Al-Aqsha, kemudian menggantinya dengan Kuil Ketiga. Mereka telah memperkenalkan gagasan dan model Kuil Ketiga itu, dalam berbagai kegiatan seperti diskusi, pameran, dan lain-lain. Logo organisasi itu adalah model Kuil Ketiga, dengan slogan ‘build we must’.

Video provokatif tersebut telah dilihat lebih dari 100 ribu pengunjung di laman YouTube sampai saat ini.

Sepanjang baris yang sama, yayasan menunjuk pernyataan Menteri Perumahan Israel Uri Ariel pekan lalu saat menyerbu Masjid Al-Aqsha di mana ia mengklaim bahwa “persatuan di antara orang-orang Israel adalah satu-satunya jaminan untuk mempercepat pembangunan kuil.”

Semoga fakta-fakta berikut dapat menyadarkan kita dari semua kelalian dan kecerobohan dan tetap fokus serta tidak akan sedikit pun berpaling dari Masjid Al-Aqsha.

Apa yang sudah dan sedang terjadi terhadap Masjid Al-Aqsha harus menyadarkan umat Islam dari tidur nyenyak dalam buaian mimpi yang berterusan.

Masjid Al-Aqsha harus diselamatkan dari kehancuran ekstrimis Yahudi.

Harus Proaktif

Sepatutnya 21 Agustus dijadikan sebagai sejarah untuk diingat oleh umat Islam sedunia. Bukan hanya sekedar diperingati tapi sepatutnya dijadikan sebagai perasaan cinta umat terhadap Masjid Al-Aqsha, agar perjuangan membela dan mempertahankan Masjid Al-Aqsha senantiasa segar diingatan kita.

Dokumen-dokumen yang berkaitan Masjid Al-Aqsha tersebut mau pun film-film sejarah dan peristiwa pembakarannya seharusnya menjadi tayangan wajib setiap saluran utama media di negara-negara Islam. Jika dapat para pemimpin negara-negara Islam bergilir menjadi tuan rumah bagi peringatan 21 Agustus, jika memang benar-benar menjadikan isu Masjid Al-Aqsha dan isu Palestina sebagai pokok pikiran mereka.

Umat Islam pun harus dituntut bersikap proaktif dalam menyelamatkan Masjid Al-Aqsha. Sungguh tiada sulitnya kita mendapatkan mayoritas anak-anak muda dan generasi tua yang tidak tahu bahwa Masjid Al-Aqsha pernah dibakar pada tahun 1969.

Lebih mengenaskan lagi, banyak yang tidak mengambil peduli tentang ancaman para ekstrimis Yahudi yang akan menghancurkan Masjid Al-Aqsha, bahkan tidak tahu sama sekali keberadaan dan kondisi Masjid Al-Aqsha saat ini, berbanding dengan kepekaan mereka terhadap tayangan-tayangan komedi yang ditampilkan di layar kaca di rumah-rumah mereka.

Setiap Muslimin harus merasakan tanggungjawab untuk mempertahankan Masjid Al-Aqsha dari upaya pembakaran untuk kedua kalinya, atau dihancurkan dan diganti dengan kuil Yahudi, maka harus ada tindakan nyata yang segera dilakukan.

Sebagaimana kiprah Aqsa Working Group (AWG), lembaga swadaya masyarakat yang dibentuk untuk mewadahi dan mengelola upaya kaum muslimin demi pembebasan Masjid Al-Aqsha. Lembaga yang kini tersebar di seluruh Indonesia dan beberapa cabang di luar negeri itu dibentuk berdasarkan keputusan sidang akhir Al-Aqsha International Conference di Jakarta pada 21 Agustus 2008.

Berbagai macam bentuk sosialisasi dan aksi dalam upaya perjuangan pembebasan Masjid Al-Aqsha pun dilakukan. Lembaga itu memprakarsai Konferensi Internasional untuk Pembebasan Al-Aqsha di Bandung, Jawa Barat, Indonesia, tahun 2012 lalu yang menghasilkan “Deklarasi Bandung untuk Pembebasan Al-Quds dan Kemerdekaan Palestina.”

Lembaga yang diketuai Agus Sudarmaji, MSc. tersebut sering mengadakan Konferensi Al-Aqsha untuk mensosialisasikan akan pentingnya perjuangan ini. Bekerjasama dengan Ma’had Al-Fatah Indonesia mengirim para dai ke berbagai daerah untuk menyampaikan masalah-masalah Palestina. Juga bekerjasama dengan beberapa stasiun radio di Jabotabek dan melakukan sosialisasi melalui cabangnya di 18 provinsi.

