Jelajah Masjid dan Mushola di Bumi Formosa

Oleh: Rana Setiawan, Jurnalis Kantor Berita MINA, Alumnus 2018 Taiwan Muslim Youth Exchange Camp for Southeast Asian Countries

Taiwan adalah salah satu negara nonmuslim yang tengah gencar mempromosikan diri sebagai negara yang ramah bagi para pelancong Muslim.

Pada laporan Mastercard-Crescent Rating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2019 menetapkan negeri Formosa yang berarti pulau indah itu sebagai peringkat ketiga tujuan wisata ramah Muslim terfavorit di negara-negara nonmuslim.

Taiwan secara khusus  berupaya meningkatkan lingkungan ramah Muslim dengan menyediakan beragam fasilitas, seperti tempat ibadah, makanan dan lainnya.

Setidaknya ada sembilan masjid yang cukup besar dan banyak ruang mushola di ruang publik yang tersebar dari ujung utara (Taipei) sampai ke selatan (Kaohsiung). Penulis sendiri dapat berkunjung ke Masjid Raya Taipei dan Masjid Kaohsiung saat mengikuti program “2018 Taiwan Muslim Youth Exchange Camp for Southeast Asian Countries,” atas undangan Kementerian Luar Negeri Taiwan pada 22-28 Juli 2018.

Berikut uraian singkat mengenai sembilan masjid tersebut:

Masjid Raya Taipei

Penulis di depan Masjid Raya Taipei. (Foto: Istimewa)

Masjid ini terletak di persimpangan Taman Da’an. Secara resmi masjid ini dibuka pada 13 April 1960, atas bantuan dana dari pemerintah Taiwan (Republic of China, atau ROC) dan Arab Saudi serta dari negeri-negeri Muslim lainnya.

Selama lebih dari 50 tahun masjid yang beralamat di Jalan Xinsheng S.Rd., No. 62, Sec 2, Taipei City, tersebut menjadi tujuan para pejabat dan masyarakat yang berasal dari negeri-negeri Muslim saat berkunjung ke Taiwan.

Khotbah sholat Jumat di masjid ini dibawakan dalam tiga bahasa yakni Bahasa Arab, Inggris, dan Tiongkok. Setiap usai sholat Jumat para jamaah berkumpul di salah satu ruangan untuk bersosialisasi sembari menikmati kudapan dan minuman yang disediakan pengurus masjid. Daging halal juga dijual saat itu.

Perhimpunan Muslim Tiongkok atau Chinese Moslem Association (CMA) terletak dalam Masjid Raya Taipei dan merupakan organisasi Islam terbesar di Taiwan, yang aktivitasnya tersebar di seluruh daratan negeri ini.

Perhimpunan ini didirikan di bawah nama lain, yakni Perhimpunan Keselamatan Nasional Islam di Kota Wuhan, pada 1938. Bai Chongxi, pemimpin tertinggi Kuomintang dan tokoh politik Tiongkok, merupakan ketua pertama perhimpunan ini. Tujuan awal organisasi ini adalah melawan serangan Jepang. Perhimpunan ini kemudian pindah ke Taiwan setelah Perang Sipil Tiongkok berakhir.

Sekarang ini Perhimpunan Muslim Tiongkok mengambil peran kunci dalam kehidupan Muslim lokal. Organisasi ini ikut mengelola segala urusan masjid di Taiwan, walaupun setiap masjid memiliki badan pengurus untuk mengatur segala urusan mereka.

Selain itu perhimpunan ini aktif dalam beragam upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, termasuk melayani urusan para pekerja tamu Muslim di Taiwan.

Yayasan perhimpunan ini yang bergerak di bidang Pendidikan dan Kebudayaan Islam mengadakan kuliah mengenai Islam untuk Muslim lokal dan masyarakat luas. Perhimpunan Muslim ini juga terlibat dalam pendirian pasar dan bisnis  Halal, mendukung generasi muda Muslim, dan mengurus perjalanan haji sekaligus menguatkan ikatan antara Taiwan dan negeri-negeri Muslim.

Masjid Kaohsiung

Masjid Kaohsiung, selatan Taiwan.(Rana/MINA)

Masjid terbesar kedua di Taiwan dapat dijumpai di kota pelabuhan Kaosiung. Lebih dari 100 jamaah dari berbagai usia dan kebangsaan – beberapa dari mereka adalah para pelaut yang bekerja di kapal yang tengah berlabuh di Kaohsiung – beribadah di masjid ini.

Masjid Kaohsiung dibangun pada 1949 oleh umat Muslim yang mengikuti Pemerintahan Nasionalis di Taiwan.

Bangunan masjid ini dibuat lebih modern pada 1992 setelah lebih dari empat dekade digunakan. Kini, masjid ini menjadi salah satu “cityscape” yang dibanggakan masyarakat Kaohsiung.

Masjid kedua yang pernah didirikan di Taiwan setelah Masjid Raya Taipei ini terletak di Jalan Jianjun No 11, Distrik Lingya.

