Jauhi Sifat Sombong

Oleh: Rendy Setiawan, Jurnalis Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Sombong atau membanggakan diri adalah salah satu ciri sifat yang melekat pada manusia, dan bisa menimpa siapa saja tanpa terkecuali. Orang sombong selalu membanggakan dirinya, sehingga lupa bahwa semua yang dimilikinya hanyalah karena karunia Allah Ta’ala semata yang harus disyukuri bukan untuk dibangga-banggakan kepada orang lain.

Islam sangat melarang sikap merasa dirinya lebih baik dari pada orang lain dan memandang rendah orang lain serta tidak mau taat, juga enggan tunduk kepada Allah Ta’ala.

Terkadang, sifat sombong disamakan dengan sifat ujub, yaitu menganggap kelebihan yang ada pada dirinya adalah atas usahanya sendiri.

Sombong terbagi dalam tiga jenis, pertama sombong kepada Allah Ta’ala, sebagaimana yang dilakukan oleh Raja Namrud, Raja Fir’aun dan Abu Lahab. Kedua, sombong kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan tidak mengamalkan ajaran dan perilaku beliau, bahkan cenderung meremehkannya dan menganggap sunnah-sunnah beliau sudah ketinggalan zaman, tidak berlaku lagi di zaman yang dibilang modern saat ini.

Dan yang ketiga, sombong kepada sesama makhluk Allah Ta’ala, seperti sombong karena memiliki harta yang banyak, ilmu, amal, dan nasab di hadapan orang lain. Jenis sombong ketiga inilah yang paling sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَمۡشِ فِى ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًا‌ۖ إِنَّكَ لَن تَخۡرِقَ ٱلۡأَرۡضَ وَلَن تَبۡلُغَ ٱلۡجِبَالَ طُولاً۬ (٣٧

Artinya: “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (Q.S. Al-Israa [17]: 37)

Allah melarang hamba-hamba-Nya berjalan dengan penuh kesombongan dan keangkuhan terhadap sesama.

Seorang muslim seyogyanya selalu menjaga hati dari sikap sombong. Manakala hati yang selalu terjaga dari sikap sombong, ia akan mudah dalam menuntut ilmu, akan mudah menerima hidayah, akan mudah menerima kelebihan orang lain dan berbagai sifat baik lainnya.

Sementara hati yang terjangkiti virus sombong akan memunculkan sifat dan perilaku yang kurang baik seperti merasa paling bisa, tidak ada orang lain yang bisa selain dirinya, tidak ada yang lebih hebat selain dirinya. Merasa paling hebat inilah sifat yang pertama kali ditampilkan oleh sosok iblis di hadapan Allah Ta’ala, ketika diperintahkan untuk bersujud kepada Nabi Adam alahissalam.

Berbeda dengan para malaikat yang mematuhi perintah Allah, iblis dengan kesombongannya mengatakan bahwa dirinya lebih baik dan memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari Nabi Adam Alaihissalam yang ‘hanya’ diciptakan dari tanah. Menurut iblis, ini membuktikan, dirinya yang diciptakan dari api lebih pantas dan lebih baik dari Nabi Adam alaihissalam.

Ini bentuk kepongahan dan kesombongan iblis yang membuatnya jauh dari rahmat Allah untuk selamanya.

Hati Menjadi Keras karena Sombong

Selain bisa membuat jauh dari rahmat dan hidayah Allah, sifat sombong juga bisa membuat hati menjadi keras, hati menjadi kusam. Satu kesombongan akan terus diikuti dengan kesombongan-kesombongan yang lain. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bahkan mengancam siapa saja yang di dalam hatinya ada sedikit saja sifat sombong, maka ia tidak akan masuk syurga.

Suatu ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda: “Tidak akan masuk syurga orang yang di dalam hatinya ada sekecil atom kesombongan.” Seorang laki-laki berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada orang yang senang dengan pakaian yang bagus, juga sandal yang bagus. Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sementara sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.” (H.R. Muslim).

Ketika sifat sombong menguasai diri seseorang, maka hatinya menjadi keras, hatinya akan enggan menerima hidayah, enggan menerima kebenaran dari orang lain. Dampak inilah yang tidak diinginkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Ada banyak cara yang Allah ajarkan kepada hamba-Nya untuk menghidari sifat sombong, salah satunya adalah dengan banyak mengingat kebesaran Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لا يَسْتَكْبِرُونَ (١٥)

Artinya: “Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong.” (Q.S. As-Sajdah [32]: 15).

Marilah kita senantiasa mengingat kebesaran Allah seraya merenungi dan mengimaninya dengan sebenar-benarnya keimanan serta memohon kepada-Nya agar terhindar dari sifat sombong. Aamiin. (P011/P4)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)