Jangan Takut Covid-19

Ilustrasi: Proses pemakaman pasien Covid-19 yang meninggal dunia. (IST)

Oleh Rudi Hendrik, wartawan MINA

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

 وَمَا ڪَانَ لِنَفۡسٍ أَن تَمُوتَ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِ كِتَـٰبً۬ا مُّؤَجَّلاً۬‌ۗ وَمَن يُرِدۡ ثَوَابَ ٱلدُّنۡيَا نُؤۡتِهِۦ مِنۡہَا وَمَن يُرِدۡ ثَوَابَ ٱلۡأَخِرَةِ نُؤۡتِهِۦ مِنۡہَا‌ۚ وَسَنَجۡزِى ٱلشَّـٰكِرِينَ (١٤٥) وَكَأَيِّن مِّن نَّبِىٍّ۬ قَـٰتَلَ مَعَهُ ۥ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ۬ فَمَا وَهَنُواْ لِمَآ أَصَابَہُمۡ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَمَا ضَعُفُواْ وَمَا ٱسۡتَكَانُواْ‌ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّـٰبِرِينَ

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan [pula] kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran [3] ayat 145).

Virus Covid-19 yang diduga kuat berasal dari Wuhan, China, hingga kemudian berbagai variannya telah menjadi hantu dan momok menakutkan bagi manusia di muka bumi, karena menjadi sebab kematian 4,24 juta orang di dunia, termasuk di dalamnya 97.291 jiwa di Indonesia (data per 4 Agustus 2021).

Angka itu diduga lebih kecil dari jumlah yang sebenarnya karena banyaknya kematian yang tidak terdata, bahkan masih terus bertambah hingga wabah Covid-19 ini benar-benar sudah berhenti menjangkiti manusia di dunia.

Sejauh ini, begitu banyak orang Islam, terlebih non-Muslim, yang beranggapan bahwa virus itulah yang mengakhiri durasi hidup mereka di dunia, sehingga mereka begitu takut terhadapnya. Padahal, dengan jelas Allah katakan bahwa manusia itu mati karena “telah ditentukan waktunya”, bukan karena virus, bukan karena peluru, bukan karena senjata tajam, bom, kecelakaan, penyakit, dan lainnya.

Allah yang menentukan waktunya, Malaikat Izrail eksekutornya, dan berbagai kondisi yang menjadi cara matinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلۡ إِنَّ ٱلۡمَوۡتَ ٱلَّذِى تَفِرُّونَ مِنۡهُ فَإِنَّهُ ۥ مُلَـٰقِيڪُمۡ‌ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَـٰلِمِ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَـٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada [Allah] yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan’.” (QS. Al-Jumu’ah [62] ayat 8).

Bisa jadi seorang hamba memilih pergi ke negeri yang jauh demi menghindari wabah yang melanda negerinya, tetapi kemudian ia meninggal ketika pesawatnya kecelakaan saat mendarat. Hamba itu menyangka bahwa ia akan hidup lebih lama lagi jika menjauhi wabah yang mungkin membunuhnya, tetapi ia justru pergi ke tempat yang dia ditetapkan mati di sana.

Jadi, pemutus kehidupan seseorang di dunia bukanlah kondisi seperti sakit Covid-19, kecelakaan kendaraan, tenggelam, jatuh, dan lain-lain, tetapi pemutus itu hanya satu hal saja, yaitu maut yang oleh Allah sudah ditentukan waktu dan tempatnya sebelum kita lahir ke dunia.

Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,

إنَّ أَحَدَكُم يُجْمَعُ خلقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ

“Sesungguhnya seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah (bersatunya sperma dengan ovum), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) seperti itu pula. Kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) seperti itu pula. Kemudian seorang Malaikat diutus kepadanya untuk meniupkan ruh di dalamnya, dan diperintahkan untuk menulis empat hal, yaitu menuliskan rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya….” (penggalan HR Bukhari – Muslim)

Maka, bersikaplah sewajarnya di dalam kehidupan dengan amal saleh. Tidak sepatutnya orang-orang yang beriman kepada Allah, Rasul-Nya, dan Hari Kiamat takut terhadap kematian, karena maut itu akan datang kepada semua makhluk yang bernyawa, tanpa bisa dicegah atau ditunda waktunya. Justru bersiap dan berbenahlah setiap saat untuk menyambut Malaikat Izrail, karena Pencabut Nyawa itu tidak pernah memberi tahu kapan ia akan datang kepada kita.

Pesan siap mati dari Covid-19

Di masa virus Covid-19 mewabah di sebagian wilayah Indonesia, ada sebuah lingkungan nelayan di Kabupaten Tangerang yang sangat takut dengan Covid-19, sama halnya dengan warga-warga lainnya di banyak daerah. Nama lingkungan sengaja tidak disebutkan dengan jelas.

