Jerman Akui AS Ancam Negara E3 Agar Tuduh Iran Terkait Nuklir

Berlin, MINA – Pemerintah Jerman telah mengkonfirmasi laporan bahwa Amerika Serikat (AS) telah mengancam Jerman, Perancis dan Inggris – negara-negara E3 – dengan memberlakukan 25 persen dari tarif sanksi pada ekspor mobil Eropa jika mereka gagal menuduh Iran melanggar perjanjian nuklir 2015.

Pada Rabu (15/1), Washington Post melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump telah mengeluarkan ancaman pribadi yang mengejutkan terhadap negara-negara E3 hanya sepekan sebelum mereka bersama-sama membahas mekanisme perselisihan kesepakatan, yang merupakan tuduhan bahwa Iran telah melanggar perjanjian demikian Press TV melaporkan.

Kesepakatan nuklir yang secara resmi dikenal dengan nama Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) telah dicapai antara Iran dan lima negara lainnya yaitu AS, Inggris, Perancis, Jerman, Rusia dan Cina pada 2015.

Namun pada Mei 2018, Trump secara sepihak menarik negaranya keluar dari JCPOA dan kemudian menerapkan kembali sanksi yang telah dicabut terhadap Teheran. AS mulai melepaskan sanksi baru yang “paling sulit”, mendesak penandatangan lainnya, khususnya negara-negara E3, untuk menarik diri dari kesepakatan dengan Iran.

Ketiganya tunduk pada permintaan itu dan menolak untuk memenuhi kepentingan bisnis Iran berdasarkan kesepakatan meskipun ada janji sebelumnya.

Selama satu tahun sejak penarikan AS, Iran tetap sepenuhnya mematuhi JCPOA, menunggu penandatangan lainnya untuk memenuhi akhir dari kesepakatan mereka dengan mengimbangi dampak larangan AS pada ekonomi Iran.

Ketika negara-negara E3 gagal memenuhi kesepakatan, Iran pun pada Mei 2019 menangguhkan komitmen JCPOA-nya berdasarkan Pasal 26 dan 36 dari kesepakatan yang mencakup hak-hak hukum Teheran.

Iran kemudian mengambil langkah pengurangan komitmen kelima dan terakhirnya awal bulan ini.

Sehari setelah laporan Washington Post, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengecam negara-negara E3 karena tunduk pada intimidasi Amerika dan menjual “sisa-sisa” JCPOA, yang telah disahkan oleh Dewan Keamanan PBB sebagai resolusi.

Pada Kamis (16/1), Presiden Hassan Rouhani mengatakan, Iran “sekarang memperkaya” uranium lebih banyak daripada sebelum menandatangani JCPOA, karena negara-negara E3 gagal memenuhi komitmen mereka. (T/Us/RI-1)

Mi’raj News Agency (MINA)