Jerman Mulai Program Pelatihan Imam

Berlin, MINA – Jerman untuk pertama kali mengadakan  program pelatihan imam di bawah pimpinan Perguruan Tinggi Islam yang disponsori oleh negara, yang akan berlangsung selama dua tahun.

Pelatihan pertama imam dimulai hari ini, Selasa (15/6), diikuti oleh 20 calon imam, demikian Deutsche Welle Turkish.

Pendidikan yang dimulai di bawah kepemimpinan Islamic College, yang pendirinya termasuk para teolog, ilmuwan, dan aktor penting kehidupan publik termasuk mantan Presiden Jerman Christian Wulff.

Rencana semula pembukaan resmi dimulai pada April tapi akibat pandemi corona, diundur menjadi 15 Juni.

Materi pelajaran yang diberikan di antaranya penyampaian khutbah, pendidikan politik, dan layanan sosial serta spiritual bagi komunitas Muslim.

Jerman sejak lama telah berupaya memutuskan hubungan kelembagaan dan keuangan antara komunitas Muslim setempat dengan asing.

Dalam beberapa tahun terakhir, telah terjadi perdebatan sengit di Jerman tentang kedatangan ulama Muslim dari luar negeri.

Akibatnya ada kekhawatiran bahwa  yang dilatih oleh negara lain, gaji mereka dibayar oleh mereka, kedatangan mereka ke Jerman sebagai pegawai negeri dan melayani komunitas Muslim di sini akan mengakibatkan meluasnya pengaruh Muslim di Jerman dari luar negeri.

Organisasi yang menjadi pusat kritik dalam beberapa tahun terakhir ini adalah Persatuan Agama Islam Turki (DITIB).

Diketahui, lebih dari seribu orang yang bekerja di sekitar seribu masjid DITIB adalah pegawai negeri sipil yang datang ke Jerman setelah mengenyam pendidikan di Turki dan gajinya dibayar dari Turki.

Setelah upaya kudeta 15 Juli oleh Gulen di Turki, diketahui daftar beberapa imam dan mengirimkan nama beberapa anggota Gulen di  Jerman.

Terdapat tiga juta warga Muslim Turki di Jerman.

Hal ini mengakibatkan semakin kerasnya suara  untuk mencegah pengaruh asing dari para pemuka agama dan umat beragama.

Oleh karena itu, pendidikan imam yang diberikan dalam bahasa Jerman di Jerman menjadi fokus perhatian.

Namun, masih belum jelas apakah imam-imam yang akan dilatih di bawah pimpinan Islamic College itu akan diterima oleh jemaah dan apakah mereka akan direkrut.

Mantan Presiden Jerman Christian Wulff yang menjadi anggota Dewan Penasihat Islam College mengatakan, pelatihan tersebut merupakan langkah signifikan sebagai sinyal kepada umat Islam Jerman tentang pengakuan dan kesetaraan.

Sementara salah seorang pendiri Perguruan Tinggi Islam, Prof. dr. Merdan Güneş menyatakan bahwa mereka yang telah menyelesaikan pendidikan  tidak memiliki keleluasaan memilih di mana mereka akan ditugaskan.

“Beberapa dari mereka dapat menjadi imam atau memberikan bimbingan keagamaan spiritual di rumah sakit, penjara, dan lain-lain,” kata Güneş. (T/R6/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)