Bahkan AWG bekerjasama dengan Al-Quds Institute Yaman mengadakan Pelatihan Kader Dai Internasional Al-Quds Institute Yaman Jama’ah Muslimin (Hizbullah) pada Maret-Mei 2009. Sejumlah 25 dai yang terdiri dari para pengurus dan mubaligh serta mubalighah dari wilayah-wilayah di Indonesia mendaptkan pembekalan khusus tentang kepalestinaan dan Baitul Maqdis lewat program daurah (pendidikan khusus) sekitar tiga bulan di ibukota Yaman, Sana`a.

AWG juga bekerjasama dengan Muassasah Al-Quds (pimpinan Dr. Yusuf Al-Qaradhawi) menyelenggarakan diklat kajian Palestina dalam rangka meningkatkan solidaritas pembelaan atas tempat ibadah Masjid Al-Aqsha dan nasib warga Palestina 15—31 Mei 2010 di Graha Insan Cita, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

Sebenarnya upaya perjuangan pembebasan Masjid Al-Aqsha pun sudah dilakukan secara diam-diam dan tanpa banyak media yang merekam dengan inisiatif Jamaah Muslimin (Hizbullah), membuka jalan bagi terciptanya sebuah kesadaran dan kebersamaan kaum Muslimin dengan strategi yang jelas dan terarah terutama yang ditujukan kepada umat Islam di Tanah Air dalam membela Palestina tempat kiblat pertama dan tanah suci ketiga umat Islam.

Sejak itu, Jamaah Muslimin (Hizbullah) memaklumkan Ghazwah Al-Aqsha ke dunia Islam sejak 24 Sya’ban 1427 H. / 17 September 2006 M. Pkl. 11.50 WIB dengan Pembacaan “Maklumat Ghazwah Al-Aqsha dan Ikrar Pembebasan Al-Aqsha” disampaikan Atas nama Umat Islam oleh Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah), K.H. Muhyiddin Hamidy.

Sejak itu, Jamaah Muslimin (Hizbullah) telah menyelenggarakan sosialisasi Ghazwah Al-Aqsha berupa Gerak Jalan/Longmarch Cinta Al-Aqsha, Bedah Buku Zionis, Pameran Foto Kekejaman Zionis, Pemutaran CD Palestina dan Perjuangan Islam, Seminar/Tabligh Akbar Al-Aqsha Haqquna, pengumpulan dana Dinar Lil Palestina/One Man One Dinar, Penerbitan Kalender dan Buku Al-Aqsha, dan penyiapan mujahid Al-Aqsha, hingga saat ini.

Pernyataan Ghazwah Al-Aqsha, perang membebaskan Al-Aqsha hak kaum muslimin dengan slogannya “Al-Aqsha Haqquna (Al-Aqsha Hak Kaum Muslimin)!” diikuti takbir “Allahu Akbar!” menjadi sinyal kebangkitan umat Islam untuk menyongsong pembebasan Masjid Al-Aqsha, bahkan slogan itu sudah menggema di bumi Gaza, Palestina yang disosialisasikan oleh duta Jamaah Muslimin (Hizbullah).

Aksi Nyata

Maka, untuk menunaikan tanggung jawab kita terhadap perjuangan pembebasan Masjid Al-Aqsha dan kemerdekaan Palestina, tentunya hal itu dimulai dari diri sendiri, ketahuilah sejarah dan berita yang berkaitan dengan Palestina dan Masjid Al-Aqsha. Persiapkanlah diri dan keluarga untuk menyambut seruan jihad, jika memang telah datang seruan demi mempertahankan Masjid Al-Aqsha. Didiklah anak-anak, saudara, tetangga dan rekan kerja tentang kepentingan membela Masjid Al-Aqsha dalam aqidah umat Islam.

Bagi pemegang kepentingan di sekolah, anjurkan program yang berkaitan dengan kesadaran terhadap Masjid Al-Aqsha setiap 21 Agustus. Begitu juga jika menjadi pegurus masjid dan organisasi Islam setempat.

Bagi para pelajar, mahasiswa/i, pemuda pemudi, mempunyai tugas untuk menghidupkan ruh jihad bagi pembebasan Masjid Al-Aqsha di dalam hati setiap penghuni sekolah mau pun kampus sekalian. Anjurkanlah program memperingati Masjid Al-Aqsha di sekolah dan kampus dengan ceramah, konser amal, buletin, diskusi, forum, tayangan video dan berbagai jenis acara yang dapat dipikirkan secara kreatif.

Jika mampu, sebarkan artikel ini dan artikel lain yang berkaitan dengan Masjid Al-Aqsha kepada mereka, saudara-saudara kita, agar kesadaran yang muncul nanti akan membawa kepada hasil yang positif di masa mendatang.

Lakukanlah segera tindakan proaktif sebelum sampai waktunya umat Islam hanya mengenali Masjid Al-Aqsha setelah ia dihancurkan dan diganti dengan Kuil Yahudi. Pada saat itu, segalanya sudah terlambat! (T/R05/R03)

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Comments: 0