Jerman Sepakat Batasi Jumlah Pengungsi

Kanselir Jerman Angela Merkel . (Foto: dok. Dhaka Tribune)

Jerman, MINA – Kanselir Jerman Angela Merkel mengkonfirmasi kesepakatan untuk membatasi jumlah pengungsi yang masuk ke negara itu tiap tahunnya. Langkah itu sebagai konsesi selama perundingan pembentukan koalisi ‘Jamaika’.

Partai konservatif Jerman menyepakati undang-undang yang membatasi jumlah pengungsi yang dizinkan memasuki Jerman setiap tahunnya, independent.co.uk melaporkan, Senin (9/10).

Partai Angela Merkel, CDU, dan Uni Sosial Kristen (CSU), menetapkan angka 200.000 pengungsi per tahun. Namun, jumlah tersebut bisa ditambah atau dikurangi oleh parlemen tergantung dari masa depan krisis pengungsi.

Merkel, yang telah membuka perbatasan Jerman dengan orang-orang yang melarikan diri dari peperangan di Timur Tengah dan Afrika, membuat konsesi tersebut untuk mendapatkan dukungan dari partai daerah Bavaria, CSU.

CSU lebih konservatif daripada rekannya di daerah-daerah lain di Jerman dan telah menuntut Kanselir Merkel supaya mengambil tindakan sayap kanan jika ingin mendapatkan dukungan mereka.

Perubahan kebijakan terjadi setelah partai nasionalis radikal yang antipengungsi dan anti-Islam, AfD, meraih hasil baik dalam pemilihan federal Jerman bulan lalu. AfD mengamankan tempat ketiga dan menjadi partai sayap kanan pertama yang memasuki Bundestag (parlemen) dalam setengah abad.

Merkel pada awalnya menolak adanya pembatasan penerimaaan tahunan. Kompromi ini dianggap sebagai upaya CDU untuk memulai pembicaraan koalisi dengan partai Hijau dan Partai Liberal FDP. Pembicaraan tersebut akan dimulai 18 Oktober mendatang.

Partai Hijau telah menyatakan penolakan kesepakatan CDU/CSU tentang pembatasan penerimaan pengungsi. Cem Özdemir. Seperti dilansir Deutsche Welle, pemimpin Partai Hijau menegaskan, “Kompromi tersebut tidak akan muncul dalam kesepakatan koalisi.”

Partai Hijau ingin proses yang cepat dan adil bagi para pendatang baru di Jerman dan undang-undang imigrasi dengan aturan serta kriteria yang jelas.

Koalisi CDU, FDP, dan Partai Hijau juga disebut sebagai koalisi ‘Jamaika’ (hitam-kuning-hijau). Dari kubu kiri di Jerman,  Partai Hijau memang yang paling mungkin  mengajukan diri menjadi mitra koalisi bagi kubu konservatif.

Setidaknya Partai Hijau paling sedikit mengganggu agenda probisnis kalangan konservatif. Karena pemilih tradisional Partai Hijau tidak berasal dari kelas pekerja.

Meskipun koalisi ‘Jamaika’ belum pernah terbentuk secara nasional – komposisi ini pernah ada di negara bagian Saarland dari tahun 2009 sampai 2012 – dan di sejumlah parlemen lokal. Koalisi ini juga sering jadi bahan pembicaraan sebagai sebuah alternatif. (T/R11/RS3)

Mi’raj News Agency (MINA)