Jihad Islam Siap Berpartisipasi dalam Pemilu Palestina

Gaza, MINA – Anggota Biro Politik Jihad Islam di Palestina Mohammed Al-Hindi mengumumkan, gerakannya siap untuk mengambil bagian dalam pemilihan umum (pemilu) Dewan Nasional Palestina.

Berbicara kepada TV Al-Mayadeen yang berbasis di Beirut, Al-Hindi menegaskan, pemilu kali ini “harus” ditujukan untuk merekonstruksi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) sebagai “organisasi pembebasan bukan sebagai organisasi yang tunduk”, MEMO melaporkan.

Dia menekankan, awal dari mengakhiri divisi internal Palestina adalah persatuan melawan pendudukan Israel.

Dia juga menekankan pentingnya memutus hubungan dan menghentikan kemitraan dengan “Zionis”, menegaskan kembali pentingnya: “Aktivitas populer dan perselisihan dengan musuh di Tepi Barat sebagai sarana untuk menghidupkan kembali semangat bagi rakyat Palestina”.

Ia juga menegaskan, normalisasi hubungan Arab dengan Israel, kesepakatan abad ini dan rencana aneksasi Israel membuktikan bahwa ketergantungan pada kemitraan dengan Zionis adalah salah.

Al-Hindi juga mendesak agar PLO harus menjadi rujukan Otoritas Palestina (PA), bukan sebaliknya, dan karena PLO menjadi “payung bagi seluruh rakyat Palestina”, maka harus menentukan semua kebijakan.

Pemimpin Jihad Islam menegaskan bahwa dialog yang sedang berlangsung antara Fatah dan Hamas merupakan faktor dasar dan pendukung untuk setiap upaya yang bertujuan untuk mendapatkan kembali persatuan Palestina.

Dua faksi terbesar Palestina, Fatah dan Hamas sepakat untuk mengadakan pemilu pertama di Palestina setelah pemilu terakhir hampir 15 tahun lalu.

Pemungutan suara dijadwalkan dalam enam bulan ke depan,  di bawah kesepakatan Pemimpin Otoritas Palestina (PA) Mahmoud Abbas dan Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniya.

kesepakatan itu dicapai dalam pertemuan yang diadakan di Istanbul, Turki, setelah Abbas meminta Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan  mendukung upaya rekonsiliasi Palestina dalam upaya menyatukan barisan Palestina menghadapi rencana Timur Tengah AS dan  normalisasi antara dua negara Arab – Uni Emirat Arab dan Bahrain dengan Israel. (T/R7/R1)

Mi’raj News Agency (MINA)