Mengingat jumlah jamaah yang beribadah bertambah banyak maka pada 1990 Masjid Kaohsiung alami perluasan hingga saat ini luasnya menjadi 2.657 meter persegi dengan memiliki tiga lantai.

Sebuah restoran halal berdiri tepat di samping bangunan masjid ini.

Ikatan Warga Muslim Indonesia Taiwan (IWAMIT) mengadakan pengajian di masjid ini.

Masjid Kebudayaan Taipei

Masjid Kebudayaan Taipei. (Foto: Wikimedia)

Seperti halnya Masjid Raya Taipei, khotbah shalat Jumat di Masjid Kebudayaan Tiongkok dibawakan dalam Bahasa
Arab dan Tiongkok.

Masjid beralamat di Jalan Xinhai No. 3, Lane 25, Taipei City, ini berlantai lima yang selesai dibangun pada 1984, dengan arsitektur dan motif bangunan mengikuti gaya Islam klasik. Perancangnya adalah seorang arsitektur ternama Huang Mo-chun.

Sebagian besar sumbangan untuk membangun masjid ini berasal dari organisasi Liga Dunia Muslim atau “Muslim World League”.

Komunitas Muslim di daerah sekitar masjid ini pertama kali dirintis oleh Akhond Hsiao pada 1940. Awalnya mereka berkumpul di perumahan bergaya Jepang hingga komunitas yang terus berkembang pesat ini membutuhkan fasilitas yang lebih besar.

Masjid ini menjadi kantor dari Majelis Ta’lim Yasin Taipei (MTYT).

Masjid Taichung

Masjid Taichung.(Foto: Wikimedia)

Taichung merupakan kota terbesar ketiga di Taiwan yang memiliki jamaah Muslim tertua, di mana sebuah masjid telah berdiri sejak 1949, ketika para pendukung Chiang Kai-shek dan pasukannya yang beragama Islam pindah ke Taiwan mengikuti pemerintahan Nasionalis Tiongkok.

Dengan sumbangan dari berbagai sumber, termasuk pemerintah Arab Saudi, bangunan masjid dipugar karena dirasa sudah tidak cukup menampung jamaah yang jumlahnya semakin banyak. Pemugaran tersebut selesai pada 1990 dan terletak di bagian kota yang sama di mana Museum Seni Nasional Taiwan berada.

Masjid ini berada di Jalan Dadun South, No. 457, Taichung City. Masjid ini menjadi kantor sekretariat dari Ikatan Muslim Indonesia Taiwan (IMIT).

Masjid Long Gang

Masjid Long Gang.(Foto: MINA)

Masjid ini terletak di kota kecil Zhongli, Wilayah Taoyuan, dibuka pada 1964. Masjid ini adalah masjid kelima yang dibangun di Taiwan.

Sumbangan terbesar untuk tanah dan bangunan berasal dari Perhimpunan Muslim Tiongkok, dengan tambahan dana dari Arab Saudi.

Proyek pembangunan masjid yang beralamat di Jalan Longdong, No. 216, Zhongli City, ini awalnya adalah untuk melayani pasukan Kuomintang yang dipulangkan dari Birma pada 1950-an, yang kebanyakan dari mereka adalah Muslim.

Masjid ini juga menjadi kantor dari Forum Silaturahmi Muslim Indonesia Taiwan (FOSMIT).

Komunitas lokal semakin tumbuh hingga lebih dari 280 keluarga. Pada akhir pekan, dan selama liburan musim dingin dan panas, masjid tersebut mengadakan kursus bahasa arab dasar dan agama Islam untuk mengajari anak-anak tentang Islam.

Bangunan masjid menempati lahan seluas 1.300 meter persegi dan tempat ibadah utama dapat menampung 150 jamaah. Ada pula dapur, asrama, dan kamar mandi. Fasilitas lain masjid seperti ruangan imam, ruangan staf, ruang resepsionis, dan lain lain.

Masjid Tainan

Masjid Tainan.(Foto: Wikimedia)

Tainan merupakan kota tua, namun hingga 1996 belum memiliki masjid. Di kota tersebut kini berdiri masjid empat lantai yang juga mempunyai toko-toko dan fasilitas keagamaan yang lengkap.

Kebanyakan jamaah yang datang ke masjid ini adalah masyarakat Indonesia yang bekerja di kawasan Tainan. Masjid beralamat Jalan Zhonghua East, No. 12, Alley 34, Lane 77, Tainan City, ini juga menjadi tujuan para Muslim dari Chiayi.

Masjid ini menjadi kantor kesekretariatan Forum Kerukunan Keluarga Besar Warga Indonesia Taiwan (FKKBWIT).

Masjid At-Taqwa

Masjid At-Taqwa.(Foto: Wikimedia)

Masjid At-Taqwa berada di Distrik Dayuan, Kota Taoyuan, Taiwan. Masjid tersebut merupakan masjid ketujuh di Taiwan yang dipelopori oleh sepasang suami-istri Taiwan-Indonesia, Bapak Muhammad Yasin (Taiwan) dan Ibu Hasana (Indonesia).

