Jargon Revolusi Akhlak, MUI: Tidak Perlu Khawatir

Jakarta, MINA – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia () Anwar Abbas mengatakan, tidak perlu dirisaukan dengan jargon revolusi akhlak yang digagas eks Imam Besar Front Persaudaraan Islam (FPI) Habib Muhammad Rizieq Shihab.

“Gagasan revolusi akhlak Habib Rizieq sesuai dengan keinginan Presiden Jokowi yang ingin menanamkan ‘Berakhlak’ sebagai nilai-nilai dasar bagi ASN. Berakhlak merupakan singkatan dari berorientasi pelayanan, akuntabel, kompeten, harmonis, loyal, adaptif, dan kolaboratif,” kata Buya Abbas keterangan tertulis, Sabtu (23/7).

Namun lanjutnya, dengan membuat singkatan BerAkhlak di situ juga terkandung maksud agar para ASN tersebut selain memiliki sifat-sifat terpuji dimaksud mereka juga diharapkan akan menjadi insan- insan ASN yang memiliki akhlak.

Meski tak sama persis, berakhlak baik yang digagas Jokowi maupun Habib Rizieq sama-sama ingin menghapus praktik korupsi yang pasca reformasi kini mulai meluas.

Mengutip pernyataan Mahfud MD, kata Abbas, jika di masa reformasi, korupsi hanya dilakukan pemerintah eksekutif, kini justru juga dilakukan legislatif dan yudikatif.

“Hal ini tentu menjadi sebuah pertanda bagi kita semua bahwa negara dan bangsa ini sudah dalam keadaan bahaya atau tidak dalam keadaan baik-baik saja,” katanya.

Menurut Abbas, gagasan Rizieq Shihab tentang revolusi akhlak mestinya tak perlu ditakuti. Bahkan gagasan tersebut harus didukung semua pihak.

“Secara teoritis dan praktis jika kita masih punya keinginan untuk menjadikan bangsa dan negara ini menjadi bangsa dan negara yang maju, para ASN dan rakyat luas di negeri ini harus bisa melakukan revolusi mental dan atau revolusi akhlak,” katanya.

Sebelumnya, kembali menggaungkan revolusi akhlak usai bebas bersyarat. Revolusi akhlak merupakan jargon yang digaungkan Rizieq usai tiba di Indonesia dari Saudi pada November 2020 lalu.

“Sebagaimana yang telah saya sampaikan setiba di tanah air sewaktu saya pulang dari kota suci mekkah, yaitu ayo kita sama-sama gaungkan kembali terus yaitu revolusi akhlak, revolusi akhlak dengan cara yang berakhlak,” kata Rizieq.

Ia menyebut situasi Indonesia saat sudah rusak di mana-mana. Selain itu, Indonesia juga disebut darurat kebohongan. Menurut Rizieq semua kerusakan itu bisa diobati dengan revolusi akhlak.

“Negeri kita lagi darurat kebohongan karena itu yang saya ingin sampaikan di sini, apakah itu darurat kebohongan, apakah itu darurat korupsi, apakah itu darurat kezaliman, apakah itu darurat utang, apalah itu darurat ekonomi dan lain sebagainya. Maka kuncinya yuk sama-sama kita obati semua itu dengan revolusi akhlak,” katanya. (R/R4/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)