Namun, lingkungan ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah, diperburuk dengan Ketua RW-nya yang tidak peduli dan obsesinya hanya uang.

Pada awal, bantuan sembako dari pemerintah dan swasta memang ada, tetapi tidak rata dan sedikit, jauh berbeda dengan warga DKI yang mendapat limpahan bantuan. Setelah itu tidak ada lagi sampai akhirnya wabah melanda lingkungan.

Meski takut terhadap Covid-19, sejak awal hingga hampir dua tahun pandemi, warga lingkungan ini tidak taat prokes, karena selama ini warga tidak ada yang terjangkiti. Mereka shalat berjamaah seperti biasa di masjid dan musala, mengadakan shalat jumat yang normal, berkerumun, tidak pakai masker dan semuanya normal, kecuali beberapa kondisi tertentu yang memaksa mereka bermasker karena tuntutan panitia pembagian sembako.

Di lingkungan ini pun tidak pernah ada Satgas Covid yang masuk untuk tracing atau vaksin, sebelum pada akhirnya wabah menjangkiti lingkungan.

Pada pertengahan Mei hinga awal Juli 2021, tiba-tiba banyak warga yang sakit panas, pusing, lemas, kehilangan indera penciuman, insomnia, batuk, sesak napas, dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Tidak ada yang berani memeriksakan diri ke klinik atau puskesman. Tidak ada pula yang berani mengklaim diri mereka terkena Covid-19 meski gejala-gejalanya sama.

Mulailah sejumlah orang yang sakit membudayakan berjemur diri di pagi hari. Setiap orang yang sakit mengobati dirinya dengan cara masing-masing, seperti sekedar membeli obat warung, beli obat di toko obat, mengikuti tips-tips di media sosial, tanpa melibatkan dokter secara langsung. Mereka hanya beranggapan bahwa sakit mereka itu karena perubahan cuaca.

Pada masa itu, mulai ada yang wafat. Satu, satu, dua, hingga empat orang dalam sehari di sejumlah titik. Mereka yang wafat umumnya orang tua, tapi tidak menutup kemungkinan yang usia muda. Namun, semuanya dianggap meninggal biasa, bukan karena Covid-19. Sebab, acara tahlilan tujuh hari tetap warga jalankan tanpa prokes.

Warga yang sakit, beragam tingkat keparahannya. Ada yang ringan, sedang, hingga yang lemas dan sulit bernapas. Hingga akhirnya, tidak ada lagi warga yang wafat, warga yang sehat pun semakin banyak. Yang sakit sudah mulai shalat berjamaah kembali di masjid, meski masih menyisakan batuk-batuk. Itu menunjukkan puncak wabah di lingkungan tersebut sudah terlewati, warga pun kembali menjalani aktivitas sehari-harinya dengan normal dan lebih peduli menjaga kesehatan diri.

Akhirnya terciptalah kekebalan komunal atau herd immunity, meski kemudian hasil penelitian menyebutkan, orang yang sudah terjangkiti Covid-19 akan memiliki kekebalan dengan sendirinya sekitar delapan bulan saja.

Banyak hikmah yang bisa dipetik dari kondisi desa nelayan yang menghadapi wabah dengan alami dan kondisi apa adanya. Tidak ke dokter, tidak isoman, tidak tes swab dan belum divaksin (vaksinasi baru masuk setelah wabah di lingkungan tersebut reda).

Ketika warga lingkungan terkena wabah, pada umumnya mereka sakit. Bagi seorang Muslim itu adalah kebaikan.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيْبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلاَّ حَطَّ اللهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ

“Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti akan dihapuskan kesalahannya, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5661 dan Muslim no. 651)

Ketika warga yang terkena wabah sampai meninggal dunia, maka kabar gembira baginya jika ia seorang Muslim adalah wafat dalam kondisi syahid.

 عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الطَّاعُونِ فَأَخْبَرَنِي أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ وَأَنَّ اللَّهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ (رواه البخاري)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang masalah tha’un (wabah) lalu beliau mengabarkan, bahwa tha’un (penyakit sampar, pes, lepra) adalah sejenis siksa yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum muslimin. Tidak ada seorang pun yang menderita tha’un lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, dan mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid.” (HR. Al-Bukhari)

Dengan adanya asumsi bahwa semua orang akan terkena wabah dan berisiko dapat wafat jika Allah menghendaki, maka seorang Muslim akan bersiap untuk menghadapi kematian dengan berbekal dan tanpa takut. Sebab takut atau tidak, kematian tetap akan datang tepat waktu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيۡرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقۡوَىٰ‌ۚ وَٱتَّقُونِ يَـٰٓأُوْلِى ٱلۡأَلۡبَـٰبِ

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah [2] ayat 197). (A/RI-1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)