Bekerja sama dengan banyak pihak, organisasi, dan perwakilan pemerintah di Indonesia yang sedikit demi sedikit mengumpulkan dana untuk berdirinya Masjid At-Taqwa ini. Hampir satu tahun proses pembangunan, kini masjid dengan ukuran (kurang lebih) 5 m x 26 m itu telah berdiri.

Masjid At-Taqwa terdiri dari tiga lantai yang difungsikan sebagai berikut: lantai pertama digunakan untuk tempat shalat pria, lantai kedua untuk tempat shalat wanita dan ruang tamu, serta lantai ketiga digunakan untuk kelas dan kamar-kamar penginapan.

Masjid yang berlokasi di Jalan Zili first, No. 8-2, Dayuan District ,Taoyuan City, 337 ini sudah diresmikan pada, Ahad, 9 Juni 2013. Masjid At-Taqwa juga ditetapkan sebagai pusat umat Muslim Indonesia di Taiwan.

Masjid An-Nur Tongkang

Masjid An-Nur Tongkang.(Foto: Wikimedia)

Masjid An-Nur Tongkang berada di Kota Donggang, Kabupaten Pingtung, Taiwan Selatan. Masjid ini terletak di dalam bangunan tiga lantai dengan kapasitas 120 jamaah.

Masjid di daerah Tongkang ini selesai dibangun pada tahun 2017 dan resmi dibuka pada Ahad, 18 Februari 2018. Masjid tersebut didirikan oleh para BMI (Buruh Migran Indonesia) di sana.

Peresmian Masjid tersebut diselenggarakan oleh FOSPI (Forum Silaturahmi Pelaut Indonesia) Taiwan yang juga dihadiri oleh Kepala KDEI (Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia) Taipei, Robert james Bintaryo, Direktur PTKLN Kemenaker RI, Kapusdatin Kemenaker serta Perwakilan Imigrasi dan Ketenagakerjaan daerah Pingtung.

Masjid Al-Falah Hualien

Masjid ini berada di Jalan Fuji, No. 80, Hualien County. Masjid ini juga menjadi tempat pengajian bagi Majelis Taklim Nurul Iman Hualien (MTNIH).

Masjid Baitul Muslimin

Masjid ini berada di Jalan Nan’an, No. 16, Su’ao Township, Provinsi Yilan, sebelah timur Taiwan. Provinsi Yilan berada di bagian timur Taiwan yang bisa ditempuh menggunakan kereta listrik atau bus. Perjalanan dari Taipei kurang lebih satu jam.

Masjid ini dekat dengan kawasan agrowisata Toucheng Leisure Farm yang berloksi di Jalan Gengxin 125-1, Toucheng Township, Yilan, Taiwan. Lokasinya berada di pegunungan dengan udara sejuk.

Makin banyaknya pemeluk Islam di Taiwan menumbuhkan kebutuhan akan tempat ibadah yang memadai. Jumlah penduduk Muslim di Taiwan kurang lebih hanya berkisar di angka 0,2% saja (sumber: Chinese Muslim Association Taiwan).

Masjid-masjid ini merupakan tempat yang penting bagi Muslim asli Taiwan dan Muslim pendatang untuk beribadah bersama dan bersilaturahim. Selain itu, masjid pun menjadi tempat untuk mengajarkan atau mengkaji agama Islam. Tak jarang, acara akad nikah juga berlangsung di masjid.

Sementara di seputaran masjid di Taiwan biasanya ada banyak toko produk halal atau restoran halal. Kesempatan berkunjung ke masjid biasanya juga sekaligus untuk membeli makanan halal.

Mushola

Mushola di Alishan National Forest Recreation Area. (Foto: Istimewa)

Selain masjid, ada pula mushola-mushola kecil yang didirikan di dekat pabrik tempat para BMI bekerja. Ada sekitar 198.000 BMI yang bekerja di Taiwan. Juga ada mushola di kampus-kampus Taiwan yang memiliki jumlah mahasiswa Muslim yang cukup banyak seperti di NTUST – Taipei, NCU – Zhongli, NCTU – Hsinchu, dan Asia University Taichung.

Taiwan terus mengembangkan ruangan mushola di setiap tempat ruang publik, seperti di stasiun kereta api Taipei, Kaohsiung dan Hualien, stasiun Speed Rail Taichung, Museum Istana Nasional dan pusat pengunjung National Scenic Area.

Alishan National Forest Recreation Area meresmikan ruang mushola pertamanya untuk pengunjung muslim area resor pegunungan di Provinsi Chiayi pada November 2017 lalu.

Dua ruang mushola telah dibuka di area wisata, masing-masing berada di dekat pusat informasi wisata dan di pusat layanan transportasi Alishan utama. Mushola tersebut bukan hanya menjadi yang pertama di area wisata taman nasional di Taiwan, namun juga menjadi yang tertinggi dari atas permukaan laut.

Alishan National Forest Recreation Area berlokasi di ketinggian sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut. (A/R01/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)